Jayapura, Jubi – Gubernur NCD Powes Parkop kemarin memimpin pawai dari Pantai Ela ke Stadion Sir Hubert Murray pada Hari Samudra Dunia, 8 Juni 2026. Ia mengajak warga melindungi samudra Papua Nugini (PNG) dari polusi plastik dan ancaman iklim.
Pawai tersebut mendapat partisipasi aktif dari masyarakat, menyampaikan pesan yang kuat tentang pentingnya suara dan dukungan kolektif, seperti dikutip Jubi dari laman internet tvwan.com.pg Rabu (10/6/2026).
Gubernur Parkop mengingatkan para peserta bahwa wilayah laut Papua Nugini yang membentang seluas 4,2 juta km², hampir sepuluh kali luas daratannya — menghasilkan antara 50–80 persen oksigen Bumi dan menopang keanekaragaman hayati yang kaya, termasuk 25 persen dari stok tuna dunia.
“Samudra kita lebih besar dari daratan kita, dan samudra menentukan identitas kita, ekonomi kita, dan masa depan kita,” kata Gubernur Parkop.
Tema tahun ini, “Kawasan Lindung Laut yang Kuat untuk Planet Biru Kita”, menjadi kerangka acara tersebut.
Gubernur Parkop mendesak warga untuk berhenti membuang sampah sembarangan di saluran air dan pantai, mengadopsi praktik penangkapan ikan yang berkelanjutan, dan mendukung program konservasi.
“Kita harus bertindak sekarang — melalui rehabilitasi terumbu karang, pembersihan, inovasi pengolahan sampah menjadi energi, dan pendidikan untuk melindungi warisan laut kita bagi generasi mendatang,” katanya.
Gubernur Parkop menguraikan beberapa program untuk melindungi ekosistem laut dan masyarakat pesisir, yaitu rehabilitasi karang dengan LSM untuk memulihkan terumbu karang dan menanam karang.
Program pembersihan pantai diperluas di Pantai Ela dan lokasi lain untuk mengatasi sampah plastik.
Proyek daur ulang sampah menjadi energi untuk mengubah plastik dan ban menjadi listrik dan material ramah lingkungan.
Pengembangan Taman Ekologi di Tempat Pembuangan Sampah Baruni untuk mengolah sampah secara berkelanjutan.
Beasiswa untuk ilmu kelautan untuk membangun kapasitas di bidang biologi kelautan, botani, dan entomologi.
Hari Samudra Dunia, yang diperingati secara global pada 8 Juni 2026, dan menyoroti kebutuhan mendesak untuk melindungi spesies laut, keanekaragaman hayati, terumbu karang, dan zona pesisir.
Terletak di jantung Segitiga Karang, Papua Nugini adalah rumah bagi sekitar 13.840 km² terumbu karang dan sekitar 600 pulau, menjadikan pengelolaan laut sebagai prioritas nasional.
Gubernur Parkop menyimpulkan: “Pencemaran plastik, pemutihan karang, dan naiknya permukaan laut bukanlah ancaman yang jauh; ancaman-ancaman itu sudah ada di sini, mengikis garis pantai kita dan membahayakan ketahanan pangan kita.” (*)
























Discussion about this post