Sentani, Jubi – Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Papua menemukan 1.350 kasus baru tuberkulosis (TBC) pada 2025. Angka ini setara 67 persen dari target nasional yaitu 2.417 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Lilian Suebu mengatakan penemuan kasus TBc selama 2025 menurun dibandingkan tahun sebelumnya yaitu, 1.717 dari target 2.422 kasus, dengan persentase 71 persen.
“Sedangkan, pada 2023, target kasus baru yang ditemukan melebih 100 persen, yaitu 1.382 dari 1.259 kasus yang ditarget,” kata Lilian Suebu kepada Jubi di ruang kerjanya, Kamis (5/3/2025).
Menurutnya, penurunan temuan kasus dari 2024 ke 2025, merupakan hal positif dari kinerja petugas di lapangan dalam mendeteksi lebih awal melalui skrining sehingga penularan mulai terkendali.
Katanya, salah satu faktor menurunnya penemuan kasus TBc karena adanya sosialisasi dan edukasi ke masyarakat dengan adanya integrasi layanan primer (ILP), yaitu skrining TBc yang digabungkan dengan pemeriksaan penyakit menular dan tidak menular lainnya di puskesmas.
“Ini menunjukkan kinerja teman-teman di layanan (puskesmas) sudah sangat baik,” ucapnya.
Ia mengatakan, penemuan kasus TBc terbaru paling banyak di Puskesmas Sentani. Ini dipengaruhi jumlah penduduk yang banyak di wilayah itu.
“Namun untuk capaian target kasus kisaran 60 persen, berbeda dengan Puskesmas Waibu yang target kasus mencapai 90 persen,” ujarnya.
Dia menambahkan pada 2026, Dinas Kesehatan memiliki program ATM Center untuk membantu atau mendukung pemerintah daerah dalam percepatan eliminasi Aids, TBc dan malaria.
Petugas ATM Center akan mobile secara terpadu ke kampung-kampung, untuk mengedukasi dan sosialisasi guna meningkatkan kesadaran masyarakat, dan skrining massal.
“[Mereka] akan melakukan skrining terpadu, ada Aids, TBc, dan malaria. Nah, semakin banyak masyarakat yang kita jaring dan ditemukan kasus positif bisa langsung diobati,” kata Lilian Suebu.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih, Prof Hasmi SKM MKes menilai upaya yang dilakukan pemerintah melalui ATM Center, sangat tepat secara konsep kesehatan masyarakat.
Seban menurutnya, penanganan TBc tidak bisa hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan (passive case finding).
“Jika ATM Center melakukan skrining lapangan, edukasi masyarakat, dan pelacakan kontak, maka itu sangat strategis. Namun keberhasilan program lapangan sangat bergantung pada metode implementasinya,” kata Prof Hasmi SKM MKes.
Prof Hasmi SKM MKes menyimpulkan dari sisi kesehatan, data tiga terakhir tersebut menyimpulkan situasi di Kabupaten Jayapura belum darurat, masih ada gap penemuan kasus sekitar 30 persen.
“Artinya, penularan masih mungkin terjadi di masyarakat dan banyak kasus masih belum ditemukan,” ucapnya. (*)




Discussion about this post