Jayapura, Jubi – Para perempuan Papua yang tergabung dalam Suara Perempuan Papua Bersatu melakukan aksi mimbar bebas “Perempuan bangkit melawan Proyek Strategis Nasional atau PSN dan Militerisme.”
Aksi damai ini berlangsung di kawasan Lingkaran Abepura, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua dengan pengawalan ketat aparat keamanan, Kamis, (30/04/2026).
Peserta aksi membawa berbagai pamflet bertuliskan “Militer Indonesia adalah Psikopat”, “Segera tarik kembali anggota militer non organik di seluruh tanah Papua”, “Stop kekerasan terhadap perempuan Papua”, “Tidak ada pembebasan sebuah bangsa tanpa pembebasan seseorang perempuan”, dan “PSN bunuh rakyat selamatkan hutan Papua”.

Eks tahanan Politik Papua Barat, Sayang Mandabayan dalam orasinya mengatakan situasi hari seperti yang telah dialami banyak perempuan Papua.
“Hari ini ibu, saudara perempuan, dan keluarga bangsa Papua mengalami kekerasan, diperkosa, bahkan dibunuh. Lalu pertanyaannya, kita mau diam atau bertindak,” kata Sayang Mandabayan.
Menurutnya, sejarah mencatat, sejak integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 1 Mei 1963, banyak peristiwa kekerasan terjadi.
“Perempuan diperkosa, laki-laki dibunuh. Ini bukan cerita baru tapi ini kenyataan yang terus berulang. Lalu kenapa kita harus bangga? Apa yang sebenarnya kita pertahankan? Banyak pejabat, setelah pensiun, justru menyesal pernah menjadi bagian dari sistem ini,” ucapnya.
Karenanya lanjut Mandabayan, untuk apa dipertahankan jika pada akhirnya hanya menyisakan, penyesalan. Hari ini orang Papua berdiri karena ada korban. Ada perempuan yang diperkosa. Ada anak-anak yang dibunuh. Kekerasan terjadi bukan secara kebetulan, tetapi dalam pola yang terstruktur.
“Namun sampai hari ini, keadilan bagi korban dan keluarga korban belum pernah benar-benar ditegakkan,” ujarnya.
Ia mengatakan, tidak ada pengadilan HAM yang adil terhadap berbagai kasus di Tanah Papua, dan kasus-kasus pelanggaran seharusnya diadili di pengadilan sipil, bukan pengadilan militer. Sebab, yang terjadi bukan sekadar pelanggaran individu, tetapi ada indikasi komando dan sistem di baliknya.
“Kita juga melihat bagaimana ruang demokrasi semakin sempit. Aspirasi rakyat dibatasi, suara dibungkam. Ketika rakyat bersuara, justru dianggap ancaman,” katanya.
Sayang Mandabayan menyatakan, Suara Perempuan Papua Bersatu mengajak masyarakat untuk tidak mudah diadu domba.
Sebab menurutnya mesti disadari bahwa perjuangan hari ini bukan tanpa alasan. Namun ini tentang tanah, tentang identitas, dan tentang masa depan. Karena sebelum negara hadir orang Papua sudah ada di tanahnya dan mereka adalah pemilik.
Selain kata Mandabayan, sejarah perjuangan di seluruh dunia menunjukkan bahwa kemerdekaan selalu membutuhkan pengorbanan. Bahkan pejuang Indonesia dulu pernah disebut teroris. Hari ini, label sama diberikan kepada orang Papua yang berjuang.
Orang Papua menurutnya, menolak kemajuan. Hanya ingin pendidikan, kesehatan, dan kehidupan yang layak, yang dibangun dengan keadilan, bukan kekerasan.
“Ada hati nurani yang tidak bisa dibungkam selamanya. Kami sudah lelah, tetapi kami tidak akan diam. Karena luka ini bukan luka sehari. Dampaknya seumur hidup, terutama bagi korban kekerasan seksual. Kami menolak lupa, Kami menuntut keadilan. Kami akan terus bersuara. Perjuangan ini akan tetap berjalan hari ini, besok, dan seterusnya,” kata Sayang Mandabayan.
Sementara itu aktivis Papua, Stenly Dambujai dalam orasinya mengatakan perempuan Papua adalah kekuatan utama, seperti bunda Maria yang menjaga kehidupan di tengah gelombang perjuangan Papua.
“Hari ini kita berkumpul untuk membicarakan persoalan sosial yang sedang kita hadapi. Namun kita juga harus jujur, banyak hal sudah terlambat. Terlambat karena kita terlalu lama diam, terlalu lama membiarkan berbagai persoalan terjadi,” kata Stenly Dambujai.
Katanya, Tanah Papua sering diibaratkan seperti burung cendrawasih indah dan kaya. Namun pihak di Jakarta melihat Tanah Papua hanya sebagai sumber kekayaan yang bisa dieksploitasi.
“Sejarah mencatat, kita pernah dijajah. Dari Belanda, lalu diserahkan, dan kini kita merasakan bentuk penindasan lagi,” ucapnya.
Menurutnya, penjajahan yang dialami orang Papua terjadi karena kepentingan kekuasaan dan perebutan sumber daya alam. Sejak tahun 1960-an hingga sekarang, operasi militer berskala besar terus terjadi di Tanah Papua. Hutan dirusak, sumber daya diambil.
Dampaknya dirasakan langsung masyarakat, terutama perempuan. Lingkungan yang rusak mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Tanah dan sumber air semakin terancam. Semua ini bukan kebetulan, tetapi bagian dari sistem yang berjalan.
“Lalu kita harus bertanya. Kita hadir di sini untuk apa? Apa yang akan kita lakukan?
Jangan hanya datang dan diam. Kita harus berani bersuara dan mengambil sikap. Hari ini kita juga melihat perempuan-perempuan Papua mulai bangkit. Mereka bukan lagi hanya korban, tetapi menjadi simbol perlawanan,” ucapnya.
Ia mengingatkan generasi muda, jangan hanya mengejar jabatan, ingin jadi bupati, anggota dewan, atau pejabat lainnya. Akan tetapi lupa pada kondisi rakyat sendiri. Jabatan tidak akan berarti jika rakyat terus menderita.
Dambujai mengajak perempuan Papua untuk lebih kuat, lebih berani, dan lebih lantang. Tidak takut untuk bersuara di ruang publik. Kaum laki-laki pun diingatkan harus mendukung dan berjalan bersama perempuan Papua.
“Perjuangan ini bukan milik satu kelompok, tetapi milik kita semua. Jika kita mundur satu langkah, maka kita akan kehilangan lebih banyak. Karena itu, kita harus terus maju.Selama matahari masih terbit, selama kita masih hidup, perjuangan harus terus berjalan,” kata Stenly Dambujai. (*)
























Discussion about this post