Jayapura, Jubi – Pemuda Katolik Papua Tengah memasang 1.000 lilin di Kapela SMA Adhi Luhur Nabire, Kabupaten Nabire, Papua Tengah Kamis, (23/4/2026).
Aksi ini sebagai ruang doa, refeleksi, dan seruan kemanusiaan atas konflik berkepanjangan di Tanah Papua yang telah berlangsung sejak 1961 hingga kini.
Aksi ini juga merupakan bentuk keprihatinan terhadap situasi di Tanah Papua dalam beberapa waktu terakhir, yang disebuat “Papua Berdarah Puncak, Intan Jaya, Dogiyai-Seruan Damai dan Refleksi Kemanusiaan.”
Ketua Panitia Rakerda I Pemuda Katolik, Hendrikus Yeimo mengatakan aksi yang digelar pihaknya bersama Komisariat Daerah Pemuda Katolik Papua Tengah itu, bukan sekadar simbol. Akan tetapi wujud duka, harapan, dan solidaritas terhadap saudara-saudari di Tanah Papua yang terus hidup dalam bayang-bayang konflik.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Selama puluhan tahun, warga sipil di Tanah Papua, anak-anak, ibu-ibu, tenaga kesehatan, dan para guru—telah menjadi korban dari situasi yang tidak berkesudahan,” kata Hendrikus Yeimo dalam pesan tertulisnya kepada Jubi, Kamis malam.
Pemuda Katolik lainnya, Abeth You mengatakan, aksi ini bukan untuk memprovokasi keadaan. Justru sebaliknya, ini adalah panggilan moral untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang sering kali terabaikan.
“Kami mengajak semua pihak untuk berhenti sejenak, merenung, dan melihat bahwa di balik konflik ini ada manusia-manusia yang kehilangan hak hidup dengan aman dan bermartabat,” ujar Abeth You.
Menurut Abeth You, sebagai bentuk tanggung jawab moral, pihak juga telah menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, saat melakukan kunjungan kerja ke Nabire pada 21 April 2026.
Dalam pertemuan tersebut pemuda Katolik Papua Tengah menyampaikan beberapa poin penting, di antaranya, meminta enarikan militer non organik dari Tanah Papua, karena dinilai memperparah situasi konflik dan meningkatkan jumlah korban sipil.
Perlunya dialog damai antara pemerintah pusat dan Papua sebagai jalan keluar yang bermartabat dan berkelanjutan. Perhatian serius pemerintah terhadap kondisi masyarakat sipil yang mengalami trauma tanpa pemulihan memadai
Selain itu kata You, realitas di lapangan menunjukkan bahwa konflik ini telah berdampak luas. Banyak anak kehilangan akses pendidikan, masyarakat hidup dalam ketakutan.
Perempuan tidak mendapatkan perlindungan yang layak, dan kebutuhan dasar tidak terpenuhi secara optimal, dan dalam situasi yang tidak aman, pembangunan tidak akan pernah berjalan dengan baik.
“Kami percaya bahwa perdamaian bukan hanya sebuah harapan, tetapi sebuah keharusan. Gereja, melalui ajaran dan seruan Bapa Suci, selalu menempatkan perdamaian sebagai nilai utama,” ucapnya.
Karenanya lanjut Abeth You, pihaknya sebagai bagian dari Pemuda Katolik, tidak akan berhenti menyuarakan damai, keadilan, dan perlindungan bagi setiap manusia.
Pihaknya pun menyerukan pesan mendasar, yaitu lindungi rakyat sipil di Tanah Papua. Bersama menjaga nilai kemanusiaan, menolak kekerasan, dan membuka ruang dialog sebagai jalan menuju Papua yang damai, aman, dan bermartabat.
”Papua adalah keluarga kita, san sudah seharusnya kita berdiri bersama mereka,” kata Abeth You. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post