Jayapura, Jubi – Kemarahan melanda Papua Nugini (PNG) terkait tanda-tanda bahwa sebuah perusahaan penangkap ikan tuna asal Filipina, telah menangkap lumba-lumba secara ilegal.
Hal ini menyusul munculnya video berdurasi empat menit dari Provinsi Manus, PNG, yang menunjukkan awak kapal pukat cincin, Red Robin 88 (sebelumnya Discovery 101 ), menarik bangkai lumba-lumba dari jaringnya. Demikian dikutip jubi.id dari laman internet RNZ Pasifik, Sabtu (13/6/2026)
Jonathan Semin, warga lokal Manus, mengatakan kepada RNZ Pacific bahwa komunitasnya sangat prihatin dengan apa yang mereka lihat dalam video tersebut.
“Ada banyak lumba-lumba, yang membuat saya sangat marah, ketika saya melihat ada lumba-lumba mati di dalam jaring.”
“Mereka membunuh lumba-lumba kita. Kita seharusnya melindungi mereka. Mengapa kapal-kapal nelayan ini datang ke laut kita dan melakukan ini pada lumba-lumba dan spesies laut kita?”
Red Robin 88 adalah kapal penangkap ikan asing yang berbasis di perairan lokal dan dimiliki oleh Frabelle Fishing Corporation, sebuah perusahaan milik Filipina yang telah lama berdiri di perairan PNG.
Menteri Perikanan dan Sumber Daya Kelautan PNG, Jelta Wong, mengatakan kepada RNZ Pacific bahwa ia mengharapkan laporan tentang insiden tersebut dari Unit Pengawasan Otoritas Perikanan Nasional.
“Ini ilegal. Saya sedang menyelidiki ini. Mereka akan dihukum berat, saya sedang meneliti bukti-buktinya,” kata Wong.
Sejumlah besar lumba-lumba hidup di laut sekitar Provinsi Manus, di mana mereka sangat dihargai oleh masyarakat setempat sebagai makhluk hidup yang memiliki kesadaran dan membantu orang yang tersesat di laut menemukan jalan pulang.
“Kami menyayangi mereka, mereka adalah bagian dari kami,” kata Semin.
“Kami senang merawat berbagai spesies seperti lumba-lumba dan hewan laut lainnya, jadi hal itu akan membuat masyarakat kami sangat marah ketika mereka menemukan video ini.”tambahnya.
Dia mengatakan bahwa selain menunjukkan kapal yang menangkap sejumlah besar tuna, rekaman orang asing yang menarik lumba-lumba mati dari jaring itu menyinggung perasaan masyarakat PNG.
“Itulah yang membuat saya sangat marah, karena kami mencintai lumba-lumba, kami melestarikan lumba-lumba di wilayah kami, dan ketika kapal nelayan ini datang dan bertindak seperti ini, ini tidak baik, ini sama sekali tidak benar,” katanya.(*)
























Discussion about this post