Jayapura, Jubi – Pastor Dekan Dekenat Moni-Puncak, Pastor Yanuarius Yance Wadogouby Yogi, Pr menyatakan menyesalkan tewasnya sembilan warga sipil, termasuk anak di bawah lima tahun dalam operasi militer yang dilakukan aparat keamanan di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, Selasa (14/4/2026).
Peristiwa itu tidak hanya menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Beberapa warga, termasuk anak kecil juga terluka terkena tembakan.
“Kami menyesalkan tindakan aparat militer yang brutal dan tidak manusiawi itu. Nyawa manusia ada harga dan nilainya, bukan binatang buruan. Pimpinan gereja Katolik dari dekenat Moni-Puncak mengutuk keras aparat TNI/Polri yang melakukan penyerangan dan menewaskan serta melukai warga sipil yang tak bersalah,” kata Pastor Yance Yogi kepada Jubi melalui panggilan telepon, Sabtu (18/4/2026).
Menurut Pastor Yance Yogi mestinya aparat keamanan melakukan pendekatan secara humanis dan profesional. Tidak boleh ada kekerasan, sebab langkah itu tak ada gunanya.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Kalau kita mau mendekati orang, harus pendekatan humanis. Maka itu pimpinan gereja Katolik di tiga kabupaten itu mengutuk keras. Tidak ada untungnya juga kalau masyarakat menjadi korban,” ujarnya.
Katanya, secara garis komando maka pimpinan TNI/Polri mesti bertanggung jawab dalam peristiwa yang telah melukai dan merenggut nyawa warga sipil itu.
Pastor Yance Yogi mengatakan, warga sipil tidak boleh menjadi korban dalam konflik bersenjata antara aparat keamanan dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka atau TPNPB-OPM.
“Kalau antara TNI Polri dengan TPNPB OPM silahkan mereka mau baku bunuh ka, baku hantam ka, di hutan sana itu urusan mereka. Tapi apa salahnya [sehingga] masyarakat [menjadi] korban,” ucapnya.
Karenanya, pemerintah daerah, DPR, MRP, pihak gereja, dan tokoh intelektual dipandang perlu bekerjasama mencari solusi kejadian di daerah rawan konflik hingga tuntas secara humanis.
“Bila perlu, pimpinan terkait duduk bersama. Kira-kira kapan kita bisa menyelesaikan persoalan secara intelektual, secara humanis dan profesional. Para petinggi juga bukan datang dan pergi, itu bukan menyelesaikan masalah,” kata Pastor Yance Yogi.
Sembilan warga sipil, termasuk seorang anak di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Puncak, Papua Tengah dilaporkan tewas tertembak, dan puluhan warga lainnya terluka.
Sumber Jubi di Kabupaten Puncak, Yumbunik Murib mengatakan, para korban tewas tertembak dalam penyerangan oleh personel TNI di Kampung Tenoti dan Kampung Kumikomo, Distrik Kembru, Selasa (14/4/2026).
“Para korban tewas karena terkena tembakan akibat penyerangan membabi buta [oleh aparat keamanan] di sejumlah kampung [di] Distrik Kembru. Sembilan orang yang sudah diidentifikasi, dan dievakuasi lalu dimakamkan secara adat,” kata Yumbunik Murib melalui panggilan teleponnya kepada Jubi dari Puncak, Jumat (17/4/2026).
Menurut Yumbunik Murib, sembilan korban tewas itu adalah adalah Wundilina Kogoya (36 tahun), Kikungge Walia (55 tahun), Pelen Kogoya (65 tahun), Tigiagan Walia (76 tahun), Ekimira Kogoya (47 tahun), Daremet Telenggen (55 tahun), Inikiwewo Walia (52 tahun), Amer Walia (77 tahun), dan balita bernama Para Walia (5 tahun).
“Jenazah [korban] dibakar secara adat orang Lani Papua. [Selain korban tewas] masyarakat sebagian luka-luka mulai dari anak-anak sampai dewasa mencapai puluhan orang. Mereka yang luka-luka itu kami bawa ke rumah sakit. Mereka dirawat [di rumah sakit] tapi sebagian dirawat di rumah,” ucapnya.
Ia mengatakan korban luka adalah Onde Walia (5 tahun), Aliko Walia (5 tahun), Nokia Kogoya (21 tahun), Anite Telenggen (19 tahun) dan Daniton Tabuni.
Anite Telenggen dan Onde Walia sudah dirujuk ke Jayapura dan Nabire, sementara korban luka lainnya di rawat di Rumah Sakit Mulia. Korban luka ini belum termasuk yang dirawat di rumah.
Katanya, korban tewas dan luka itu belum termasuk yang berada di Kampung Kembru, Kampung Makuma, Kampung Nilome, Distrik Kembru. Korban di tiga kampung tersebut belum dapat dipastikan dan dievakuasi, sebab TNI masih berada di sana.
Murib menjelaskan, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau TPNPB dengan TNI-Polri sebenarnya sudah sepakat menentukan wilayah perang kedua pihak, yaitu di Distrik Pogoma, di sebelah Kali Sinak, yang jaraknya sangat jauh dari Distrik Kembru.
Katanya, Distrik Kembru adalah kawasan pengungsian masyarakat dari sejumlah distrik lain, termasuk warga Distrik Pogoma.
“Jadi selama ini pengungsi beraktivitas seperti biasa, di kampung-kampung di wilayah Distrik Kembru. Tapi tiba-tiba TNI menyerang. Mereka membunuh masyarakat dengan tidak manusiawi, TNI masuk menyerang tempat pengungsi,” kata Murib.
Menurut Yumbunik Murib, prajurit TNI melakukan operasi militer menggunakan tiga helikopter dan menurunkan peledak yang diduga granat di markas TPNPB di Kampung Guamo, Distrik Pogoma, Senin (13/4/2026) dini hari hingga sore.
Prajurit TNI lanjut Murib, kemudian melakukan operasi militer lewat serangan udara dan darat di sejumlah kampung di Distrik Kembru, Selasa (14/4/2026) dini hari. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post