Jayapura, Jubi – Koordinator Suara Perempuan Papua Barsatu (SPPB), Iche Murib berpendapat, apa yang ditampilkan dalam film dokumenter Pesta Babi mencerminkan kondisi alam di Tanah Papua pada masa mendatang.
Menurutnya, kondisi alam di Merauke, Papua Selatan yang digambarkan dalam film dokumenter Pesta Babi, berpotensi terjadi pada wilayah lain di Tanah Papua pada masa mendatang.
Pernyataan itu disampaikan Iche Murib usai nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang diselenggarakan SPPB di asrama putri Maro, di Pandang Bulan, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, Minggu (10/5/2026).
“[Kondisi di] Merauke ini, cerminan seluruh Tanah Papua. Setelah Merauke, selanjutnya tanah dan kampung-kampung kita akan menjadi target berikutnya.
Masih Ada waktu untuk kita bersatu melawan,” kata Iche Murib.
Menurutnya, setiap hari, setiap waktu orang Papua akan mati seperti siswa SMA yang baru di tembak mati di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.
“Selama [masih] ada Indonesia di atas Tanah Papua, tidak ada masa depan. Karena ada pembunuhan secara sistimatis,” ujarnya.
“Masalah Merauke adalah masalah kita semua. Masalah Dogiyai adalah masalah kita bersama. Masalah Nduga adalah masalah kita bersama,” ucapnya lagi.
Salah satu peserta nobar, Dora Sidik dari Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya mengatakan, ia ikut menonton karena penasaran mengenai film dokumenter itu.
“Saya ikut teman untuk datang nonton.
Sa (saya) nonton dan sa pikir keadaan begini, solusinya adalah kita harus bersatu. Tidak ada [istilah orang] gunung [dan orang] pantai lagi. Tapi [kita mesti] bersatu untuk menyelesaikan kondisi ini,” jata Dora Sidik.
Peserta nobar lainnya, Engel Were dari Kampung Kimaam, Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan mengatakan di kampungnya banyak prajurit TNI.
“Mereka (TNI) sudah terlalu banyak. Kami selalu diteror dan tidak bisa hidup tenang. Saya mau minta tolong kawan-kawan, agar bersatu bantu kami di Merauke,” ucap Engel Were.
Sementara itu, Mesak Erari mengatakan, ia juga penasaran dengan film dokumenter itu, dan akhirnya bisa menonton secara langsung, dari awal hingga akhir film.
“Di Waropen juga sudah ada (proyek yang merusak hutan). Tapi belum diekspos. Jadi saya harap ada yang bisa bantu investigasi di Waropen, dan bikin dalam bentuk film seperti film Pesta Babi ini,” kata Erari. (*)























Discussion about this post