Perempuan Papua serukan perlawanan terhadap kekerasan militer di Tanah Papua

Penulis: Aida Ulim
Editor: Arjuna Pademme

Jayapura, Jubi – Perempuan Papua yang hadir saat mimbar bebas yang gelar Ikatan Pelajar Mahasiswa Dogiyai, menyuarakan perlawanan terhadap kekejaman dan kekerasan yang dialami perempuan dan anak-anak di Tanah Papua.

Aksi mimbar bebas itu digelar di kawasan Lingkaran Abepura, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Senin (11/5/2026).

Aktivis perempuan, Vero Hubi dalam orasinya mengatakan, militer Indonesia telah melakukan berbagai tindakan kekerasan terhadap warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.

“Saya mewakili perempuan Papua yang menjadi korban kekerasan, pengusiran, dan kehilangan anggota keluarga akibat konflik berkepanjangan di [Tanah] Papua. Kondisi perempuan Papua saat ini sangat memprihatinkan karena hidup dalam ketakutan dan tekanan,” kata Vero Hubi.

“Kami tidak akan diam lagi, sudah cukup perempuan Papua menangis dan mengalami penderitaan panjang,” ucapnya lagi.

Ia juga mengatakan, kondisi pengungsi internal di sejumlah wilayah konflik di Tanah Papua, khususnya perempuan dan anak-anak, kehilangan tempat tinggal karena rumah masyarakat dijadikan pos aparat keamanan.

Selain itu, ada kaum perempuan terluka akibat ledakan bom saat berusaha menyelamatkan anak-anaknya.

BERITATERKAIT

Katanya, ia bersama perempuan di seluruh Tanah Papua akan terus melawan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak.

Ia juga meminta kepada lembaga perlindungan perempuan dan anak, untuk melakukan investigasi terhadap dugaan pelanggaran HAM yang terjadi di Tanah Papua

“Kami mendesak agar hasil investigasi disampaikan secara terbuka kepada publik dan meminta adanya keadilan bagi para korban,” ujarnya.

Perempuan Papua lainnya, Yustina Butu mengatakan, apa yang ia rasakan sebagai perempuan Papua, atas berbagai kasus yang telah terjadi di Tanah Papua, khususnya yang dialaminya sebagai mahasiswa Dogiyai di Jayapura.

“Pada kesempatan ini, saya meminta kepada Kepolisian Dogiyai agar segera mengungkap dan mempertanggungjawabkan berbagai kasus yang terjadi, khususnya terhadap anak-anak muda berusia 17 tahun yang menjadi korban di Kabupaten Dogiyai,” kata Yustina Butu.

Katanya, tindakan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan terhadap warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak di Yahukimo maupun Kabupaten Mimika juga harus dipertanggungjawabkan.

Ia mengatakan, seharusnya tugas aparat keaman, yaitu TNI dan Polri adalah melindungi masyarakat sipil. Namun yang terjadi justru masyarakat sipil menjadi korban.

“Karena itu, hari ini kami menyatakan sikap dan meminta Kepolisian Dogiyai melakukan evaluasi besar-besaran atas berbagai penembakan terhadap warga sipil,” ujarnya.

Ia berharap, pemerintah Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah segera menindaklanjuti kasus-kasus ini bersama pihak kepolisian.

Menurutnya, perempuan adalah ibu yang melahirkan dan membesarkan anak-anak.

Pemerintah dan aparat keamanan harus menjalankan tugasnya dengan benar demi melindungi masyarakat.

“Kami ingin anak-anak kami hidup dengan aman dan damai. Bukan menjadi korban kekerasan, ketakutan, ataupun tindakan tidak manusiawi. Kami berharap suara dan tuntutan kami dapat didengar dan dipertimbangkan oleh negara serta pemerintah,” katanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Festival Kopi Papua Tengah

English Story

Gobai warns military presence could perpetuate violence in Paniai

Jayapura, Jubi – Deputy Speaker IV of the Central Papua Legislative Council (DPR Papua Tengah, John NR Gobai, has alleged [...]

Kamuyend clan’s black cross burned amid customary land dispute in Merauke

Jayapura, Jubi – Unidentified individuals have damaged and burned a black cross erected by the Kamuyend clan as a traditional [...]

WVI launches public campaign to support more than 5,000 children in Papua

Jayapura, Jubi – World Vision Indonesia (Wahana Visi Indonesia – WVI) has relaunched its Baca Tanpa Batas (Read Without Limits) [...]

Nduga shooting victims’ families ask Papua Legal Aid Institute to oversee investigation

Jayapura, Jubi – The families of three residents shot in Nduga Regency, Highland Papua Province, on October 23, 2026, have [...]

Challenges and hopes for the new AJI Jayapura City chair for 2026-2029

Jayapura, Jubi – Theo Kelen and Maurits Yansip have been elected chair and secretary of the Alliance of Independent Journalists [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist