Jayapura, Jubi – Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) merilis laporan pemantauan terkait dugaan penyisiran, teror, interogasi, penganiayaan terhadap seorang penyandang disabilitas, serta perampasan barang milik korban, di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan pada 7-8 Oktober 2026.
Dalam laporannya, YKKMP menyatakan penyisiran terjadi di Distrik Telenggeme, Kembu, Gundagi, dan Umagi, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan.
Laporan tersebut disampaikan YKKMP dalam siaran persnya yang ditandatangani Direktur Eksekutif YKKMP, Theo Hesegem, Kamis (22/10/2026).
Dalam laporannya, YKKMP menyatakan aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI) non-organik melewati gunung menuju ke daerah Kembu pada 7 Oktober 2026 pukul 04:00 WP (Waktu Papua).
Salah seorang saksi mata yang merupakan tokoh masyarakat di sana menurut YKKMP, menjelaskan bahwa ia bertemu sekira 15 amggota TNI saat hendak pulang ke rumahnya setelah memberi makan ternak.
Ketika itu ada 9 orang yang menahannya dan bertanya
tentang identitasnya. Ia kemudian memberitahu namanya dan menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Setelah saksi menunjukkan identitasnya, para prajurit TNI itu kemudian menyampaikan bahwa mereka datang mengawal beras miskin (raskin) dari Presiden untuk masyarakat.
Saksi kemudian menjawab, ia akan menunggu para prajurit TNI itu karena dirinya juga salah satu tokoh di Kembu. Ia kemudian melanjutkan perjalanan pulang.
YKKMP menyatakan, dari keterangan saksi, para prajurit TNI non-organik itu memasuki wilayah Distrik Gundagi pada 8 Oktober 2026 pukul 01:00 WP.
Mereka mendobrak salah satu pintu rumah milik seorang tunanetra atau penyandang disabilitas dan stroke pada bagian kedua kaki selama 26 tahun, berinisial NW yang sedang terbaring di tempat tidur.
Meski dengan kondisi fisik seperti itu, ia adalah salah satu orang yang sangat dibutuhkan selama ini oleh masyarakat Daerah Mamit dan Tolikara umum karena keahliannya di bidang perbengkelan.
Orang-orang dari berbagai tempat di daerah Tolikara datang membawa mesin sensor kayu, mesin babat rumput, senapan angin dan banyak alat-alat lainnya ke rumahnya karena keahliannya.
Kesehariannya, NW memperbaiki alat-alat elektronik seperti radio/tape atau speaker, diesel/genset, pemasangan kabel atau kelistrikan.
Ia juga membantu menghidupkan listrik tenaga air di daerah Kembu yang dipercayakan oleh salah satu misionaris yakni Weshley di Mamit
Saat aparat TNI masuk ke rumahnya, NW mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerahkan karena sebelumnya ia telah mendengar informasi tentang kehadiran TNI.
“Mereka masuk ke dalam dan langsung mendobrak dua pintu kamar dan satu kamar mandi. Setelah TNI masuk ke kedua kamar dan kamar mandi yang tidak digunakan selama ini, mereka mengambil semua barang-barang yang berisi dalam tas,” tulis YKKMP dalam laporannya.
Katanya, korban kemudian menjelaskan bahwa barang-barang yang diambil itu adalah dokumen-dokumen perusahaan milik kakaknya.
Kepada NW para anggota TNI itu kemudian menanyakan tentang Botak Wanimbo dan keberadaannya. Salah satu anggota TNI disebut bertanya kepada korban sambil memukul dahi korban empat kali menggunakan obeng berukuran besar.
Salah satu anggota TNI lainnya dilaporkan mengambil karet fan van belt (V-belt) dan memukul bagian belakang korban tiga kali.
Setelah itu mereka mengambil barang-barangnya seperti senapan angin milik masyarakat yang telah diperkaiki korban, beberapa alat senapan angin yang telah dibongkar, Kartu Keluarga, KTP, telepon genggam dan buku rekening miliknya.
Dalam laporannya, YKKMP menjelaskan, saat masuk ke dalam rumah NW, ada beberapa orang lain di dalam rumah itu. Seorang kakek yang merupakan hamba Tuhan berusia lebih dari 72 tahun bersama 2 perempuan dewasa dan 4 anak-anaknya.
“Namun pandangan anggota TNI yang masuk tertuju pada seorang kakek yang adalah ayah dari seorang penyandang disabilitas itu. Ia ditodong senjata laras panjang oleh 3 orang anggota TNI. Sambil menodong senjata ia dipaksa mengaku tentang Botak Wanimbo serta keberadaannya.”
Mereka kemudian menyuruhnya meletakkan tangan di lantai dan menikam menggunakan pisau. Akan tetapi, saat pisau dijatuhkan, kakek itu menarik tangannya sehingga pisau itu tidak mengenainya.
Ia kemudian dibawa keluar dari rumah tradisional (honai) sambil menutup kedua matanya menggunakan kain. Sambil memutari halaman gereja aparat TNI secara bergantian terus bertanya kepadanya tentang hal yang sama.
YKKMP mengatakan, pukul 02:00 WP, aparat TNI juga mendatangi rumah-rumah di sekitar Sekolah SD Negeri Woraga dan menyuruh warga keluar satu per satu.
Katanya, di sana ada salah satu orang yang dapat berbahasa Indonesia dengan baik, sehingga aparat TNI menanyakan informasi tentang Botak Wanimbo dan keberadaannya kepada warga itu.
Namun karena menjawab tidak tahu, ia bersama sekira 20 orang di sana, disuruh turun ke halaman Gereja GIDI Moria.
Saksi itu juga menjelaskan bahwa ada beberapa pemuda termasuk dirinya dibawa keluar satu per satu dan diinterogasi oleh aparat TNI tentang Botak Wanimbo, TPNPB-OPM termasuk informasi mengenai keberadaan mereka. Namun mereka menjawab tidak tahu.
Pada 8 Oktober 2026 pukul 06:00 WP, ketika istri Gembala GIDI Jemaat Moria sedang mempersiapkan bekal anaknya untuk pergi ke sekolah, tiba-tiba ada bunyi sepatu dan ketukan pintu.
Ia membuka pintu dan melihat 3 orang TNI. Mereka menghampirinya lalu bertanya tentang asal daerah ibu itu karena ia berambut lurus dan kulit putih. Mereka juga menanyakan tentang suaminya.
Tetapi ia mengatakan suaminya sedang doa. Mereka memaksanya untuk pergi memanggil. Meski telah menolak memanggil suaminya beberapa kali, karena semakin ditekan, ia akhirnya memanggil suaminya yang sedang berdoa di Pondok Doa.
Ketika diberitahu tentang hal itu oleh istrinya, gembala itu pergi ke rumah melalui jalan belakang yang banyak pepohonan. Tetapi di sana sudah ada aparat TNI. Ia ditangkap dan diinterogasi tentang keberadaan Botak Wanimbo dan kelompoknya serta keberadaannya.
Namun Gembala tersebut memberikan penjelasan tentang dirinya dan statusnya sebagai hamba Tuhan dan gembala umat di GIDI Jemaat Moria.
Ia menjelaskan tentang latar belakangnya yang telah merantau di Pulau Jawa dan Kalimantan. Ia juga mengaku bahwa tentang kedatangan TNI telah diketahuinya sebelum mereka datang.
Setelah dikumpulkan di dalam gedung gereja, beberapa ibu-ibu mencari makanan dan buah-buahan.
Selain itu jemaat menyiapkan kopi untuk aparat TNI non-organik tersebut. Sambil makan dan minum mereka menelepon kepada sopir yang sebelumnya mengantar mereka.
YKKMP mengatakan, gembala setempat menerangkan bahwa TNI menggunakan 3 truk sipil dan 2 dua mobil jenis triton milik sipil. Para sopir truk yang mengangkut TNI non-organik tersebut menggunakan pakaian sipil. Mereka kembali sekitar pukul 11:00 WP.
Menyikapi situasi yang disebut sebagai Operasi Militer di Kabupaten Tolikara, YKKMP mendesak Negara Republik Indonesia segera membuka akses wartawan dan jurnalis asing untuk masuk ke Tanah Papua dalam rangka meliput situasi hak asasi manusia secara utuh.
Perserikatan Bangsa-Bangsa segera membentuk tim investigasi melalui prosedur khusus PBB dalam rangka mengidentifikasi akar persoalan di Tanah Papua.
Pemerintah Indonesia segera membuka diri terhadap kunjungan Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengunjungi Papua yang menjadi korban kekerasan pelanggaran HAM.
Negara Republik Indonesia untuk segera membuka ruang untuk dialog damai antara United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) sebagai payung politik kelompok pro Papua Merdeka.
Komandan Satuan Tugas Habema yang bertugas di Tolikara sejak tanggal 6-8 Oktober 2026 untuk segera mengembalikan barang-barang milik masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Tolikara untuk segera mengambil langkah dalam pemulihan psikologi dan kerugian material pasca operasi militer di Distrik Telenggeme, Kembu, Gundagi dan Umagi. (*)























Discussion about this post