Jayapura, Jubi – Perempuan Papua yang tergabung dalam Suara Perempuan Papua Bersatu menyerukan perlawanan terhadap ketidakadilan di Tanah Papua, saat menggelar mimbar bebas “Perempuan Bangkit Melawan Militerisme dan PSN” di Lingkaran Abepura, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Kamis (30/04/2026).
Koordinator Lapangan, Geofani Pogolamun mengatakan perempuan jangan diam, harus melawan, karena perempuanlah yang melahirkan kehidupan.
“Hari ini kita melihat mama-mama menangis karena anak-anaknya dibunuh, mengalami ketidakadilan di atas tanah ini,” kata Geofani Pogolamun.
Katanya, perempuan harus berani bicara kebenaran. Apa yang terjadi hari ini tidak bisa terus dibiarkan. Presiden dan aparat keamanan diharapkan dapat melihat dan menyadari bahwa kehidupan perempuan dan masyarakat Papua tidak mudah.
“Jangan ada lagi kekerasan terhadap mama-mama dan masyarakat di tanah Papua. Hari ini, kita melihat perempuan berjalan sendiri di jalan, menghadapi situasi yang tidak aman. Ini bertentangan dengan nilai budaya dan spiritual kita.
Bagaimana masa depan generasi kita jika anak-anak yang kita lahirkan justru menjadi korban kekerasan,” ucapnya.
Aktivis perempuan, Vero Hubi mengatakan bersuara melawan ketidakadilan sama kuatnya dengan senjata.
“Hari ini, suara kami adalah bentuk perjuangan. Jangan pernah meremehkan suara perempuan,” kata Vero Hubi.
Katanya, peristiwa yang terjadi di satu wilayah di Tanah Papua adalah masalah semua.
“Perempuan di Puncak Jaya, masyarakat yang mengungsi di hutan, saudara-saudara yang mengalami kekerasan di berbagai daerah itu semua adalah masalah bersama,” ucapnya.
Ia mengingatkan, agar jangan mau dipecah-belah, jangan mudah terprovokasi oleh isu yang membuat perpecahan. Sebab itu adalah cara untuk melemahkan perlawanan.
Menurutnya, sistem dalam negara sering membentuk manusia menjadi alat mengatur cara berpikir, karakter, dan kehidupan orang Papua. Tugas bersama hari ini adalah melawan itu. Manusia tidak boleh dijadikan alat penjajahan, alat kekuasaan, atau alat kapitalisme.
“Jangan sampai kita menjadi robot tanpa hati. Walaupun kita berpendidikan, memiliki jabatan, tetapi jika tidak punya hati, maka kita kehilangan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia mengatakan, perempuan juga sering dijadikan objek oleh sistem melalui standar kecantikan dan komoditas. Itu harus dilawan.Perempuan Papua harus tampil apa adanya, dengan jati diri sendiri.
“Kita juga harus ingat tanah kita. Tanah ini semakin hilang. Kita harus kembali menjaga kampung kita, karena disitulah kekuatan terakhir kita. Kalau bukan kita yang menjaga, generasi kita akan hidup di mana.Tidak mungkin kita berharap negara memberi tempat baru,” katanya. (*)




Discussion about this post