Nabire, Jubi – Suara tangis, nyanyian duka, dan teriakan minta keadilan bergema kuat di halaman Kantor Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR Papua Tengah di Kota Nabire, Kabupaten Nabire, Senin, (11/5/2026).
Ratusan massa yang terdiri pelajar dan mahasiswa asal Kabupaten Dogiyai, organisasi kemasyarakatan dan mahasiswa dari daerah lain yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) se-Nabire, menggelar aksi damai besar-besaran di ibu kota Provinsi Papua Tengah.
Aksi damai itu mengusung tema “Tangis Dogiyai Bergema”. Demonstran membawa pesan menyayat hati. Tanah kelahiran mereka terus berdarah, duka tak kunjung usai, dan deretan peristiwa kekerasan belum juga menemukan jalan keadilan yang sesungguhnya.
Massa melakukan konvoi dengan berjalan kaki dengan tertib, dari titik kumpul di pasar Karang Tumaritis. Sebagian di antara mereka mengenakan pakaian adat khas suku Mee, sebagian lagi beralmamater kampus, sambil membawa spanduk.
Di antara spanduk itu bertuliskan “Dogiyai Butuh Keadilan, Bukan Darah Yang Terus Tumpah”, “Dogiyai Menangis”, “Hentikan Darah yang Mengalir”, hingga “Nyawa Kami Berharga”.
Aksi berjalan kaki itu dikawal oleh aparat TNI dan Polri dibawah komando Kapolres Nabire AKBP Samuel D. Tatiratu.
Ketua IPMADO Nabire, Marius Petege mengatakan, aksi itu digelar karena adanya rentetan tragedi berdarah yang terjadi berulang kali hanya dalam waktu dua bulan terakhir, sejak akhir Maret 2026 hingga awal April 2026.
Rangkaian insiden penembakan dan tindakan kekerasan terhadap warga sipil itu, terjadi di beberapa distrik di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.
Data yang dihimpun IPMADO mencatat, lima warga sipil tewas, dan beberapa lainnya luka-luka, serta ratusan warga terpaksa mengungsi dan kehilangan tempat tinggal akibat suasana tidak aman.
Luka itu belum sempat kering, duka belum sempat terobati, kembali terjadi peristiwa baru yang menjadi titik pecah yakni penembakan warga sipil bernama Nopianus Tebai (21 tahun) seorang siswa SMA Negeri 2 Dogiyai pada hari Minggu lalu, 10 Mei 2026.
Nopianus Tebai, putra asli Dogiyai, tewas tertembak oleh oknum kepolisian saat santai di lapangan bola.
“Setiap hari kami menunggu kabar dari kampung, tapi yang datang selalu berita duka. Ada saudara mati, ada tetangga luka, ada rumah dibakar, ada keluarga lari ke hutan takut diburu,” kata Marius Petege.
“Apa salah kami? Kenapa Dogiyai jadi sasaran? Kenapa darah rakyat kami begitu mudah ditumpahkan, tapi pelakunya bebas, tak dihukum, tak diusut tuntas? Tangis mama-mama di kampung kami sudah sampai ke langit, dan hari ini kami bawa tangis itu ke sini, ke kantor DPR Provinsi Papua Tengah, supaya seluruh Papua Tengah dan negara dengar,” ujarnya lagi .
Ia menegaskan, apa yang terjadi di Dogiyai bukanlah insiden keamanan biasa, melainkan pola berulang yang mencederai hak asasi manusia (HAM).
Warga yang seharusnya dilindungi undang-undang, justru merasa paling terancam oleh aparat yang bersumpah menjaga keamanan.
Meskipun membawa kemarahan dan duka yang mendalam, aksi IPMADO berjalan sangat tertib, damai, dan penuh martabat.
Aalah satu koordinator lapangan terus mengingatkan massa, “Kami turun ke jalan bukan untuk merusak, tapi membangun kesadaran. Kami buktikan bahwa anak-anak Dogiyai itu berpendidikan, beradab dan cinta damai. Tapi kami juga berani bersuara saat hak kami dirampas.”
Aksi ini berlangsung damai. Tidak ada fasilitas umum yang rusak, tidak ada keributan. Bahkan, aksi ini didukung penuh oleh tokoh adat, pemuka agama, dan organisasi mahasiswa dari daerah lain di Papua Tengah yang ikut hadir sebagai tanda solidaritas.
Pesannya jelas “Luka di Dogiyai adalah luka kita semua. Ketidakadilan di satu tempat adalah ancaman bagi seluruh rakyat Papua Tengah.”
Surat tuntutan dan pernyataan sikap diterima langsung Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, Jhon NR Gobai didampingi sejumlah anggota dewan.
Mereka menerima aspirasi dari IPMADO dan menegaskan komitmennya untuk mengawal pengusutan kasus kematian yang terjadi di Kabupaten Dogiyai.
Pernyataan tersebut disampaikan Gobai usai bertemu dengan mahasiswa di halaman kantor DPRD Provinsi. Dalam pertemuan itu, para mahasiswa menyampaikan berbagai tuntutan terkait penanganan kasus kemanusiaan di Dogiyai.
Gobai menegaskan bahwa DPR Papua Tengah akan mendorong, agar proses hukum berjalan secara terbuka dan transparan sehingga fakta-fakta di lapangan dapat terungkap secara jelas.
“Kami akan membuka kasus ini secara terang benderang. Siapa pun pelakunya harus diusut. Kami juga akan terus mengingatkan Kapolda dan Wakapolda agar penanganan dilakukan secara transparan. Saya yakin kepada Kapolda,” kata Gobai.
Meski begitu, IPMADO menegaskan akan terus mengawasi setiap langkah yang diambil pemerintah. Jika dalam waktu yang ditentukan belum ada tindakan nyata dan hasil yang memuaskan, mereka akan kembali turun jalan dengan kekuatan yang lebih besar lagi.
Aksi damai bubar secara tertib, sekitar pukul 16.00 Waktu Papua (WP). Namun gema suaranya tetap menggema.
Hari ini di Nabire, tangis Dogiyai terdengar jelas oleh seluruh elemen masyarakat dan pemerintah. Dogiyai berdarah, Dogiyai menangis, tapi Dogiyai belum kalah.
Lewat IPMADO, generasi mudanya telah bersuara lantang “Keadilan harus ditegakkan, kekerasan harus dihentikan, dan nyawa saudara kami tak boleh hilang sia-sia.”
Tangis Dogiyai bergema di Nabire, dan pesannya tak akan hilang sampai damai benar-benar pulang ke tanah pegunungan itu. (*)




Discussion about this post