Jayapura, Jubi – Film dokumenter Pesta Babi – Kolonialisme di zaman kita, diputar 17 kali di sejumlah negara Eropa selama tur advokasi yang berlangsung pada 4 September hingga 14 Oktober 2026.
Pemutaran film ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat internasional mengenai situasi hak asasi manusia (HAM), lingkungan hidup, dan persoalan masyarakat adat di Tanah Papua.
Tur advokasi itu melibatkan lima orang Papua pembela HAM. Merek mengunjungi sejumlah negara Eropa, yakni Belanda, Belgia, Swiss, Jerman, Prancis, Inggris, Irlandia Utara, dan Irlandia.
Selain memperkenalkan situasi di Tanah Papua kepada masyarakat internasional, agenda ini juga bertujuan membangun kapasitas advokasi para aktivis muda Papua yang difasilitasi PBI.
Film Pesta Babi – Kolonialisme di zaman kita, mendapat sambutan positif di sejumlah lokasi pemutaran. Di Deventer, Belanda, film tersebut disaksikan sekitar 100 penonton.
Pemutaran serupa juga digelar di Brussel, Belgia. Sejumlah penonton mengaku terkejut dan berterima kasih karena film itu membuka wawasan mereka mengenai situasi di Tanah Papua melalui cerita yang disampaikan.
Setelah pemutaran film, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab mengenai situasi Tanah Papua yang diangkat dalam film.
Sejumlah penonton juga menanyakan bentuk dukungan yang dapat diberikan untuk membantu masyarakat Papua.
Pemutaran berikutnya berlangsung di Jenewa, Swiss, pada 25 September 2026 dengan sekitar 50 penonton. Dua hari kemudian, pada 27 September 2026, film yang sama diputar di Sheffield, Inggris, dan disaksikan sekitar 30 orang.
Di kedua lokasi tersebut, penonton memberikan respons positif. Sebagian di antaranya mengaku baru mengetahui lebih jauh mengenai situasi di Papua melalui informasi dan cerita yang disampaikan dalam film dokumenter tersebut.
Pada 28 September 2026, Pesta Babi – Kolonialisme di zaman kita, diputar di St Cross College, University of Oxford, Inggris, dihadiri 26 orang.
Sebelum pemutaran film dimulai, acara diawali dengan sebuah Wor. Wor memiliki dua makna, yang pertama Wor sebagai upacara adat, kemudian kedua Wor juga sebagai nyanyian adat.
Wor memiliki arti yang mana di dalamnya ada nilai budaya yang mengikat manusia dan berfungsi mengatur hubungan manusia dengan pencipta, alam raya, lingkungan tempat tinggal. Nyanyian ini dilakukan di setiap pemutaran Film Pesta Babi.
Sejumlah penonton mengaku baru mengetahui situasi yang terjadi di Papua melalui film tersebut.
Mereka juga menyampaikan apresiasi karena film ini menghadirkan cerita mengenai Papua dengan pendekatan yang dinilai unik dan menarik.
Setelah pemutaran, penonton menuliskan pesan-pesan solidaritas yang kemudian ditempelkan pada sebuah instalasi berbentuk tifa, yang disebut Kandara dalam bahasa Malind. Instalasi itu menjadi simbol dukungan bagi masyarakat Papua.
Sehari kemudian, pada 29 September 2026, film tersebut diputar di Queen Mary University of London. Sekitar 33 orang hadir menyaksikan film dokumenter itu.
Sejumlah penonton mengaku terkejut setelah mengetahui situasi di Papua sebagaimana digambarkan dalam film.
Agenda kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab mengenai isi film, kondisi masyarakat Papua, serta berbagai persoalan yang menjadi latar belakang cerita.
Memasuki Oktober 2026, pemutaran film berlanjut ke Irlandia Utara. Pada 6 Oktober, film tersebut diputar di Ulster University, Belfast, dan disaksikan lebih dari 90 orang yang terdiri atas mahasiswa dan dosen serta masyarakat sipil.
Sebagian besar penonton merupakan anak muda. Bagi sejumlah peserta, pemutaran tersebut menjadi kesempatan pertama untuk mengenal lebih jauh tentang Tanah Papua, khususnya masalah masyarakat adat, konflik, dan berbagai masalah sosial yang dihadapi masyarakat di wilayah tersebut.
Pada 7 Oktober 2026, pemutaran film dilanjutkan di Museum of Free Derry, Irlandia Utara, dengan sekitar 10 penonton.
Sejumlah penonton mengaku terkejut karena baru mengetahui situasi Papua setelah menyaksikan film tersebut.
Mereka memperoleh gambaran mengenai konflik yang berdampak pada pengungsian masyarakat serta persoalan perampasan tanah adat dalam skala besar, termasuk yang terjadi di Provinsi Papua Selatan.
Sejumlah penonton juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih karena film tersebut telah diputar di Derry.
Bagi para penonton, pemutaran film ini menjadi ruang untuk mengenal Papua dan memahami persoalan yang dihadapi masyarakat Papua.
Film dokumenter tersebut sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat internasional untuk mendiskusikan isu Papua secara langsung.
Selain pemutaran film dan diskusi, pesan solidaritas menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Di setiap lokasi pemutaran, penonton diajak menuliskan dukungan bagi masyarakat Papua, khususnya masyarakat Papua Selatan yang menghadapi ancaman perampasan tanah adat untuk kepentingan Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Greetings, people of West Papua! Your resistance and defence of your home is not unseen. People around the world know of your struggles and many of us would be proud to help in any way. Personally, my family are too familiar with land theft. As such, the West Papua struggle resonates deeply. As a descendant of Minidoka, I stand with you,” Reed Shuske Wada, Seattle, USA (written from Belfast, N. Ireland)
“To all our Papuan friends, We are sending love and solidarity from Ireland. We see you, we stand with you, we will be watching you and praying for you. Thank you for sharing your story, your family to see us and to share your story. We send you love,”
Pesan-pesan itu ditulis pada potongan kertas, kemudian ditempelkan pada tifa yang digambarkan di atas kulit kayu. Kulit kayu yang digambarkan tifa tersebut menjadi ruang bagi penonton untuk menyampaikan dukungan sekaligus harapan kepada masyarakat Papua yang sedang memperjuangkan hak-haknya.
“Thank you for documenting the situation with so much courage and for looking after the land and nature for all of us. I really hope we change and that if the damage can’t be undone, at least more of it can be stopped. It is heartbreaking, illogical and self-destructive for them to continue when it leads to more failure and does actually not help at all neither with food nor with energy. I wish you all the best, in gathering support internationally and locally, in making the issues more visible to the world and in channelling effort to turn the situation around.”
A heartfelt thank you for all that you do and the collective and personal risk that you take on for a struggle that affects us all,” katanya dalam pesan solidaritasnya Jasmin Negru
Masih banyak tulisan-tulisan yang terkumpul menyampaikan pesan bahwa masyarakat Papua tidak berjuang sendirian.
Dukungan dari berbagai kalangan, termasuk masyarakat internasional, menjadi bentuk solidaritas terhadap perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan tanah dan ruang hidup mereka.
Melalui rangkaian pemutaran film di berbagai kota di Eropa dan Inggris, Pesta Babi – Kolonialisme di zaman kita, tidak hanya menjadi media untuk memperkenalkan situasi Papua, juga membuka ruang dialog mengenai HAM, lingkungan hidup, konflik, pengungsian, dan hak masyarakat adat.
Rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat memperluas perhatian masyarakat internasional terhadap situasi di Tanah Papua, serta memperkuat solidaritas bagi masyarakat yang tengah memperjuangkan hak atas tanah adat dan lingkungan hidup masyarakat adat. (*)




Discussion about this post