Sentani, Jubi – Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XIV Papua dan Papua Barat, Dr. Suriel Samuel Mofu, mendorong pemerintah daerah di Tanah Papua memanfaatkan lulusan tenaga kesehatan (nakes) dari Universitas Jayapura, Papua untuk mengatasi kekurangan nakes di berbagai daerah.
Ini disampaikan Mofu usai menghadiri wisuda perdana Universitas Jayapura, sejak berstatus sebagai universitas tahun Akademik 2025/2026. Wisuda berlangsung di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (9/5/2026).
Dalam wisuda tersebut, Universitas Jayapura meluluskan 90 mahasiswa dari berbagai program studi kesehatan.
Mofu mengatakan, perkembangan Universitas Jayapura berlangsung pesat, sejak bertransformasi dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan atau Stikes menjadi universitas.
Menurutnya, kampus tersebut menjadi aset penting bagi Pemerintah Kabupaten Jayapura dan masyarakat Papua dalam pengembangan sumber daya manusia, khususnya bidang kesehatan dan pendidikan tinggi.
“Perubahan dari Stikes ke Universitas Jayapura berjalan dengan cepat. Ini satu-satunya perguruan tinggi di Jayapura yang menggunakan nama Universitas Jayapura,” kata Suriel Samuel Mofu.
Katanya, Universitas Jayapura telah menghasilkan lulusan yang berpotensi mengisi kebutuhan tenaga kesehatan di rumah sakit, maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya di Papua.
Sebab, banyak lulusan kebidanan dan keperawatan dari kampus itu telah lulus uji kompetensi nasional sehingga memenuhi syarat memperoleh Surat Tanda Registrasi atau STR.
“Papua sudah memproduksi sendiri tenaga kesehatan yang potensial untuk digunakan,” ujarnya.
Mofu mengatakan, pemekaran wilayah di Tanah Papua menyebabkan kebutuhan tenaga kesehatan terus meningkat. Karenanya, pemerintah daerah perlu memprioritaskan lulusan asli Papua, maupun mereka yang lahir dan besar di Papua karena dinilai memahami kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.
Lulusa keperawatan dan kebidanan lanjut Mofu, harus siap bekerja di berbagai daerah yang masih membutuhkan tenaga kesehatan, termasuk wilayah terpencil di Tanah Papua.
“Jangan berkumpul di Jayapura. Pergilah ke seluruh pelosok Tanah Papua untuk bekerja di pusat-pusat pelayanan kesehatan,” ucapnya.
Pemerataan tenaga kesehatan dinilai penting untuk menekan angka kematian bayi dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Papua. Selain itu, masih banyak rumah sakit dan fasilitas kesehatan di daerah yang kekurangan perawat maupun bidan.
Ia pun berharap, ada kerja sama antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam menyiapkan tenaga kesehatan sesuai kebutuhan masing-masing daerah.
“Pemerintah daerah bisa langsung menyampaikan kebutuhan tenaga kesehatan kepada perguruan tinggi agar dapat dipersiapkan bersama,” kata Suriel Samuel Mofu.
Sementara itu, Rektor Universitas Jayapura, Bernardikus Patrick Daundi mengatakan pihaknya bangga dapat meluluskan 90 mahasiswa, dengan harapan ilmu yang diperoleh dapat diterapkan untuk melayani masyarakat, terutama di wilayah pedalaman Papua.
Menurut Daundi, para lulusan berasal dari program studi S1 Keperawatan, S1 Farmasi, profesi Bidan, dan profesi Ners.
Ia ingin, para lulusan tidak hanya mencari pekerjaan di wilayah perkotaan, juga bersedia mengabdi di kampung-kampung dan daerah pedalaman yang masih kekurangan tenaga kesehatan.
“Kalau di kota tenaga kesehatan sudah terlalu banyak, bahkan ada yang sampai menganggur. Tapi kalau mereka pergi ke Papua Pegunungan atau daerah perkampungan di Kabupaten Jayapura, peluang kerjanya lebih besar karena mereka lebih dibutuhkan di sana,” kata Bernardikus Patrick Daundi.
Ia juga berharap pemerintah daerah dapat membuka peluang kerja bagi lulusan asli Papua, termasuk melalui rekrutmen tenaga kontrak daerah maupun program pelayanan kesehatan di kampung-kampung. (*)
























Discussion about this post