Wamena, Jubi – Warga asal Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan yang menjadi pengungsi internal di berbagai daerah di Provinsi Papua Pegunungan, membutuhkan pelayanan kesehatan memadai.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nduga diharapkan dapat memperhatikan pelayanan kesehatan terhadap para pengsungi internal dari wilayah itu.
Pernyataan ini disampaikan Pdt. Kones Kogeya usai pemakaman jenazah salah satu anak pengungsi internal asal Nduga berusia satu tahun, Nigiadina Gwijangge di Kampung Sekom, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Sabtu (6/6/2026).
“Setiap hari, anak-anak kecil dan orang dewasa meninggal dunia secara misterius, tanpa penanganan medis. Masyarakat Pengungsi di lokasi pengungsian Kampung Sekom, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya kecewa [karena] Pemkab Nduga tidak pernah tangani penyakit yang dialami oleh warganya,” kata Pdt. Kones Kogeya.
Menurutnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga tak pernah memberikan pelayanan kesehatan kepada para pengungsi internal yang ada di Kabupaten Jayawijaya.
“Termasuk para staf dan tenaga kesehatan yang tugaskan di setiap Puskesmas di 32 distrik [yang ada di Nduga]. Tidak menjalankan tugasnya dengan benar,” ucapnya.
Katanya, situasi ini terjadi karena kurangnya kontrol dari Pemkab Nduga terhadap kinerja Dinas Kesehatan, sehingga mengabaikan pelayanan kesehatan bagi warga asal kabupaten itu di lokasi pengungsian.
“Banyak pengungsi yang mengalami berbagai macam penyakit seperti diare, TB hingga meninggal dunia secara misterius tanpa pelayanan kesehatan. Begini-begini saya bawa pindahkan [status] penduduk [Nduga] ke Jayawijaya, karena ini kebutuhan kesehatan perlu kontrol secara rutin,” katanya.
Ia mengatakan, status kependudukan pengungsi internal asal Nduga yang ada di Jawijaya, menjadi salah satu penyebab sulitnya mereka mendapat pelayanan kesehatan di wilayah itu.
Katanya, seringkali pengungsi asal Nduga mendapat teguran dari pihak Puskesmas sekitar, saat mereka berobat ke fasilitas kesehatan itu karena mereka berstatus penduduk Kabupaten Nduga.
“Selama ini pengungsi dapat teguran dari Pukesmas Muliama, Kimbin dan sekitarnya, karena KTP (kartu tanda penduduk) mereka dari Nduga, namun berobat di Puskesmas milik [Pemkab] Jayawijaya. [Situasi ini] membuat kebanyakan masyarakat meninggal dunia tanpa penanganan kesehatan,” ujarnya.
Ia berharap Pemkan Nduga dapat segera merespons keluhan para pengungsi, dan menepati janji yang pernah disampaikan di hadapan warga Nduga yang menjadi pengungsi internal di Kabupaten Jawijaya.
Katanya, ketika itu Pemkab Nduga berjanji akan membangun gedung terpadu di Jayawijaya untuk menjawab kebutuhan pengungsi Nduga yang ada di sana. (*)




Discussion about this post