Operasi militer di Puncak: Manusia hingga hewan ditembaki

Penulis: Larius Kogoya
Editor: Arjuna Pademme

Jayapura, Jubi – Anite Telenggen (17 tahun), warga Kampung Tenoti, Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, Papua Tengah merupakan salah satu korban luka tembak, saat prajurit TNI melakukan operasi militer di wilayah itu, Selasa (14/4/2026).

Ia menceritakan bagaimana situasi saat militer memasuki kampungnya pada pagi-pagi buta. Katanya, manusia hingga hewan ditembaki.

Anite Telenggen berkisah kepada Jubi bagaimana peristiwa itu terjadi, dengan diterjemahkan pihak keluarga, sebab ia tak fasih berbahasa Indonesia.

Ibu muda yang mengaku usia kandungannya memasuki tujuh bulan itu, mengalami luka sobek besar di bagian dagu. Tulang rahang dan giginya patah, sehigga tak bisa makan.

Kini ia menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Kota Jayapura, Papua didampingi pihak keluarga. Saat Jubi mengunjunginya, Anite Telenggen sedang ditemani ayahnya, suaminya Melodi Walia, dan beberapa kerabat.

Ia tidak bisa berbicara dengan jelas, hanya terdengar bisik-bisik. Sesekali Anite Telenggen berkomunikasi dengan isyarat kepada keluarganya.

Anite Tenggen berkisah, pagi itu sekira pukul 05.00 Waktu Papua (WP), warga Kampung Tenoti sebagian telah bangun. Ada yang menyalakan api di dalam honai untuk menghangatkan badan. Ada pula yang sibuk di dapur.

BERITATERKAIT

Tiba-tiba terdengar deru suara helikopter di udara. Tak lama berselang, ada bunyi rentetan tembakan di kampung.

“Memang ada satu pos [keamanan] di bukit yang tidak jauh dari kampung kami. Dari pos itu aparat militer menyerang turun [ke kampung] tembak kiri-kanan. Apa pun semua ditembak jatuh. Pohon ka, rumput ka, binatang ka, manusia ka, semua dibabat,” kata Anite Telenggen kepada Jubi, yang diterjemahkan kerabatnya.

Setelah mendengar suara tembakan, Anite Telenggen bersama beberapa kerabat dalam rumah yang dihuninya, keluar karena ketakutan. Namun ia tertembak di bagian dagu, ketika hendak mencari tempat aman untuk berlindung.

“[Saya] mau menyelamatkan diri, tiba-tiba ada peluru melayang langsung kena di dagu. Jadi [saya] lari sembunyi di rumput-rumput dan merunduk di sana, meski harus manahan sakit dan darah berhamburan di tubuh. Karena serangan yang brutal di kampung Tenoti itu, mereka (militer) ketemu anjing, babi, manusia semua ditembak tanpa pertimbangan apa pun,” ujarnya.

Beberapa jam setelahnya, tak terdengar lagi bunyi tembakan. Anite Telenggen yang dalam kondisi terluka, kemudian kembali ke rumah. Akan tetapi di sana, ia tidak mendapati seorang pun.

Ia hanya berharap ada yang datang menolongnya, namun tak ada seorang pun di kampung itu. Semua warga telah menyelamatkan diri. Dalam kondisi terluka dan menahan sakit, Anite Telenggen kemudian menuju kantor desa di Ginenggame.

Di sana, ia bertemu seseorang dan anak balita yang tertembak di kaki. Mereka kemudian berjalan kaki ke Tigineri dan bermalam di sana. Keesokan harinya, Rabu (15/4/2026), mereka kemudian dievakuasi ke Mulia, ibu kota Kabupaten Puncak Jaya.

Mereka mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah atau RSUD Mulia. Semalam di RSUD Mulia, Anite Telenggen kemudian dirujuk ke Jayapura untuk mendapat penanganan medis lebih lanjut pada 16 April 2026.

Puncak
Anite Telenggen saat menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Kota Jayapura, Papua, Sabtu (18/04/2026) – Jubi/Larius Kogoya.

Dies Telenggen, ayah Anite Telenggen menyesalkan penyerangan aparat keamanan ke kampungnya, sehingga anaknya bersama beberapa warga mengalami luka tembak.

“Anak saya ini masih hamil tujuh bulan. Dia takut dan trauma atas kejadian ini. Saat ini Distrik Kembru dan Distrik Pogoma sudah kosong [tidak ada lagi warga di sana],” kata Dies Telenggen dengan wajah sedih.

Padahal katanya, kampung itu hanya dihuni warga sipil. Tak ada anggota TPNPB di sana. Akan tetapi aparat keamanan menyerang kampung dengan rentetan tembakan.

“Di kampung itu hanya [ada] masyarakat biasa saja, tidak ada anggota TPNPB, tidak ada senjata. Akan tetapi tentara pagi-pagi masuk menyerang masyarakat. Menembak mati dan melukai masyarakat. Masyarakat ditembak padahal tidak tahu apa-apa,” kata Dies Telenggen.

Ia pun berharap pemerintah provinsi dan kabupaten, dapat berkoordinasi dengan pimpinan institusi terkait dan para pihak lainnya, agar militer yang ada di wilayah itu ditarik.

“Pemerintah kabupaten dan provinsi, tolong bicara kepada tentara dan kasih pulang mereka. Mereka datang baru membunuh kami dan mengusir kami dari kampung-kampung kami,” ujarnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Festival Kopi Papua Tengah

English Story

Gobai warns military presence could perpetuate violence in Paniai

Jayapura, Jubi – Deputy Speaker IV of the Central Papua Legislative Council (DPR Papua Tengah, John NR Gobai, has alleged [...]

Kamuyend clan’s black cross burned amid customary land dispute in Merauke

Jayapura, Jubi – Unidentified individuals have damaged and burned a black cross erected by the Kamuyend clan as a traditional [...]

WVI launches public campaign to support more than 5,000 children in Papua

Jayapura, Jubi – World Vision Indonesia (Wahana Visi Indonesia – WVI) has relaunched its Baca Tanpa Batas (Read Without Limits) [...]

Nduga shooting victims’ families ask Papua Legal Aid Institute to oversee investigation

Jayapura, Jubi – The families of three residents shot in Nduga Regency, Highland Papua Province, on October 23, 2026, have [...]

Challenges and hopes for the new AJI Jayapura City chair for 2026-2029

Jayapura, Jubi – Theo Kelen and Maurits Yansip have been elected chair and secretary of the Alliance of Independent Journalists [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist