Jayapura, Jubi – Sebanyak sembilan warga sipil, termasuk seorang anak di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Puncak, Papua Tengah dilaporkan tewas tertembak, dan puluhan lainnya terluka.
Sumber Jubi di Kabupaten Puncak, Yumbunik Murib mengatakan, para korban tewas tertembak dalam penyerangan oleh personel TNI di Kampung Tenoti dan Kampung Kumikomo, Distrik Kembru, Selasa (14/4/2026).
“Para korban tewas karena terkena tembakan akibat penyerangan membabi buta [oleh aparat keamanan] di sejumlah kampung [di] Distrik Kembru. Sembilan orang yang sudah diidentifikasi, dan dievakuasi lalu dimakamkan secara adat,” kata Yumbunik Murib melalui panggilan teleponnya kepada Jubi dari Puncak, Jumat (17/4/2026).
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Jenazah [korban] dibakar secara adat orang Lani Papua. [Selain korban tewas] masyarakat sebagian luka-luka mulai dari anak-anak sampai dewasa mencapai puluhan orang. Mereka yang luka-luka itu kami bawa ke rumah sakit. Mereka dirawat [di rumah sakit] tapi sebagian dirawat di rumah,” ucapnya.
Ia mengatakan korban luka adalah Onde Walia (5 tahun), Aliko Walia (5 tahun), Nokia Kogoya (21 tahun), Anite Telenggen (19 tahun) dan Daniton Tabuni. Anite Telenggen dan Onde Walia sudah dirujuk ke Jayapura dan Nabire, sementara korban luka lainnya di rawat di Rumah Sakit Mulia. Korban luka ini belum termasuk yang dirawat di rumah.
Katanya, korban tewas dan luka itu belum termasuk yang berada di Kampung Kembru, Kampung Makuma, Kampung Nilome, Distrik Kembru. Korban di tiga kampung tersebut belum dapat dipastikan dan dievakuasi, sebab TNI masih berada di sana.
Karena itu, masyarakat minta pihak TNI di Kabupaten Puncak untuk mengizinkan mereka mengevakuasi korban di tiga kampung tersebut.
“[Proses evakuasi korban di tiga kampung itu] mungkin [akan dilakukan] hari ini atau tidak besok. Korban di tiga kampung itu belum evakuasi sejak kejadian. Berapa yang korban [di tiga kampung] itu belum tahu, berapa yang terluka semua belum,” ujarnya.
Murib menjelaskan, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau TPNPB dengan TNI-Polri sebenarnya sudah sepakat menentukan wilayah perang kedua pihak, yaitu di Distrik Pogoma, di sebelah Kali Sinak, yang jaraknya sangat jauh dari Distrik Kembru.
Katanya, Distrik Kembru adalah kawasan pengungsian masyarakat dari sejumlah distrik lain, termasuk warga Distrik Pogoma.
“Jadi selama ini pengungsi beraktivitas seperti biasa, di kampung-kampung di wilayah Distrik Kembru. Tapi tiba-tiba TNI menyerang. Mereka membunuh masyarakat dengan tidak manusiawi, TNI masuk menyerang tempat pengungsi,” kata Murib.
Menurut Yumbunik Murib, prajurit TNI melakukan operasi militer menggunakan tiga helikopter dan menurunkan peledak yang diduga granat ke Kampung Guamo, Distrik Pogoma, Senin (13/4/2026) dini hari hingga sore.
Prajurit TNI lanjut Murib, kemudian melakukan operasi militer lewat serangan udara dan darat di sejumlah kampung di Distrik Kembru, Selasa (14/4/2026) dini hari.
Ia menambahkan, hingga kini pemerintah kabupaten belum turun ke wilayah itu untuk melihat kondisi masyarakat atau menyalurkan bantuan.
“Ada [warga di Kabupaten Puncak] yang ditembak mati, ada yang mengungsi ke hutan,” kata Yumbunik Murib.
Sementara itu, Kepala penerangan Komando Daerah Militer atau Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Tri Purwanto mengatakan yang melakukan penyerangan di Kabupaten Puncak adalah Organisai Papa Merdeka (OPM).
Katanya kelompok ini menyerang tiga warga sipil di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, yang terdiri dari seorang wanita dan dua anak-anak, dengan luka tembak.
Katanya, berdasarkan laporan tersebut dan permintaan masyarakat, Satgas TNI dan Kodim 1714/Puncak Jaya bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Puncak Jaya, mengevakuasi ketiga korban tersebut ke Rumah Sakit Mulia di Kabupaten Puncak Jaya, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
“Kami sangat menyayangkan dan mengutuk kejadian kekerasan kepada warga yang diduga dilakukan kelompok OPM tersebut. Warga sipil seharusnya dilindungi, bukannya dijadikan sasaran kekerasan,” kata Letkol Inf Tri Purwanto dalam siaran pers tertulis yang diterima Jubi, Kamis (16/4/2026) malam.
Jubi juga berupaya melakukan konfirmasi informas tewasnya sejumlah warga sipil di Kabupaten Puncak yang diduga akibat tertembak kepada Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf Wirya Arthadiguna, namun hingga berita ini diturunkan belum ada direspons dari yang bersangkutan. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post