Jayapura, Jubi – Warga Kabupaten Biak Numfor, Papua baru saja dikejutkan dengan ledakan bom yang terjadi pada Minggu 31 Mei pukul 14.45 WIT. Ledakan itu bersumber dari bom yang diduga peninggalan Perang Dunia II pada 1944.
CCTV milik pelabuhan laut Biak, merekam dengan jelas kobaran api, kepulan asap, dan ledakan yang menggelegar siang itu.
Bom yang diduga sisa Perang Dunia II meledak di Kompleks Perikanan, Jalan Wolter Monginsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota Provinsi Papua.
Insiden tersebut menewaskan 6 warga, 19 warga dirawat di rumah sakit, merusak sedikitnya 10 rumah, 55 kepala keluarga mengungsi, serta disorot oleh media internasional seperti kantor berita Prancis, AFP.
Kejadian bermula ketika warga berusaha memotong benda berbahaya tersebut untuk diambil bubuk mesiu yang diduga akan dipakai sebagai bahan peledak ikan.
Namun, gesekan dari gergaji memicu panas yang menyulut mesiu hingga terjadi ledakan dahsyat. Sedikitnya 10 rumah warga mengalami kerusakan, beberapa di antaranya hancur rata dengan tanah.
Dulu pada era 1980 an, di Tanah Papua khususnya di Kota Biak dan Kota Jayapura banyak nelayan diduga menggunakan bom peninggalan Perang Dunia II, untuk mencari ikan di perairan laut di Teluk Humboltd atau Teluk Yos Sudarso maupun perairan Kabupaten Biak Numfor.
“Iya benar di era itu banyak orang mencari bom sehingga Kolonel Polisi( sekarang Kombes Pol) alm Amandus Mansnembra bilang para ahli di Amerika belajar bikin bom bertahun tahun dan sangat hati hati, tetapi di sini (Papua) dorang hanya bermodal gergaji dan martelu bisa membongkar bom peninggalan Perang Dunia Kedua milik Jepang dan Amerika Serikat,” kata Septinus warga Dok V Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua kepada Jubi, Rabu (3/6/2026).
Seraya bercanda ia mengatakan, bahkan warga sudah tahu cara membongkar bom. Apabila membuka bom buatan Jepang harus diputar ke kiri, sedangkan bom buatan Amerika cukup digergaji.
“Peristiwa ledakan bom sisa perang dunia kedua juga pernah terjadi di Kota Jayapura, di mana banyak anak-anak di Bhayangkara terkena ledakan bom di Dok II depan Kantor Gubernur Papua di era 1980 an,” ujarnya.
Katanya, salah satu mantan penjaga gawang Persipura, Elly Tiba mengalami cacat kaki, meski ia masih bisa berjalan.
Menurutnya, pada era 1980 an, di depan Kantor Gubernur Provinsi Papua terdapat sebuah kapal karam mirip amphibi yang tinggal menjadi besi tua.
“Biasanya anak anak dari Dok V maupun dari Bhayangkara bermain dan mandi di kapal karam sisa peninggalan Perang Dunia II,” katanya.
Suatu hari yang naas, anak-anak dari Bhayangkara terkena ledakan bom, maklum waktu itu seorang warga sedang menggergaji bom di dalam kapal yang karam tersebut.
Namun bom itu tiba-tiba meledak dan anak-anak dari kompleks Bhayangkara menjadi korban. Peristiwa ini termasuk terbesar karena banyak anak-anak banyak terluka.
Salah satu lokasi di Argapura pantai, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura dijuluki Kampung Vietnam karena diduga sebagai lokasi yang banyak memakai bahan peledak pada waktu lalu.
Bahkan banyak nelayan di sana, yang kakinya buntung atau tangannya hilang akibat terkena ledakan bom ikan. Bom ikan itu mereka rakitan sendiri dari belerang atau bubuk ledak. Ada juga yang dikenal dengan nama dopis.
Atlet renang paralimpic Papua, Marinus Melianus Yowei juga pernah mengalami peristiwa naas terkena ledakan bom. Saat itu ia hendak melempar bom ikan ke laut. Namun ia terlambat melemparkan bom tersebut, hingga dirinya terkenda ledakan bersama beberapa rekannya.
Kasus bom ikan yang meledak, juga pernah terjadi di Distrik Abepura Kota Jayapura pada April 2025. Seorang pria bernama Agus (44 tahun) tewas ketika bom ikan (dopis) yang sedang dirakitnya di dalam rumah tiba-tiba meledak. Kejadian itu juga dipicu oleh bahan dasar bom yang menggunakan mortir.
Sebelumnya di kawasan Abepantai, Distrik Abepura, warga bernama Terry Wamuar (47 tahun) meninggal dunia setelah terkena ledakan bom ikan yang sedang ia rakit sendiri pada Maret 2017.
Kasus serupa juga pernah terjadi di pantai rekreasi Base G, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura Papua dan menewaskan pembawanya Yeremias Wanggai pada 12 Desember 2007.
Putra Yeremias bernama Manas Wanggai yang berusia 15 tahun menderita luka serius di sekujur tubuhnya. Manas Wanggai sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura. (*)


























Discussion about this post