Jayapura, Jubi – United Liberation Movement for West Papua atau ULMWP menyatakan, berdasarkan laporan yang diterima organisasi itu seorang anak berusia lima tahun bernama Para Walia mengalami luka tembak saat terjadi operasi militer di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, Selasa (14/4/2026).
ULMWP menyatakan, operasi militer itu menewaskan dan melukai sejumlah warga sipil di sana.
Presiden Eksekutif ULMWP, Menase Tabuni mengatakan kronologis awal yang dihimpun ULMWP, penembakan terhadap warga sipil itu terjadi Selasa dini hari waktu Papua (WP).
Katanya, sehari sebelumnya, Senin (13/4/2026), operasi militer dilakukan di Kampung Guamo, Distrik Pogoma. Operasi tersebut melibatkan empat helikopter yang dilaporkan menjatuhkan amunisi peledak di areal yang diduga sebagai pangkalan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau TPNPB.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Akibatnya, warga sipil melarikan diri dari Pogoma dan mencari perlindungan di Distrik Kembru. Sebelumnya, wilayah itu telah disepakati oleh semua pihak sebagai zona aman bagi pengungsi, dan tidak akan dilakukan operasi militer di sana.
“Namun, pada hari Selasa, 14 April 2026, pasukan militer Indonesia dilaporkan melakukan operasi di Distrik Kembru, baik melalui udara (menggunakan helikopter) maupun darat, yang mengakibatkan korban jiwa di kalangan warga sipil,” kata Manase Tabuni dalam siaran pers tertulisnya, Jumat (17/4/2026).
Laporan awal yang di terima ULMWP korban tewas dan luka tembak dari kalangan ada sembilan orang. Mereka adalah Wundili Kogoya (36 tahun), Kikungge Walia (55 tahun), Pelen Kogoya (65 tahun), Tigiagan Walia (76 tahun), Ekimira Kogoya (47 tahun), Daremet Telenggen (55 tahun), Inikiwewo Walia (52 tahun), Amer Walia (77 tahun) dan Para Walia (5 tahun).
“Berdasarkan laporan dari lapangan, hingga saat ini situasi belum normal. Operasi militer dilaporkan masih berlangsung, mengakibatkan korban jiwa, ketakutan, dan trauma. Banyak warga sipil telah mengungsi dan mencari perlindungan di Distrik Kembru,” ucap Manase Tabuni.
Menyikapi situasi itu, ULMWP menyerukan kepada rakyat Papua untuk selalu menjaga dan menyelamatkan diri kapan pun dan di mana pun berada, serta tidak boleh terprovokasi dengan mudah, tidak boleh percaya kepada pihak mana pun, terutama pemerintah Indonesia beserta seluruh perangkatnya, termasuk TNI/Polri, yang terus hadir untuk meneror dan membunuh rakyat Papua Barat.
“Kami menyerukan kepada para pemimpin Melanesia, Pasifik, hingga komunitas internasional untuk menggalang dukungan solidaritas dalam menghadapi tragedi krisis kemanusiaan yang terus terjadi di Papua Barat,” ujarnya.
ULMWP mendesak Dewan HAM PBB, segera membentuk tim investigasi independen atas situasi krisis dan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Papua Barat, dan menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak.
“Semoga Roh Allah menguatkan dan menghibur keluarga besar yang ditinggalkan serta seluruh rakyat West Papua di mana saja berada. Sebagai orang beriman yang baru saja selesai mengikuti pesta Paskah, tetaplah kuat dan berharaplah pada penyertaan Tuhan, bahwa Tuhan tetap menjadi Penyelamat, menguatkan, serta menuntun setiap keluarga dan perjuangan kudus bangsa Papua,” kata Manase Tabuni.
Di sisi lain, pihak TNI menyatakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) telah menyerang lima warga sipil usai di Kabupaten Puncak. Penyerangan terjadi setelah kelompok itu membakar rumah warga di sana.
Dikutip dari berbagai sumber, Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf Wirya Arthadiguna mengatakan lim warga itu dilaporkan mengalami luka tembak.
“Pelaku penembakan diduga kelompok OPM Kodap III/Sinak pimpinan Lekagak Telenggen. Adapun kelima korban masing-masing inisial NK, AT, DW usia 3 tahun, AW usia 5 tahun, dan OW usia 6 tahun,” kata Letkol Inf Wirya Arthadiguna dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, korban luka telah dievakuasi ke Pos Satgas Yonif 743/PSY di Kampung Tirineri, Kabupaten Puncak Jaya, guna mendapat perlindungan dan pengobatan. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

























Discussion about this post