Kunjungan ke Museum Loka Budaya Uncen meningkat

Penulis: Aida Ulim
Editor: Arjuna Pademme

Jayapura, Jubi – Jumlah pengunjung ke Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Provinsi Papua meningkatkan selama 2026. Pengunjung tidak hanya dari kalangan pelajar dan mahasiswa, juga wisatawan mancanegara yang datang untuk mengenal koleksi dan kebudayaan Papua.

Koordinator Loka Budaya Universitas Cenderawasih atau Uncen, Soleman Soindemi mengatakan bahwa kunjungan mahasiswa dan pelajar dari berbagai sekolah maupun perguruan tinggi cukup tinggi.

Bahkan dalam satu kali kunjungan jumlah mahasiswa bisa mencapai 40 hingga 60 orang, sedangkan rombongan pelajar mencapai 100 orang lebih.

Menurutnya, kunjungan tersebut umumnya dilakukan untuk kegiatan pembelajaran di luar kelas, terutama bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah berkaitan dengan etnografi dan antropologi Papua.

“Kalau dari Januari sampai sekarang mungkin mendekati ribuan orang,” kata Soleman Soindemi di Kota Jayapura, Rabu (4/11/2026).

Katanya, selain pelajar dan mahasiswa, Museum Loka Budaya Uncen juga menerima kunjungan wisatawan mancanegara.

Ia menjelaskan pada akhir Oktober 2026, museum itu dua kali menerima rombongan wisatawan yang datang menggunakan kapal pesiar. Pada kunjungan pertama diperkirakan mencapai 70 hingga 90 orang, sedangkan kunjungan berikutnya mencapai 130 orang.

BERITATERKAIT

Para wisatawan itu menjadikan Museum Loka Budaya sebagai salah satu tempat persinggahan untuk mengenal kebudayaan Papua sebelum melanjutkan kunjungan ke Kampung Yoboi.

“Memang perkembangan museum dengan kesadaran publik untuk pentingnya mengunjungi museum itu sudah mulai terlihat,” ucapnya.

Ia menilai, meningkatnya kunjungan itu tidak terlepas dari penyebaran informasi melalui media serta tumbuhnya kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda terhadap pentingnya mengenal dan mempelajari kebudayaan.

Selain itu, anak-anak muda yang aktif dalam kegiatan seni, tari, serta pembuatan konten budaya dipandang mulai memanfaatkan museum sebagai tempat mencari informasi dan mengembangkan kreativitas.

“Kemudian yang lebih penting itu museum kita di sini digunakan oleh kalangan pendidikan ya sebagai tempat mendapatkan referensi tentang budaya dari berbagai macam wilayah yang ada di sini,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya jumlah pengunjung kata Soindemi, Museum Loka Budaya Uncen masih menghadapi keterbatasan ruang pamer.

Museum itu memiliki sekitar 2.500 artefak yang berasal dari berbagai wilayah pegunungan Papua yang dipulangkan dari Amerika. Namun sebagian besar koleksi itu belum dapat dipamerkan karena keterbatasan gedung.

“Untuk sampai hari ini kita punya artefak-artefak 2.500 bersama dengan dokumentasi-dokumentasi dan segala macam itu kami belum pajang, belum pamerkan. Kita tidak bisa taruh saja seperti begini. Harus ada punya gedung sendiri lagi,” katanya.

Ia mengatakan, koleksi tersebut antara lain berupa koteka, jimat, batu, dan berbagai benda yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat pegunungan Papua.

Kini benda-benda tersebut disimpan di ruangan khusus untuk menjaga keamanan dan kelestariannya.

“Kami harus memiliki penambahan gedung agar benda-benda tersebut bisa ditata dan dipamerkan dengan baik.”

Pihak museum telah beberapa kali berkomunikasi dengan Kementerian Kebudayaan terkait rencana pengembangan gedung, dan disetujui. Akan tetapi kemungkinan pengembangan gedung baru dapat dilaksanalan pada tahun depan.

Penambahan gedung dinilai penting agar koleksi kebudayaan dari berbagai suku di Tanah Papua dapat ditampilkan merata.

Sebab, selama ini koleksi yang paling banyak mendapat perhatian pengunjung berasal dari kebudayaan Asmat, Sentani, dan Biak.

Sementara itu koleksi dari masyarakat Dani dan wilayah pegunungan lainnya masih terbatas dalam ruangan untuk dipamerkan.

Pengembangan museum nantinya diharapkan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat lebih banyak koleksi, memahami nilai sejarah, kehidupan, dan kepercayaan yang terkandung di dalamnya.

Selain menyimpan koleksi museum, pihaknya juga terbuka menerima hibah benda-benda budaya dari masyarakat Papua yang ingin menyerahkan peninggalan keluarga atau leluhur untuk dirawat dan dilestarikan.

“Kami juga menerima masyarakat yang mau hibahkan benda-benda budayanya untuk dijaga dan dilestarikan,” kata Soleman Soindemi.

Sementara itu, pegawai Museum Loka Budaya Uncen, Bernece Aufa mengatakan bahwa pengunjung yang paling sering datang adalah kalangan pelajar dan mahasiswa.

“Kunjungan dari Januari sampai November kurang lebih 399 orang. Pengunjung paling banyak dari pelajar dan mahasiswa dan satu dua orang dari masyarakat dan wisatawan mancanegara,” ucap Bernece Aufa.

Menurutnya, jumlah pengunjung dalam satu hari tidak selalu sama. Pada hari tertentu museum bisa menerima banyak rombongan, tetapi ada pula hari ketika tidak ada kunjungan sama sekali.

Katanya, satu rombongan sekolah dapat mencapai lebih dari 100 orang. Bahkan, kunjungan anak-anak taman kanak-kanak bisa mencapai sekitar 40 orang.

“Mereka datang untuk belajar, juga sekadar melihat-lihat dan foto,” katanya.

Ia mengatakan, untuk mengatur kunjungan dalam jumlah besar, pihak museum membagi pengunjung ke dalam beberapa kelompok atau sesi.

Setiap kelompok biasanya terdiri atas sekitar 40 orang agar kegiatan pengenalan koleksi dan penyampaian informasi dapat berlangsung dengan baik.

“Bukan semua masuk. Dibagi supaya tidak bertabrakan dan semua bisa mendapatkan informasi,” ucapnya.

Ia menambahkan, wisatawan mancanegara juga datang berkunjung ke museum, secara perorangan maupun rombongan, termasuk wisatawan yang singgah di Jayapura menggunakan kapal pesiar. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Festival Kopi Papua Tengah

English Story

Nduga shooting victims’ families ask Papua Legal Aid Institute to oversee investigation

Jayapura, Jubi – The families of three residents shot in Nduga Regency, Highland Papua Province, on October 23, 2026, have [...]

Challenges and hopes for the new AJI Jayapura City chair for 2026-2029

Jayapura, Jubi – Theo Kelen and Maurits Yansip have been elected chair and secretary of the Alliance of Independent Journalists [...]

PAPEDA encourages shared parenting and breastfeeding support in Keerom

Jayapura, Jubi – The Papua Breastfeeding Awareness Community (PAPEDA) held a maternal and child health education session for residents of [...]

Jayapura braces for floods as rainy season returns

Jayapura, Jubi – Flooding is a recurring problem in Jayapura City, Papua province. Its hilly terrain and high rainfall make [...]

Forest and land fires driven not only by El Niño but also by corporate  expansion

Jayapura, Jubi – Forest and land fires (karhutla) should not be attributed solely to El Niño and climate change, but [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist