Sentani, Jubi – Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih atau Uncen Jayapura, Prof. Dr. Hasmi, SKM. MKes mengatakan situasi kasus Tuberkulosis (TBc) di Kabupaten Jayapura, Papua cukup kritis tapi belum berada pada kategori darurat.
“Kritis karena masih ada [sekitar] 30 persen yang menular tapi kondisi ini belum kategori darurat,” kata Prof. Dr. Hasmi, SKM. MKes melalui aplikasi pesan singkat kepada Jubi, Jumat (6/3/2026) pagi.
Prof Hasmi mengatakan berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura tiga tahun terakhir itu, ditemukan 1.382 kasus TBc pada 2023. Kasus tersebut melampaui target nasional yaitu 1.259 kasus atau 109 persen.
“Jika dilihat datanya, interpretasi epidemiologi, tahun 2023 bukan berarti kasus meningkat. Capaian di atas 100 persen menunjukkan sistem penemuan kasus (case finding) bekerja baik, bukan berarti penularan meningkat,” ucapnya.
Menurut Hasmi, hal itu sering terjadi ketika skrining aktif meningkat, fasilitas diagnostik membaik, dan pelaporan lebih lengkap.
Katanya, untuk penurunan capaian target pada 2024 dari target 2.422 kasus dan tercapai 1.717 kasus atau 71 persen, serta pada 2025 ditargetkan 2.417 kasus, namun tercapai 1.350 kasus atau 67 persen, menunjukkan adanya kemungkinan dinaikkannya terget nasional hampir dua kali lipat.
“[Selain itu] case detection gap masih besar (banyak kasus TBc belum ditemukan di masyarakat),” ujarnya.
Prof Hasmi mengatakan dari sudut pandang kesehatan masyarakat, jika capaian hanya 67 hingga 71 persen, berarti kemungkinan masih ada kira-kira 30 persen TBc yang belum ditemukan.
Situasi ini dinilai cukup kritis karena satu penderita TBc aktif dapat menularkan ke 10 hingga 15 orang per tahun, dan keterlambatan diagnosis memperpanjang rantai penularan.
Apalagi lanjutnya, jika daerah memiliki faktor risiko seperti kepadatan rumah, mobilitas penduduk, dan akses layanan kesehatan yang terbatas yang sering ditemukan di wilayah Papua.
Peneliti senior FKM Uncen itu merekomendasikan sejumlah langkah konkret agar penularan TBc benar-benar terputus. Ada lima langkah strategis dalam pendekatan kesehatan masyarakat.
Pertama, memperkuat skrining kontak serumah. Intervensi ini dinilai paling efektif. Setiap satu kasus TBc, semua anggota keluarga dan tetangga dekat harus diskrining. Biasanya ditemukan satu hingga tiga kasus tambahan dari kontak.
Selanjutnya, skrining populasi yang berisiko tinggi bukan semua ke seluruh masyarakat. Adapun kelompok berisiko (targeted screening) seperti, kontak serumah pasien TB, orang dengan HIV/AIDS, narapidana, pekerja tambang, masyarakat padat hunian.
Berikutnya, mempercepat diagnosis dengan alat cepat. Jika memungkinkan gunakan Tes Molekuler Cepat (TCM / GeneXpert). Tes itu bisa mendeteksi TB kira-kira dalam dua jam sekaligus mendeteksi resistensi obat.
Kemudian memastikan pasien tidak putus obat dan memperbaiki surveilans dan tracking pasien.
Hasmi juga mengatakan, beberapa daerah berhasil menurunkan TBc dengan skrining massal menggunakan rontgen portable atau sering disebut mobile TB screening.
“[Jadi,] tim turun turun ke kampung melakukan rontgen dada dan langsung tes TCM jika dicurigai TB. Strategi tambahan itu sangat efektif,” kata Prof. Dr. Hasmi, SKM. MKes.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Lilian Suebu kepada Jubi mengatakan ada sejumlah tantangan dan kendala yang dihadapi pihaknya di lapangan.
Kendala itu antara lain, kepatuhan minum obat yang seharusnya diminum selama enam bulan, resistensi obat (TB-RO) yang menyebabkan pasien putus berobat berisiko resistensi bakteri sehingga harus beralih ke pengobatan yang lebih tinggi.
Selain itu, sistem pelaporan yang terkadang tidak terbaca pada aplikasi sehingga data skrining di lapangan tidak sinkron dengan sistem dan dukungan keluarga.
“Keluarga harus mendukung [penderita TBc] agar mereka tidak menarik diri dan merasa dikucilkan, memberi perhatian agar rutin minum obat termasuk gizi makanannya,” kata Lilian Suebu. (*)




Discussion about this post