Jayapura, Jubi – Repatriasi (pengembalian) 1.000 artefak budaya, 20.000 slide foto berwarna, dan 100 rekaman suara dari Amerika Serikat (AS) diserahan Dewan Adat Papua kepada pengelola Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih (Uncen) di Kota Jayapura, Provinsi Papua, Kamis (6/8/2026).
Artefak budaya, slide foto berwarna, dan rekaman suara itu merupakan koleksi pribadi yang diarsipkan oleh O.W. (Bud) Hampton yang dikumpulkan selama 1982 hingga 1999.
Kepala dan Kurator Museum Loka Budaya Uncen, Enrico Yory Kondologit mengatakan upaya repatriasi benda-benda kebudayaan tersebut dilakukan sejak 2023, dan bisa terlaksana pada 2026.
“Kurang lebih perjuangan kita 3 tahun 7 bulan, dan ini memang memakan waktu yang panjang. Bukan karena ketidakmampuan kita, tetapi lebih pada urusan-urusan administrasi karena ini urusan antar negara,” kata Enrico Yory Kondologit.
Menurutnya, ini ada pembelajaran pertama secara pribadi dan kelembagaan karena belum pernah ada lembaga secara mandiri melakukan proses repatriasi.
“Baru pertama kali kami melakukan proses repatriasi di Tanah Papua. Repatriasi adalah suatu kebijakan internasional yang dikeluarkan oleh UNESCO untuk proses rekonsiliasi. Oleh karena itu menjadi kewajiban setiap negara atau wilayah yang bukan hak mereka itu dikembalikan kepada pemiliknya,” ucapnya.
Katanya, bagi masyarakat umum yang ingin melihat artefak budaya tersebut paling tidak minggu depan sudah terbuka untuk umum.
“Minimal minggu depan sudah bisa dipamerkan karena tempat itu langsung ruang simpan dan ruang pamer, dan terbuka untuk umum. Jadi, silakan ajak teman-teman satu minggu itu sudah bisa datang untuk lihat,” ujarnya.
Sementara itu Ketua Dewan Adat Papua, Dominikus Sorabut menilai pentingnya pengembalian atau pemulangan benda-benda tersebut karena menjadi perekat orang Papua dengan leluhur.
“Orang Papua akan mencintai kehidupan, orang Papua akan mencintai alam, orang Papua akan mencintai sesama, tidak hanya orang Papua, tapi orang luar juga. Itu karena rohnya ada bersama dengan kami,” kata Sorabut.
Katanya, artefak itu adalah identitas, martabat, dan role spiritual orang Papua yang sudah 200 tahun berdiaspora ke luar (dibawa keluar).
Sorabut juga menjadi salah satu yang terlibat bersama berbagai pihak yang ikut melakukan penandatangan MoU untuk pemulangan benda-benda dan disimpan Museum Loka Budaya Uncen.
“Setelah [benda-benda] ini dipulangkan, kedepannya diharapkan dibuat sebagai pusat spritual maupun pendidikan,” ucapnya.(*)




Discussion about this post