Jayapura, Jubi – Aliansi Jurnalis Independen atau AJI Jayapura membekali calon anggotanya pemahaman mengenai sejarah terbentuknya organisasi itu, Kamis (7/5/2026).
Pembekalan itu diselenggarakan di Kantor Redaksi Jubi jalan SPG Taruna Waena Nomor 15 B, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua.
Tercatat ada 24 orang jurnalis media online dan cetak dari Provinsi Papua, Papua Barat, Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Papua Barat Daya yang mendaftar sebagai calon anggota AJI Jayapura.
Ketua AJI Jayapura, Lucky Ireeuw mengatakan pembekalan ini diberikan kepada calon anggota AJI untuk mengetahui asal usul dan sejarah terbentuknya salah satu organisasi jurnalis di Indonesia itu.
“Para calon anggota AJI mendapatkan pemahaman terkait nilai-nilai yang terkandung dalam organisasi,” kata Lucky Ireeuw.
Pemateri dalam pembekalan ini adalah Sekretaris Jenderal AJI Indonesia, Bayu Wardhana dan bagian advokasi AJI Indonesia, Erick Tanjung.
“[Pemateri] menjelaskan bagaimana AJI itu, apa itu AJI, dan nilai-nilai yang terkandung dalam organisasi AJI,” ujarnya saat membuka pembekalan.
Menurut Pemimpin Redaksi Cenderawasih Pos itu, tidak semua calon anggota baru AJI Jayapura mengikuti pembekalan secara langsung. Calon anggota baru AJI di luar Jayapura ada yang mengikuti pembekalan secara daring.
“Cukup banyak ya, peminat menjadi anggota AJI. Tapi semua harus melalui proses dan seleksi yang cukup ketat untuk menjadi anggota AJI,” ucapnya.
Sekretaris Jenderal AJI Indonesia, Bayu Wardhana saat memberikan materi pembekalan menyampaikan tentang “Sejarah AJI dan Tripanji”.
Dalam penjelasannya ia menuturkan sejarah lahirnya AJI merupakan bagian dari perlawanan pembungkaman ruang demokrasi oleh rezim Orde Baru.
Hingga kini AJI tetap pada jalurnya, sebagai organisasi pers yang kritis dan independen.
“AJI lahir sebagai perlawanan komunitas pers Indonesia terhadap kesewenang-wenangan rezim Orde Baru,” kata Bayu Wardhana. (*)


























Discussion about this post