Jayapura, Jubi – Pemandangan berbeda langsung terlihat begitu memasuki kawasan Dok IX (Doksem) Kali dan Pasar Inpres Tanjung Ria di Distrik Jayapura Utara. Sebuah gapura besar bertuliskan ‘Kampung Piala Dunia’ menyambut setiap orang yang datang, lengkap dengan barisan bendera negara kontestan hingga lukisan wajah megabintang sepak bola, seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
Langit-langit gang pun semarak oleh juntaian bendera kecil warna-warni yang menyeberang dari atap-atap bangunan. Dinding-dinding pembatas rumah dan talud jalanan tidak ada yang dibiarkan kosong.
Deretan lukisan wajah bintang-bintang sepak bola hingga lukisan bermotif ukiran khas Papua berjejer rapi di pinggir jalan. Begitu pula deretan bendera negara kontestan yang memanjang mengikuti pagar pembatas bangunan.
Tidak ketinggalan, di area dinding juga terpampang lukisan tokoh legendaris dunia seperti Diego Maradona dan Zinedine Zidane yang sedang mengangkat trofi emas. Bahkan, lereng bukit curam pun disulap menjadi replika tribun stadion berukuran besar yang dilengkapi gambar Piala Dunia.
Suasana penuh warna inilah yang rutin menjadi pusat perhatian dan tempat berkumpulnya para pecinta bola di Kota Jayapura usai melakukan konvoi.
Melawan stigma
Siang itu, Rabu (10/6/2026), suasana meriah langsung terasa begitu memasuki area RW 07 Dok IX Kali, Kelurahan Imbi. Gambar bintang-bintang sepak bola dunia ada di sepanjang tembok rumah warga. Tempat ini memang punya sejarah panjang, karena sudah sejak 2014 warga selalu menghias kampung setiap menyambut Piala Dunia empat tahun sekali. Bahkan emat tahun lalu, 2022 , kreativitas mereka sempat mendapat juara satu dalam lomba tingkat nasional.
Bagi warga di sini, menghias kampung bukan cuma soal ikut meramaikan turnamen atau biar kelihatan bagus di foto. Ada alasan lain yang lebih mendalam.

“Yang menjadi penggerak akan hal ini adalah kami mau melawan stigma buruk terhadap kompleks kami yang selalu dicap kompleks ganja, begal, dan terkenal dengan hal-hal negatif dan dicap merah di Kota Jayapura,” kata Odhi Bisay, koordinator Kampung Piala Dunia Doksem Kali.
Odhi menceritakan selama ini kompleks tempat tinggal mereka sering dipandang sebelah mata. Lewat momen inilah mereka ingin menunjukkan sisi lain yang berbeda.
”Kami mau membuktikan bahwa di balik hal negatif yang distigmakan kepada kami, ada sesuatu alias hal positif dari kami lakukan dan membuat bangga orang-orang di Kota Jayapura,” ujarnya.
Ia juga mengutip kalimat dari salah satu senior di kompleksnya, Pilipus Robaha, yang selalu mereka ingat, “Dari tangan-tangan yang distigma pemabuk dan ganja, lahir maha karya Kampung Piala Dunia Dok IX.”
Bakat anak-anak muda di sini sebenarnya banyak, mulai dari melukis sampai desain grafis. Hanya saja, selama ini belum ada wadah khusus untuk menampung bakat mereka.
Ariel Auparay, pemuda Doksem Kali, merasakan bagaimana kegiatan ini bisa mengumpulkan anak-anak muda di kompleks untuk bekerja bersama secara sukarela.
”Adanya Kampung Piala Dunia ini bisa membuat anak-anak muda bisa berkumpul jadi satu dalam segala aspek. Untuk jadi satu padu untuk merancang Kampung Piala Dunia. Dengan ini, agar anak-anak muda bisa menyalurkan bakat-bakat mereka di dalam Kampung Piala Dunia,” katanya.
Menurut Ariel, pengerjaan ini berjalan begitu saja tanpa ada yang menyuruh. Semuanya bergerak karena kemauan sendiri.
”Puluhan, karena anak-anak muda di sini nih tidak dikomando, tidak diperintah. Iya, inisiatif. Ini sudah yang ketiga kali. Cuma memang tahun kemarin sempat ambil juara, makanya tahun ini kita berusaha lagi untuk mempertahankan. Iya, swadaya,” tambahnya.
Awalnya seluruh modal pengerjaan berasal dari patungan warga sendiri, sebelum akhirnya ada beberapa bantuan yang masuk untuk membeli cat dan kebutuhan lainnya dari pemerintah kota serta pihak swasta.
Semangat baru di Paris van Japrax
Tidak jauh dari Doksem Kali, tepatnya di Dox IX RW 04 Pasar Inpres Tanjung Ria, warga juga membuat hal serupa. Anak-anak muda dan orang-orang di kompleks itu menamakan pemukiman mereka dengan ‘Paris van Japrax’. Berbeda dengan tetangganya, tahun ini pertama kalinya mereka ikut membuat Kampung Piala Dunia.

Gerakan ini dimulai dari kegelisahan warga yang ingin merangkul anak-anak muda di lingkungan mereka agar punya kegiatan positif.
”Iya, pertama kali kami bentuk Kampung Piala Dunia ini, menyongsong Kampung Piala Dunia, karena kami lihat bahwa kami punya anak-anak yang ada di kompleks ini dalam status yang ya, kalau latar belakang mereka sering distigma. Jadi, kami dengan cara ini ingin mengubah stigma itu,” kata Agus Arobaya, koordinator umum di Kampung Piala Dunia Paris van Japrax.
Untuk mengelola kegiatan ini, warga akhirnya membentuk badan pengurus pemuda-pemudi yang melibatkan satu RW, dari RT 01 sampai RT 06. Mereka mulai bekerja sejak 18 Februari 2026.
”Iya, jadi kami libatkan semua pemuda-pemudi yang ada di enam RT ini, yang jumlahnya puluhan,” ujar Arobaya.
Urusan biaya untuk beli cat serta makan-minum selama beraktivitas didapat dari swadaya murni warga, ditambah sedikit bantuan dari beberapa ‘orang besar’.
”Ya, jadi kalau kami hitung, ya kotor itu mungkin di atas Rp 5 juta sampai Rp 6 juta. Tapi mungkin ada lebihnya juga. Ada yang sumbang langsung tanpa dia kasih uang, tapi dia langsung kasih cat, dia kasih ini, jadi kami tidak hitung ke situ,” kata Arobaya.
Meskipun tahun ini tidak ada lomba resmi dari stasiun TV, warga Paris van Japrax tidak terlalu peduli dengan urusan juara. Mereka tetap menjaga semangat kebersamaan.
”Mau lomba atau tidak, kami tidak pikirkan itu, tapi kami berpikir bahwa kami tetap bikin ini untuk memeriahkan Piala Dunia 2026. Iya, jadi kalau untuk kami punya satu semangat, yaitu satu dunia satu semangat. Itu yang kami tetap ber-euforia, maksudnya semangat terus dengan Piala Dunia ini,” ujar Arobaya.
Yakob Heipon yang bertugas sebagai koordinator lapangan di Paris van Japrax, mengaku sangat bersemangat mengawal kerja gotong royong ini karena ingin membawa perubahan bagi kampungnya.
”Karena kami lihat ramainya Piala Dunia, kami tetap semangat untuk bekerja terus. Kami juga ingin Kampung Piala Dunia Paris Van Japrax di sini harus viral juga. Tidak boleh tertinggal lagi di belakang toh, harus juga ada perubahan kompleks ini,” kata Yakob.
Ia mengakui tidak semua anak muda langsung ikut, tapi perhatian dari warga terus mengalir. “Kalau untuk anak-anak muda di sini, dorang (mereka) ada yang mendukung, ada yang tidak mendukung. Tapi mereka jalan tetap ada sedikit-sedikit perhatian sama kami yang ada bekerja di kegiatan ini,” ujarnya.
Menyisipkan pesan sosial
Di tengah ramainya warna-warni bendera dan konvoi fans sepak bola yang sering berakhir di Doksem Kali, anak-anak muda di sana tidak ingin perayaan ini membuat orang lupa pada keadaan sekitar.

Di antara mural pemain bola, mereka sengaja melukis pesan-pesan sosial tentang kondisi Papua saat ini, seperti masalah lahan adat dan konflik di beberapa kabupaten.
Odhi Bisay mengingatkan agar setiap orang yang datang berkunjung untuk foto-foto bisa melihat pesan tersebut.
“Harapan yang berikutnya dari kami adalah euforia dari Piala Dunia ini jangan sampai membuat kita semua melupakan realita yang terjadi di tanah kita, desentralisasi lahan adat, konflik, serta pengungsian besar-besaran di berbagai kabupaten,” kata Odhi.
Lewat mural bertuliskan tolak PSN ‘Papua Bukan Tanah Kosong’, mereka ingin menyuarakan apa yang sedang dihadapi masyarakat di Papua.
”Maka itu kami berpesan lewat mural-mural yang ada tentang tolak PSN dan stop militerisme ke Papua agar setiap fans yang datang untuk foto-foto di sini tidak terbuai terlalu dalam dengan euforia Piala Dunia, karena tanah ini sedang menghadapi eksploitasi besar-besaran. Oleh sebab itu, kita jangan diam dan mari lawan menggunakan talenta yang kita miliki menyuarakan apa yang sedang terjadi di tanah kita,” jelasnya.
Anak-anak muda di Doksem berharap apa yang mereka lakukan bisa menjadi contoh yang baik untuk kompleks lainnya di Jayapura. Stigma buruk di tengah masyarakat sedapat mungkin dijadikan motivasi untuk membuktikan diri lewat hal-hal yang nyata.
”Semoga apa yang kami lakukan ini bisa berdampak positif bagi kompleks lainnya di tempat lain, bahwa stigma jelek dari orang-orang terhadap kita harus dijadikan motivasi untuk mengeluarkan potensi yang ada di dalam diri kita. Jangan pernah down karena stigma jelek itu, karena kita berhak mendapat kesempatan untuk memperbaiki hal jelek itu lewat talenta yang dikasih kepada kita,” kata Odhi.
Pesan glokal
Fenomena Kampung Piala Dunia di kawasan Dok IX Kota Jayapura ini juga memantik perhatian dari kacamata akademisi. Hanro Yonathan Lekitoo, antropolog dari Universitas Cenderawasih, melihat gerakan menghias kampung ini sebagai bentuk adaptasi budaya yang unik.

”Jadi barang ini sebenarnya di dalam konteks global, ini sebenarnya dunia global, yang kemudian ditarik masuk dalam dunia lokal. Dengan berbagai macam interpretasi,” ujar Hanro.
Ia melihat pemilihan bendera dan negara idola oleh warga Papua memiliki latar belakang psikologis dan historis tersendiri, bukan ikut-ikutan tren.
”Mereka punya tim-tim idola sendiri, ada yang pilih Argentina, Brasil, dan ada juga Belanda. Tetapi kalau dalam konteks antropologi ini disebut glokal, global lokal,” kata Hanro.
Bagi Hanro, sepak bola pada dasarnya adalah media universal yang membawa pesan-pesan kemanusiaan yang sangat kuat, terutama di wilayah yang sedang menghadapi dinamika sosial politik yang tinggi.
”Di situ artinya bahwa tidak ada diskriminasi apa pun. Semua yang hadir itu harus punya mental sportivitas. Sportivitas artinya menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai perbedaan, nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai keadilan, kejujuran, persatuan di tengah situasi yang seperti sekarang ini,” jelasnya.
Hubungan timbal balik antara gejolak di dunia internasional dan situasi domestik di Papua juga tercermin dari bagaimana anak-anak muda mengekspresikan diri mereka di dinding kampung.
”Sebenarnya pesannya bahwa apa pun fenomena dunia, dia berdampak pada konteks lokal, kita lokal kena juga. Ya, pesan sepak bola hari ini tuh mereka menginginkan itu. Menginginkan perdamaian, persatuan, kemanusiaan, humanisme, keadilan, kasih, dan damai. Dengan adanya Piala Dunia ini, ya pesan-pesan itu yang disampaikan,” lanjut Hanro.
Pada akhirnya, ruang-ruang dinding di Doksem dan Tanjung Ria yang kini dipenuhi cat warna-warni bukan hanya urusan olahraga ataupun euforia belaka, melainkan sebuah kebebesan berekspresi bagi warga untuk menyuarakan hak mendasar mereka.
”Ada sesuatu yang tertanam dalam dia punya batin, dalam gejolak jiwanya itu. Tentang kebebasan misalnya. Ekspresi, kebebasan berekspresi. Orang bilang itu masalah global tapi ada di tingkat lokal. Dalam tingkat global itu dia punya ekspresi dalam konteks lokal juga. Itu keinginan-keinginan yang sebenarnya secara universal ada juga di tingkat lokal,” katanya. (*)




Discussion about this post