Jayapura, Jubi – Seorang remaja putri berusia 18 tahun di Kampung Wunambunggu, Distrik Melagi, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan bernama Pendite Weya dilaporkan tewas karena ledakan benda yang diduga ranjau dan terinjak oleh korban, Sabtu (6/6/2026).
Sumber Jubi di Kampung Wunabunggu menjelaskan Pendite Weya menginjak benda yang diduga ranjau sepulangnya mencari kelapa hutan bersama warga, karena kini musim panen kelapa hutan di wilayah itu.
“Saat pulang [ke rumah] Pendite Weya tidak tahu apa-apa langsung menginjak bom yang [diduga] ditanam oleh aparat TNI. Hal itu memicu ledakan hingga menewaskan Pendite. Akibatnya lengan tangan kanan putus, lengan kiri, wajah dan tubuh mengalami luka-luka dari serpihan bom itu,” kata sumber itu kepada jubi melalui panggilan telepon, Jumat (12/6/2026).
Menurut sumber itu pada 2025, aparat TNI non organik pernah melakukan penyisiran di beberapa kampung di Distrik Melagi, dan sempat menjatuhkan bom menggunakan helikopter.
Warga pun menduga, ranjau yang diinjak korban itu ditanam di bawah tanah oleh TNI. Padahal katanya, Distrik Melagi hanya dihuni oleh warga sipil. Tak ada kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau TPNPB di wilayah itu.
Sementara itu, Kepala Distrik Melagi, Arinius Kiwo mengatakan berdasarkan keterangan dari keluarga dan saksi bawa Pendite Weya bersama belasan orang pergi ke hutan mencari kelapa hutan pada hari itu.
Mereka berpencar ke masing-masing lokasi di hutan. Setelah itu membawa hasil panennya dan dikumpulkan di satu tempat terbuka.
“Mereka bakar kelapa hutan dan bagi hasil penen di situ. Sebelum pulang anak perempuan ini cari tali di sekitar situ, untuk membungkus kelapa hutan. Pas dia cari-cari tali, hanya sebentar saja lewat tiba-tiba barang itu meledak dan anak perempuan itu terlempar langsung tewas,” kata Arinius Kiwo melalui teleponnya kepada Jubi, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, beberapa orang di yang mencari kelapa hutan itu kemudian lari karena ketakutan.
“Setelah pulang, baru malamnya menceritakan kejadian tersebut. Besoknya Minggu (7/6/2026) pagi, barulah masyarakat pergi mengamankan jenazah,” ucapnya.
Ketua Forum Peduli Pembangunan Kabupaten Lanny Jaya (FPP-LJ), Hernison Kogoya mendesak Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten atau DPRK Lanny Jaya, membentuk tim investigasi untuk mengungkap kematian Pendite Weya.
Menurutnya kejadian itu tidak boleh dianggap biasa-biasa saja, karena ini mengenai kemanusian.
“Ini pertama kali terjadi di Lanny Jaya bahwa ada masyarakat menjadi korban tanpa ada serangan, tanpa ada baku tembak. Investigasi perlu untuk membuktikan bahan peledak itu milik siapa,” ujar Hernison Kogoya melalui rekaman suara kepada Jubi. (*)


























Discussion about this post