Jayapura, Jubi – Peringatan World Press Freedom Day (Kebebasan Pers Sedunia) yang diselenggarakan di Kota Jayapura, Papua pada 4-5 Mei 2026, secara resmi ditutup, Selasa (5/5/2026).
Ketua Panitia, Jean Bisay mengatakan peringatan World Press Freedom Day tahun ini telah selesai. Selama dua hari kegiatan begitu padat diisi dengan seminar, workshop, talk show dan pelatihan. Namun para peserta tetap antusias mengikuti setiap sesi.
“Secara keseluruhan ivent ini terselenggara dengan sukses. Saya menyampaikan terimakasih kepada para pihak. Pemerintah Provinsi Papua, para narasumber dari Kodam XVll Cenderawasih, insan pers, organisasi pers, teman-teman moderator dan teman-teman peserta dari mahasiswa, pelajar, masyarakat dan para jurnalis semua,” kata Jean Bisay usai kegiatan.
Menurut Pemimpin Redaksi Jubi itu, pelajar dan mahasiswa sangat bersemangat mengikuti setiap sesi. Antusias itu terlihat dari kehadiran dan keterlibatan mereka dalam setiap sesi.
“Mahasiswa dan pelajar juga mengapresiasi kegiatan ini. Mereka sempat minta buat kegiatan lagi kedepan. Akhirnya dari penutupan, ada deklarasi yang disampaikan terkait pers berkualitas untuk masa depan Indonesia yang damai dan adil,” ucapnya.
Katanya, deklarasi ini tidak hanya menjadi slogan. Akan tetapi menjadi penyemangat dan stamina para jurnalis di seluruh Indonesia, khususnya jurnalis di Tanah Papua.
Koordinator bidang pelatihan dan program Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB), Sasmito Madrim mengapresiasi pelaksanaan peringatan World Press Freedom Day itu.
Katanya, pesan yang ingin disampaikan sesuai tema tahun ini “Pers Berkualitas untuk Masa Depan Indonesia yang Damai dan Adil”.
“Harapannya ini tidak selesai diperingatan WPFD saja, tapi berbagai rekomendasi terkait kebebasan pers, keberlanjutan media, termasuk terkait dengan perdamaian bisa ditindaklanjuti oleh kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, juga teman-teman komunitas pers di Papua dan di wilayah lainnya,” kata Sasmito Madrim.
Sasmito mengatakan, pihaknya juga telah mendeklarasikan mengenai keberlanjutan media, karena media hari ini sedang mengalami krisis. Pendapatannya menurun, dan terjadi PHK di mana-mana.
Menurutnya, keberlanjutan media itu bisa ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan. Semisal kebijakan yang konkret soal pajak free text for journalism, artinya nol pajak untuk produk-produk jurnalistik.
“Karena itu menjadi barang publik, juga terkait kerjasama dengan perusahaan platform digital. Kita sebenarnya menunggu juga dari teman-teman perusahaan pers untuk bekerjasama dengan platform digital, kalau misalkan mengalami kesulitan bisa lapor ke komite,” ujarnya.
Dalam peringatan World Press Freedom Day ini lanjut Sasmito pihak TNI, Polri, dan pemprov berkomitmen mendorong kebebasan atau kemerdekaan pers.
“Karena itu perlu ditindaklanjuti, terutama untuk kasus-kasus yang mungkin belum selesai. Semisal kasus bom (di Kantor Redaksi) Jubi yang belum [tuntas] dan sebagainya, itu juga bisa ditindaklanjutin. Jangan berhenti di forum atau peringatan World Press Freedom Day ini, tapi ditindaklanjutin supaya ada perubahan yang lebih baik,” ucapnya. (*)




Discussion about this post