Teminabuan, Jubi – Sebuah kapal tongkang yang mengangkut puluhan alat berat jenis ekskavator di Pelabuhan Jamarema, Distrik Metemani, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, Selasa (31/3/2026). Kedatangan alat-alat berat tersebut mendatangkan kekhawatiran ancaman konflik akibat penolakan eksploitasi hutan dan perampasan ruang hidup mereka.
Menanggapi situasi tersebut, Kepala Suku Besar Imekko Yohoan Bodory segera mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh masyarakat adat Imekko agar bersikap waspada dan tidak membiarkan aktivitas ekskavator berlangsung.
“Kami meminta masyarakat tetap tenang tetapi juga tegas menjaga wilayah adat. Jika ada ekskavator yang masuk masyarakat berhak menahan aktivitas tersebut secara adat, sambil melaporkan kepada pihak-pihak yang berwenang,” ujarnya Selasa malam.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga situasi tetap kondusif namun tidak membiarkan aktivitas yang berpotensi merusak wilayah adat berlangsung begitu saja.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat adat Imekko agar tetap waspada dan jika menemukan adanya aktivitas pendropan alat berat seperti ekskavator di wilayah adat Imekko maka masyarakat diminta segera menahan aktivitas tersebut secara adat dan dengan cara yang bijaksana sambil melaporkan kepada Lembaga Masyarakat Adat, Kepala Suku Besar Imekko, serta Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong Selatan,” tegas Yohoan Bodory.
Informasi yang di himpun media Jubi dari Masyarakat, kapal tongkang tersebut diduga membawa ekskavator yang akan digunakan oleh perusahaan kelapa sawit dalam skala sangat luas di kawasan Imekko.
Oleh karena itu, imbauan dari Kepala Suku Besar Imekko agar agar masyarakat segera bertindak menjaga wilayah mereka, sebelum aktivitas perusahaan berkembang lebih jauh. Langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab adat dalam menjaga wilayah leluhur dari ancaman eksploitasi yang berpotensi merusak hutan dan merampas hak masyarakat adat.
“Hutan adat bukan sekadar wilayah kosong yang bisa dimasuki begitu saja oleh Perusahaan, tetapi hutan adat adalah ruang hidup masyarakat Imekko yang diwariskan oleh leluhur kami. Di dalamnya ada sejarah, ada kehidupan, ada sumber pangan, dan ada identitas kami sebagai orang Imekko,” katanya.
Ia mengingatkan semua pihak masuknya alat berat tanpa komunikasi yang jelas dengan masyarakat adat berpotensi memicu konflik sosial di wilayah tersebut .
“Kami tidak menolak pembangunan, tetapi setiap aktivitas yang masuk ke wilayah adat harus melalui mekanisme adat dan persetujuan masyarakat,” ujarnya.
Ia tidak ingin wilayah imekko yang damai kemudian berubah menjadi wilayah konflik akibat Perusahaan dengan dukungan pemerintah dan pihak keamanan memaksakan diri beroperasi, membuka hutan adat yang dijaga oleh Masyarakat adat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Jubi, kapal tongkang yang mengangkut puluhan ekskavator tersebut diduga memiliki tujuan menuju wilayah operasi perusahaan yang berafiliasi salah satu Perusahaan sawit terbesar di Indonesia.
Pembukaan lahan tersebut dikhawatirkan akan berdampak besar terhadap keberlangsungan hutan adat dan kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.
“Kami tidak ingin hutan adat Imekko dibuka secara besar besaran.. Ini ancaman serius bagi hutan adat dan kehidupan masyarakat kami,” kata Yohoan.
Masyarakat adat Imekko telah lama berkomitmen menjaga kelestarian hutan yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Masyarakat adat juga telah menyampaikan penolakannya secara berjenjang kepada Bupati, DPRK, DPRP, Gubernur hingga pemerintah pusat dalam beberapa tahun terakhir. Alasannya hutan adat adalah warisan leluhur, ruang hidup dan sumber penghidupan. Tanpa hutan, masyarakat adat akan mati.
“Hutan ini bukan untuk dirusak atau dijual kepada perusahaan, tetapi untuk dijaga dan diwariskan kepada generasi anak cucu kami,” katanya.
Dengan segala penolakan, puluhan ekskavator tetap didatangkan dan tiba di Imekko, Selasa (31/3/2026).
“Jika ada perusahaan yang mencoba masuk secara diam diam dengan membawa puluhan ekskavator, maka itu jelas menimbulkan duka besar bagi masyarakat adat,” ujarnya.
Namun di tengah kekhawatiran tersebut, masyarakat adat Imekko menegaskan akan menjaga tanah leluhur mereka dan hutan adat adalah warisan leluhur.
“Ini ancaman serius bagi kehidupan masyarakat kami, akan akan menjaga hutan ini, tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada kami,” tegas Yohoan. (*)




Discussion about this post