Jayapura, Jubi – Suku Ainu adalah kelompok etnis pribumi yang mendiami Pulau Hokkaido di Jepang utara, dan juga wilayah sekitar Pulau Sakhalin dan Kepulauan Kuril. Sedangkan kata “Ainu” berarti “manusia”.
Mereka memiliki ciri fisik, bahasa, dan budaya yang sangat berbeda dari etnis mayoritas Jepang (Yamato). Suku Ainu hidup sebagai orang asing di Jepang, dan pemerintah baru mengakui keberadaan mereka sebagai penduduk asli di negara Sakura itu pada 2008.
Salah seorang guru asal Jepang dalam sebuah diskusi dengan pihak Jubi di Jayapura, Provinsi Papua belum lama ini mengatakan, ada kemiripan antara orang Ainu dan orang Papua dalam film Pesta Babi.
Menurutnya, keberadaan suku Ainu di Jepang sangat terkenal dengan ritus adat beruang dan mereka sangat menghormati binatang beruang.
Dalam diskusi itu pun, terungkap bahwa para guru asal Jepang yang berkunjung ke Kota Jayapura sudah pernah menyaksikan Pesta Babi yang diputar di Tokyo Jepang, oleh mahasiswa Indonesia (Persatuan Pelajar Indonesia/PPI) di Jepang, Universitas Tokyo dan Universitas Katolik Sophia.
Tak heran apabila mereka menilai ada kesamaan antara Suku Ainu di Jepang dan Suku Muyu dalam Pesta Babi yang melaksanakan tradisi Awon Atatbon, ritual adat suku Muyu yang melibatkan babi sebagai simbol kehidupan sosial dan budaya. Tanpa hutan, tidak ada babi. Tanpa babi, tidak ada pesta dan pada akhirnya, yang hilang identitas itu sendiri.
Kata mereka, suku Ainu dikenal sangat menghormati beruang. Mereka menganggap beruang adalah bentuk penyamaran dewa gunung di Bumi.
“Beruang juga dianggap dapat memberikan banyak manfaat, dagingnya bisa dimakan, bulu untuk pakaian, dan tulang digunakan membuat peralatan rumah. Suku Ainu juga terancam hilang di atas tanah leluhur dan pemerintah Jepang baru mengakui keberadaannya,” ucap para guru itu saat berdiskusi.
Selain itu, para guru juga menyinggung soal kasus Pangkalan Amerika Serikat di Okinawa, di mana kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat (AS) telah memicu ketegangan panjang dengan penduduk asli Ryukyu.
Sekira 70 persen fasilitas militer AS di Jepang terkonsentrasi di Okinawa yang mencakup seperlima wilayah pulau, sehingga menimbulkan masalah sosial, lingkungan, dan tuntutan pengurangan atau relokasi pangkalan yang terus disuarakan warga asli di sana.
Para guru asal Jepang itu menanyakan mengenai hak-hak adat dari suku di Papua khususnya dalam film Pesta Babi.
CEO Jubi, Victor C Mambor pun menjelaskan bahwa sebenarnya Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Masyarakat Adat di Indonesia telah melalui proses panjang selama belasan tahun dan sudah masuk dalam prioritas pembahasan di DPR RI.
“Tetapi sampai sekarang belum disahkan oleh DPR RI. RUU ini bertujuan memberikan pengakuan, perlindungan hukum, serta kepastian hak atas wilayah komunal dan tanah ulayat bagi masyarakat hukum adat,” kata Mambor.
Tradisi Awon Atatbon atau Pesta Babi Suku Muyu di pedalaman Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan, perbatasan Republik Indonesia dan Papua Nugini (RI-PNG) dilaksanakan setelah persiapan 10 tahun.
Masa persiapan ritual itu sangat lama, sebab Suku Muyu harus menunggu babi babi muda yang hidup liar di hutan, tumbuh hingga besar dan siap disajikan dalam Pesta Babi.
“Babi-babi itu, bukan babi pelihara di kandang. Tetapi babi yang hidup liar di hutan,” ucap Mambor yang menyaksikan langsung Pesta Babi Suku Muyu.
Sementara itu, Suku Ainu di Jepang setiap musim semi, melakukan ritual pengorbanan beruang yang disebut Iyomante. Untuk mendapatkan beruang, mereka akan memburunya.
Meski begitu, beruang yang dikorbankan tidak boleh sembarang. Harus berupa anak beruang beserta induknya. Induk betina akan dikorbankan terlebih dahulu, di mana rohnya akan dikirim ke dewa-dewa dalam upacara khusus.
Sedangkan anak beruang, dirawat dan dibesarkan oleh suku Ainu selama dua tahun sebelum dikorbankan. Penduduk Ainu akan memperlakukan anak beruang seperti darah daging sendiri. Bahkan lebih baik, karena anak beruang dianggap sebagai dewa.
Ironinya tradisi yang sudah ada sejak abad ke-20 ini pernah dilarang oleh Pemerintah Jepang pada awal 1960-an. Meski begitu, suku Ainu tetap memuja dan menyembah beruang meski tanpa ritual membunuh beruang.
Pesta Babi dalam film telah memberikan gambaran bahwa ada hutan dan lingkungan yang hilang, serta masyarakat adat sulit berburu lagi. Hutan hilang dan tak ada lagi perburuan babi, identitas pun bisa lenyap. (*)




Discussion about this post