• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Domberai

Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

May 22, 2026
in Domberai
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: Gamaliel M. Kaliele - Editor: Arjuna Pademme
Masyarakat Adat

Wakil Ketua I LMA Nasawat, Marten Saflela saat menyerahkan apa yang menjadi tuntutan masyarakat adat kepada Kepala Bidang Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanahan Papua Barat Daya, Sarteis Yulian Sagrim, Jumat (22/5/2026) - Jubi/Gamaliel Kaliele

0
SHARES
120
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Teminabuan, Jubi – Masyarakat adat Nasawat di Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya menolak skema hutan desa, yang sedang dirumuskan oleh pemerintah kabupaten (pemkab) setempat.

Penolakan itu disampaian masyarakat adat yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Nasawat bersama pemuda adat, Wsan Kmindin, GMKI dan GMNI Kabupaten Sorong Selatan, dengan mendatangi kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sorong Selatan, Jumat (22/5/2026).

Masyarakat adat Nasawat menolak skema itu, sebab pemerintah dinilai secara sepihak telah memasukkan wilayah adat mereka dalam skema hutan desa dan perhutanan sosial, tanpa persetujuan masyarakat adat pemilik hak ulayat.

Mereka menuntut pemerintah segera menghentikan seluruh proses penyusunan dokumen perhutanan sosial di wilayah adat Nasawat Sawiat Raya.

Skema hutan desa dinilai justru menjadi bentuk baru penguasaan negara atas tanah adat, yang selama ini dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat adat tanpa campur tangan negara.

Wakil Ketua I LMA NASAWAT, Marten Saflela menegaskan bahwa masyarakat adat Nasawat Sawiat Raya mempertahankan hutan adat berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012. Putusan itu menegaskan bahwa hutan adat bukan lagi hutan negara.

“Kami masyarakat adat Nasawat Sawiat Raya menyampaikan dengan tegas bahwa hutan adat adalah warisan leluhur yang selama ini kami jaga dengan kehidupan turun-temurun,” kata Marten Saflela.

BERITATERKAIT

Delapan komunitas anak muda adat terbentuk di Sorong Selatan

Aktivis pertanyakan kedatangan puluhan ekskavator di wilayah adat Imekko

Puluhan ekskavator tiba di Sorong Selatan, warga diimbau waspada

Kain dan cat merah, upaya masyarakat adat Papua jaga paru-paru dunia

Katanya, negara tidak boleh mengambil dan menetapkan wilayah adat mereka tanpa persetujuan masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

“Yang kini dimasukkan ke dalam skema hutan desa mencakup ribuan hektar tanah adat di Kampung Wehali, Kampung Magis, Kampung Sfakyo dan wilayah Ween, yang dilakukan tanpa musyawarah dan persetujuan masyarakat adat,” ucapnya.

Menurutnya, di Kampung Wehali ada sekitar 4.989 hektare kawasan yang dimasukkan dalam skema hutan desa. Di Kampung Magis 1.692 hektare, Kampung Sfakyo sekitar 5.000 hektare dan Kampung Ween sekitar 2.537 hektare.

Ia mengatakan, yang diperjuangkan masyarakat adat adalah pengakuan penuh terhadap hutan adat sebagai hak asli masyarakat adat yang diwariskan leluhur sejak turun-temurun.

Sementara itu, Ketua GMKI Kabupaten Sorong Selatan, Gofon Arky Lemauk mengatakan pihaknya berdiri bersama masyarakat adat Nasawat untuk menjaga hutan adat dari segala bentuk kebijakan yang mengabaikan hak-hak masyarakat adat.

Katanya, negara tidak boleh mengambil keputusan sepihak tanpa mendengar suara masyarakat pemilik tanah adat.

“Pemerintah tidak bisa bicara pembangunan kalau hak masyarakat adat diinjak-injak,” kata Gofon Lemauk.

Menurutnya, masalah hutan adat di Papua bukan hanya mengenai administrasi negara, juga berkaitan dengan identitas, sejarah, kehidupan dan masa depan masyarakat adat turun-temurun. Mereka menjaga hutan tanpa merusaknya.

Karenanya negara dipandang wajib menghormati masyarakat adat sebagai subjek utama dalam pengelolaan hutan di Tanah Papua. Sebab, bagi masyarakat adat hutan bukan sekadar kayu dan tanah. Melainkan mama yang memberi kehidupan.

“Ketika negara masuk tanpa persetujuan masyarakat adat, itu sama saja negara sedang mencabut kehidupan masyarakat adat Papua. Ini yang kami lawan bersama,” ujarnya.

Lemauk juga menyoroti lemahnya sosialisasi pemerintah terkait regulasi perhutanan sosial di Papua Barat Daya, sehingga apabila masyarakat adat menolak, itu menandakan ada yang salah dalam prosesnya.

Ia menilai banyak kebijakan pemerintah dibuat tanpa memahami realitas masyarakat adat di kampung-kampung. Akibatnya berbagai program negara justru menimbulkan konflik baru di tengah masyarakat adat.

“Kami tidak akan tinggal diam. GMKI bersama masyarakat adat akan terus bersuara sampai negara mengakui hutan adat sebagai hak penuh masyarakat adat,” kata Lemauk.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanahan Papua Barat Daya, Sarteis Yulian Sagrim saat menerima aspirasi masyarakat adat mengakui bahwa pemerintah provinsi belum maksimal melakukan sosialisasi kepada masyarakat adat terkait skema perhutanan sosial.

“Kami mengakui ada kelemahan pemerintah provinsi karena belum melakukan sosialisasi secara menyeluruh terkait Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2021 dan aturan Perhutanan Sosial. Itu menjadi kelemahan kami,” kata Sarteis Yulian Sagrim.

Menurutnya, pemerintah provinsi hanya melaksanakan regulasi yang dibuat pemerintah pusat, termasuk aturan mengenai skema perhutanan sosial yang lahir dari berbagai regulasi nasional.

Namun penjelasan tersebut tidak sepenuhnya diterima masyarakat adat. Massa tetap bersikeras bahwa skema hutan desa dan perhutanan sosial justru menjadi pintu masuk negara mengambil alih kawasan adat, tanpa pengakuan penuh terhadap hak masyarakat adat.

Mereka mendesak pemerintah pusat dan daerah segera mencabut seluruh Surat Keputusan (SK) tentang hutan desa yang diterbitkan tanpa persetujuan masyarakat adat, dan menggantinya dengan pengakuan penuh terhadap hutan masyarakat adat.

Dalam aksi ini LMA Nasawat menyampaikan pernyataan sikap, yaitu menolak dengan tegas skema hutan desa dan perhutanan sosial di wilayah adat Nasawat karena tidak sesuai dengan hak dan keberadaan masyarakat adat.

Menolak lima Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yakni SK Nomor 8366 Tahun 2024, 8368 Tahun 2024, 8373 Tahun 2024, 8371 Tahun 2024, yang memasukkan hutan adat ke dalam skema hutan desa tanpa melibatkan masyarakat adat.

Menolak pembentukan kelompok-kelompok perhutanan sosial di atas wilayah adat, tanpa persetujuan masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat.

Mendesak pemerintah pusat dan daerah menghormati hak-hak masyarakat adat serta melibatkan masyarakat adat dalam setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan wilayah adat.

Menegaskan bahwa masyarakat adat hanya menerima pengakuan dan penetapan hutan masyarakat adat sebagai bentuk perlindungan hak masyarakat adat sesuai peraturan perundang-undangan.

Meminta agar aspirasi masyarakat adat Nasawat Sawiat Raya segera ditindaklanjuti demi menjaga hak, martabat dan keberlangsungan hidup masyarakat adat. (*)

Tags: hutan desaKabupaten Sorong SelatanMasyarakat Adat Nasawat
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Front Rakyat

Front Rakyat Domberai berdemostrasi menolak PSN dan militerisme

May 21, 2026
Nobar Pesta Babi

Usai nobar ‘Pesta Babi’, Cipayung Plus se-Kabupaten Sorong nyatakan sikap

May 20, 2026

Film Pesta Babi: Edukasi masalah yang dihadapi masyarakat di Tanah Papua

May 19, 2026

Kapolda Papua Barat: Nobar ‘Pesta Babi’ tak masalah selama lulus sensor

May 16, 2026

Pemerintah didesak benahi jalan dan jembatan yang rusak berat di Teluk Bintuni

May 15, 2026

Personel Kodim Manokwari bantu pembangunan KDMP karena kontraktor tak sanggup

May 13, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey
  • Latest
  • Trending
  • Comments
The atmosphere during the joint screening and discussion of the documentary film 'Pig Feast': Colonialism in Our Times, at the Christ the Light of the World Catholic Church Hall, Waena, Heram District, Jayapura City, Papua, Friday (22/05/2026) - Jubi/Yuliana Lantipo

‘Pig Feast’: A Testimony of the Humanitarian Crisis in Papua

May 23, 2026
Deputy Chairperson I of LMA Nasawat, Marten Saflela, hands over the Indigenous community’s demands to Sarteis Yulian Sagrim, Head of the Watershed Management and Social Forestry Division at the Southwest Papua Environment, Forestry, and Land Agency, on Friday (22/5/2026). — Jubi/Gamaliel Kaliele

Indigenous Nasawat Community Rejects Village Forest Scheme

May 23, 2026
Pesta Babi

Pesta Babi resmi tayang dari Tanah Papua, musim nobar berlanjut

May 22, 2026
Pesta Babi

Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

May 23, 2026
Masyarakat Adat

Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

May 22, 2026
Bea Cukai Jayapura

Bea Cukai Jayapura musnahkan puluhan ribu batang rokok ilegal

May 22, 2026
Pemprov Papua Tengah

Pemprov Papua Tengah kembangkan tanaman kelapa untuk kesejahteraan masyarakat

May 22, 2026
Anak yang ditembak

Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

May 20, 2026
Pesta Babi

Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

May 23, 2026
Nobar Pesta Babi

Usai nobar ‘Pesta Babi’, Cipayung Plus se-Kabupaten Sorong nyatakan sikap

May 20, 2026
kebun sayur

Kebun sayur di lahan kosong Kota Jayapura

May 21, 2026
Masyarakat Adat

Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

May 22, 2026
Front Rakyat

Front Rakyat Domberai berdemostrasi menolak PSN dan militerisme

May 21, 2026
Dialog Lintas Iman

Dialog Lintas Iman: Evaluasi kebijakan yang memperparah krisis kemanusiaan di Tanah Papua

May 22, 2026
The atmosphere during the joint screening and discussion of the documentary film 'Pig Feast': Colonialism in Our Times, at the Christ the Light of the World Catholic Church Hall, Waena, Heram District, Jayapura City, Papua, Friday (22/05/2026) - Jubi/Yuliana Lantipo

‘Pig Feast’: A Testimony of the Humanitarian Crisis in Papua

0
Deputy Chairperson I of LMA Nasawat, Marten Saflela, hands over the Indigenous community’s demands to Sarteis Yulian Sagrim, Head of the Watershed Management and Social Forestry Division at the Southwest Papua Environment, Forestry, and Land Agency, on Friday (22/5/2026). — Jubi/Gamaliel Kaliele

Indigenous Nasawat Community Rejects Village Forest Scheme

0
Pesta Babi

Pesta Babi resmi tayang dari Tanah Papua, musim nobar berlanjut

0
Pesta Babi

Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

0
Masyarakat Adat

Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

0
Bea Cukai Jayapura

Bea Cukai Jayapura musnahkan puluhan ribu batang rokok ilegal

0
Pemprov Papua Tengah

Pemprov Papua Tengah kembangkan tanaman kelapa untuk kesejahteraan masyarakat

0

English Stories

The atmosphere during the joint screening and discussion of the documentary film 'Pig Feast': Colonialism in Our Times, at the Christ the Light of the World Catholic Church Hall, Waena, Heram District, Jayapura City, Papua, Friday (22/05/2026) - Jubi/Yuliana Lantipo
Pacnews

‘Pig Feast’: A Testimony of the Humanitarian Crisis in Papua

May 23, 2026
Deputy Chairperson I of LMA Nasawat, Marten Saflela, hands over the Indigenous community’s demands to Sarteis Yulian Sagrim, Head of the Watershed Management and Social Forestry Division at the Southwest Papua Environment, Forestry, and Land Agency, on Friday (22/5/2026). — Jubi/Gamaliel Kaliele
Pacnews

Indigenous Nasawat Community Rejects Village Forest Scheme

May 23, 2026
TPNPB
Pacnews

West Papua National Liberation Army (TPNPB) in Yahukimo Claims Eight Suspected Security Officers Killed in Operation

May 21, 2026
KNPB
Pacnews

Yahukimo Police Release Arrested KNPB (West Papuan National Committee) Activist

May 21, 2026
Child shot
Pacnews

Child Shot During Military Operation in Puncak Dies After Weeks of Treatment

May 20, 2026

Trending

  • Anak yang ditembak

    Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Usai nobar ‘Pesta Babi’, Cipayung Plus se-Kabupaten Sorong nyatakan sikap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebun sayur di lahan kosong Kota Jayapura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara