Jayapura, Jubi – Sebanyak tujuh pelajar Sekolah Menengah Atas atau SMA Negeri 1 Kobakma, Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua Pegunungan dilaporkan tertembak, Selasa (5/6/2026).
Ketua Departemen Hukum dan HAM Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Pdt. Jimmy Koirewoa mengatakan, berdasarkan informasi yang dihimpun pihanya para pelajar itu diduga tertembak saat personel Polres Mamberamo Tengah mengeluarkan tembakan peringatan, ketika bersitegang dengan pelajar yang melakukan pawai kelulusan.
Menurutnya, ketika itu pelajar yang menggelar pawai diberhentikan oleh polisi, karena ada di antara pelajar yang membawa bendera Bintang Kejora. Sikap kepolisian itu memicu reaksi dari para pelajar, sehingga kedua pihak pun bersitegang.
Dalam proses penanganan itu, aparat kepolisian diduga melakukan tindakan represif yang mengakibatkan sejumlah pelajar mengalami luka tembak, terutama pada bagian kaki.
“Para korban saat ini telah mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Lukas Enembe, Mamberamo Tengah,” kata Pdt Jimmy Koirewoa melalui pesan tertulis yang di terima Jubi, Papua, Kamis (7/5/2026).
Katanya, korban yang tertembak adalah Sago Pugumis (17 tahun), Wajus Pagawak (24 tahun), Enius Wanimbo (22 tahun), Nita Sibak (20 tahun), Abi Yikwa (24 tahun), Nius Wandikbo (19 tahun), dan Yali Elabi (18 tahun).
“Insiden ini menunjukkan adanya penggunaan kekuatan berlebihan dalam penanganan aksi pelajar yang bersifat sipil. Aparat keamanan tidak profesional dan terlalu represif sampai mengeluarkan tembakan,” ucapnya.
Menurutnya, perlu ada investigasi independen, transparan, dan akuntabel dalam kasus ini, untuk memastikan keadilan bagi para korban serta mencegah terulangnya peristiwa serupa pada masa mendatang.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor atau Kapolres Mamberamo Tengah, AKBP Muh. Mukabsi mengatakan, ketika itu pengumuman kelulusan berlangsung aman dan tertib. Dari 67 siswa SMA Negeri 1 Kobakma, semua lulus 100 persen.
Setelah pengumuman, para siswa melakukan konvoi di sekitar Kota Kobakma, yang kemudian berkembang menjadi gangguan kamanan dan ketertiban masyarakat.
“Peristiwa bermula saat rombongan konvoi berhenti di depan Mapolres Mamberamo Tengah dan terlihat adanya pengibaran simbol tertentu di tengah kerumunan,” kata AKBP Muh Mukabsi.
Menurutnya, personel Polres yang sedang melaksanakan pengamanan segera melakukan pendekatan persuasif. Meminta pelajar menurunkan bendera Bintang Kejora yang dibawanya. Polisi juga mengimbau agar mereka menjaga situasi tetap kondusif.
Namun, kata Kapolres Mamberamo Tengah, upaya persuasif itu tidak diindahkan, sehingga situasi berkembang menjadi aksi anarkis.
Pelajar melempari personel polisi dengan batu dan kayu. Polisi kemudian melakukan tindakan tegas dan terukur, berupa pembubaran massa menggunakan gas air mata serta tembakan peringatan ke udara.
“Massa kemudian mundur, namun sebagian kembali melakukan aksi lanjutan. Menyerang personel yang tinggal Pos Polisi Kobakma, serta perusakan dan penjarahan sejumlah kios di Pasar Sentral Kobakma,” ujarnya.
Katanya, Polres Mamberamo Tengah bersama TNI segera melakukan pengamanan di titik-titik rawan serta objek vital untuk mencegah eskalasi lanjutan. Aparat keamanan juga melakukan patroli dan penguatan pengamanan di wilayah sekitar.
“Situasi berangsur kondusif setelah aparat kepolisian melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama,” ucapnya.
Ia mengatakan, akibat kejadian itu sejumlah orang dilaporkan terluka, termasuk personel polisi. Selain itu, kendaraan dinas milik polisi serta kios-kios di Pasar Sentral Kobakma rusak.
“Satu bendera dan sejumlah barang bukti lainnya telah diamankan untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak mudah terprovokasi. Situasi saat ini telah kondusif dan tetap dalam pengawasan aparat keamanan,” kata AKBP Muh Mukabsi. (*)




Discussion about this post