Jayapura, Jubi – Dokter spesialis paru di Kota Jayapura, Victor Paulus Manuhutu menyatakan kasus tuberculosis atau TBC di Papua pada 2025, mencapai 5.000 kasus, dan terbanyak ada di Kota Jayapura yaitu 3.007 kasus.
Indonesia sendiri menempati peringkat kedua dunia kasus TBC terbanyak, yaitu sekitar satu juta kasus setiap tahun. Karena itu, pemerintah terus mendorong percepatan eliminasi TBC bersama HIV/AIDS dan malaria.
Ini disampaikan dalam sosialisasi pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS dan tuberculosis kepada media dan wartawan di Kota Jayapura, di salah satu hotel di kawasan Abepura, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Jumat (12/6/2026).
“Tidak bisa dipungkiri bahwa kasus TBC masih banyak ditemukan di sekitar kita, terutama di Kota Jayapura,” kata dr. Victor Paulus Manuhutu.
Menurutnya, TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di Indonesia termasuk Papua.
Ia menjelaskan, penularan TBC melalui udara, melalui percikan dahak atau droplet yang keluar saat penderita berbicara, batuk, maupun bersin.
Risiko penularan meningkat pada individu dengan kondisi tertentu seperti malnutrisi, diabetes melitus, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, dan HIV.
“HIV dan TBC sebagai dua sejoli, karena keduanya saling memperburuk kondisi pasien,” ucapnya.
Katanya, orang dengan HIV lebih mudah terserang TBC akibat penurunan daya tahan tubuh, dan infeksi TBC dapat mempercepat perkembangan HIV dalam tubuh.
TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis, dan hingga kini belum berhasil dieliminasi meskipun telah dikenal sejak ribuan tahun lalu.
Ketika bakteri TBC masuk ke paru-paru melalui saluran pernapasan, dapat berkembang biak dan merusak jaringan paru. Kerusakan yang luas dapat menyebabkan batuk berkepanjangan, sesak nafas, hingga batuk darah.
Ia mengatakan, TBC bisa menyerang hampir seluruh organ tubuh. Selain menyerang paru-paru, TBC juga dapat menyerang berbagai organ tubuh lainnya.
Hampir seluruh organ dapat terinfeksi TBC, mulai dari selaput otak, tulang belakang, kelenjar getah bening, hingga kulit.
“Dalam pengalaman saya selama 15 tahun menangani TBC, yang tidak pernah terkena hanya gigi, kuku, dan rambut. Selebihnya hampir semua organ bisa terkena,” ujarnya.
Mengobati pasien TBC aktif lanjut dr. Victor Paulus Manuhutu, mampu menurunkan angka kasus sekitar dua persen per tahun. Namun jika pengobatan TBC laten dilakukan secara luas dan konsisten, penurunan kasus dapat mencapai sekitar 17 persen per tahun.
Karenanya, upaya eliminasi TBC harus dilakukan secara komprehensif melalui pengobatan pasien aktif, penanganan TBC laten, pengendalian faktor risiko seperti merokok dan diabetes, serta pencegahan penularan dengan penggunaan masker dan edukasi masyarakat.
“Media diharapkan dapat berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran publik mengenai TBC sehingga target eliminasi penyakit tersebut dapat tercapai di masa mendatang,” katanya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kota Jayapura, Ns. Yusnita Pabeno mengatakan, TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia.
“Setiap tahun diperkirakan terdapat sekitar 1,09 juta kasus TBC di Indonesia. Tingginya beban penyakit menjadikan TBC sebagai salah satu program prioritas nasional,” kata Yusnita Pabeno.
Katanya, ada ada empat pilar utama dalam penanggulangan TBC, yang menjadi dasar kebijakan, yakni menemukan kasus, mengobati pasien, mencegah penularan, serta mengedukasi dan melibatkan masyarakat.
Namun menurutnya, penanganan TBC masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu masalah yang sering terjadi adalah pasien tidak menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Akibatnya, hilang dari pemantauan dan berisiko menularkan penyakit kepada orang lain.
“Tingginya kasus TBC umumnya ditemukan di wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, sanitasi yang buruk, kualitas lingkungan yang rendah, serta ventilasi rumah yang tidak memadai,” ucapnya.
Karena itu, pengendalian TBC tidak hanya berkaitan dengan pelayanan kesehatan, tetapi juga erat kaitannya dengan kondisi lingkungan dan perilaku hidup masyarakat. Sehingga, penting memahami data kasus TBC secara utuh.
Katanya, tingginya jumlah kasus yang ditemukan tidak selalu menunjukkan kegagalan program kesehatan. Sebaliknya, itu dapat menjadi indikator bahwa upaya pencarian kasus berjalan aktif dan layanan kesehatan mampu menjangkau masyarakat yang terinfeksi.
“Sebaliknya, rendahnya angka kasus yang ditemukan belum tentu mencerminkan kondisi yang lebih baik. Bisa jadi masih banyak penderita yang belum terdeteksi,” ujarnya.
Karena itu pentingnya deteksi dini, pengobatan yang tuntas, serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam mendukung upaya pengendalian TBC.
Dengan penemuan kasus yang lebih aktif dan kepatuhan pengobatan yang lebih baik, target eliminasi TBC di Indonesia diharapkan dapat tercapai dalam beberapa tahun mendatang. (*)


























Discussion about this post