Jayapura, Jubi – Lebih dari sepekan telah berlalu sejak tanah longsor mengubur hidup-hidup beberapa keluarga di Desa Kukas, Provinsi Enga, Papua Nugini (PNG).
“Beberapa keluarga kehilangan sebagian besar anggota keluarga mereka, tanpa ada satu pun yang tersisa,” kata juru bicara kantor anggota parlemen Wabag, Geno Muspak, kepada RNZ Pacific yang dikutip Jubi.id, Minggu (9/11/2025).
Jumlah korban tewas kini meningkat menjadi 22 orang, sementara petugas penyelamat terus berjuang mengevakuasi jenazah yang masih tertimbun tanah.
Muspak menjelaskan, bagi komunitas kecil di dataran tinggi Papua Nugini, kehilangan seperti ini sangat menghancurkan.
“Papua Nugini sangat berorientasi pada budaya dan ikatan kekeluargaan. Ini kehilangan besar bagi keluarga, masyarakat, dan kerabat,” ujarnya.
“Ini adalah momen yang sangat menyedihkan bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga, terutama keluarga dekat,” tambahnya.
Kini muncul kekhawatiran bagi warga lain yang tinggal di sekitar lokasi bencana.
“Di daerah yang mengalami longsor baru-baru ini, terdapat sekitar lebih dari 300 orang yang tinggal di sepanjang kawasan tersebut,” kata Muspak.
Tim penanggulangan bencana kini bekerja siang dan malam untuk mengevakuasi korban dan mempertimbangkan relokasi warga yang masih tinggal di area rawan. Petugas memperkirakan jumlah korban tewas kemungkinan akan terus bertambah.
Dampak Perubahan Iklim
Muspak mengatakan, para tetua adat yang terdampak bencana tidak pernah mendengar kisah tentang tanah longsor sebesar ini di masa lalu, yang menurutnya menunjukkan adanya pengaruh perubahan iklim.
“Sekarang, pola cuaca tidak lagi seperti yang kita alami lima sampai sepuluh tahun lalu,” ujarnya.
“Seiring perubahan zaman, cuaca tidak lagi bersahabat, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil,” tambahnya.
Ia menuturkan, warga kini berencana pindah ke tempat yang lebih aman karena banjir juga menjadi masalah di sejumlah wilayah.
“Sebagian besar tempat tinggal kami berada di dekat sungai dan pegunungan. Banyak hal yang dulu tidak pernah terjadi, kini mulai kami alami,” katanya.(*)




Discussion about this post