Jayapura, Jubi – Ketua Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) Di Tanah Papua Pdt. Andrikus Mofu, M.Th menyatakan film dokumenter Pesta Babi Kolonialise di Zaman Kita, mengisahkan tentang masalah yang terjadi di Tanah Papua.
Ini disampaikan Pdt. Andrikus Mofu, M.Th dalam diskusi usai nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita, yang diadakan Sinode GKI Di Tanah Papua dengan dihadiri 500 lebih penonton.
Nobar ini digelar di Gedung Graha SARA, Kantor Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua, di Argapura, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua, Rabu (20/5/2026) malam.
Pdt. Andrikus Mofu sebagai salah satu narasumber dalam diskusi itu pun mengapresiasi pembuatan film dokumenter tersebut.
“Kondisi yang sedang kita hadapi saat ini merupakan situasi yang memprihatinkan dan menyedihkan, baik bagi masyarakat secara keseluruhan maupun bagi kehidupan bersama di Tanah Papua,” kata Pdt. Andrikus Mofu, M.Th.
Menurutnya, berbagai persoalan terus terjadi, dan semuanya menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang harus direnungkan bersama.
“Sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa situasi seperti ini sangat menyentuh hati kita semua,” ucapnya.
Ia berharap, seluruh pimpinan dan masyarakat memahami bahwa tidak mungkin berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan yang ada.
“Sebenarnya ruang untuk membangun kehidupan bersama tetap ada. Namun semuanya bergantung pada bagaimana kita menjaga kebersamaan dan saling mendukung satu sama lain,” ujarnya.
Pdt. Andrikus Mofu, M.Th mengatakan, melihat berbagai persoalan yang terus berkembang dari tahun ke tahun, kita harus mampu menentukan pilihan hidup yang benar demi masa depan bersama.
Berbagai masalah itu, juga pernah dibahas dalam sidang Dewan Gereja. Banyak hal telah disampaikan ketika itu, termasuk kondisi masyarakat, dan kehidupan sosial yang masih membutuhkan perhatian serius.
“[Tanah] Papua sesungguhnya memiliki peran penting bagi kehidupan dunia. Hutan Papua adalah paru-paru dunia yang memberikan oksigen bagi kehidupan manusia. Karena itu, Papua harus dijaga bersama demi keberlangsungan hidup generasi mendatang,” katanya.
Katanya, Tanah Papua jangan sampai kehilangan suara dan kehilangan ruang hidupnya sendiri. Karenanya, semua pihak diajak agar tidak hanya menceritakan persoalan, menyampaikan keluhan, atau menganalisis keadaan semata, tetapi mengambil bagian nyata dalam membantu sesama.
Tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap masyarakat harus terus dibangun bersama. Peduli bukan hanya terhadap kehidupan diri sendiri, juga terhadap kehidupan orang lain dan lingkungan di sekitar.
“Saya berharap, kebersamaan ini tetap terjaga, karena semua yang dilakukan hari ini merupakan bentuk pertanggungjawaban menjaga [Tanah] Papua di tengah berbagai tekanan yang sedang terjadi,” ucap Pdt. Andrikus Mofu, M.Th.
Sementara itu, pimpinan umum Jubi, Victor C Mambor mengatakan, masyarakat begitu antusias terhadap hadirnya film dokumenter Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita. Banyak orang, terutama di luar Papua ingin mengetahui tentang Papua lebih dalam.
“Dalam pengakuan mereka, banyak yang mengatakan bahwa mereka baru benar-benar mengetahui Papua setelah menonton film Pesta Babi. Selama ini mereka hanya mengenal Papua dari pemberitaan media,” kata Victor Mambor.
Menurutnya, lewat film ini masyarakat melihat ada sesuatu yang selama ini tidak diberitakan. Itu yang membuat masyarakat semakin antusias dan ingin terus mengetahui tentang Papua.
Mereka mulai bertanya, Apa sebenarnya yang sedang terjadi di Papua. Itu terlihat dari jumlah penonton yang sangat banyak.
Katanya, banyak yang mengapresiasi setelah menonton film ini. Ada yang menelepon, bahkan banyak yang meminta foto bersama.
“Mungkin tidak selalu mengucapkannya secara resmi, tetapi menurut saya itu sudah menjadi bentuk apresiasi dari setiap penonton. Kalau kita lihat, antusiasme dari orang luar Papua muncul karena mereka merasa baru mengetahui kenyataan Papua. Tetapi bagi orang Papua sendiri, saat menonton film ini bersama-sama, muncul perasaan yang berbeda,” ujarnya.
Mambor mengatakan, sebenarnya banyak hal yang selama ini sudah diketahui. Namun ketika ditonton bersama, film ini membuka ruang diskusi. Orang mulai berbicara dan saling bertukar pandangan.
Akan tetapi, ada kecurigaan adanya larangan terhadap film seperti ini muncul karena mungkin ada ketakutan terhadap diskusi yang terjadi.
Karena itu, meski film ini bisa ditonton di mana saja, tetapi yang ditakutkan oleh pihak-pihak tertentu adalah ketika orang mulai berdiskusi secara terbuka setelah menontonnya.
“Ya, film ini dibuat tanpa dukungan besar dari pihak tertentu. Kami membuatnya secara gotong royong. Dalam istilah Indonesia mungkin disebut patunga. Kalau dalam bahasa Papua kami bilang baku tambah,” ucapnya.
Dalam memproduksi film dokumenter Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita lanjut Mambor, ada pihak yang membantu dengan dana, ada yang meminjamkan peralatan, dan ada yang menyediakan studio editing. Proses pembuatan film ini pun kurang lebih empat tahun.
Dari sisi keamanan, sejauh ini tim masih aman. Negara pun memberi ruang, meski ada berbagai tuduhan dari pihak tertentu. Tetapi pihaknya memilih tidak terlalu menanggapi hal itu.
“Sebagai jurnalis, saya melihat ini menjadi refleksi penting bagi kita semua. Kita sudah banyak menulis tentang Papua, tetapi ternyata banyak orang di luar Papua merasa baru memahami Papua setelah menonton film ini.”
Katanya, keingin tahuan banyak orang di luar tentang Papua, patut direnungkan. Apakah selama ini jurnalis sudah menulis sesuatu yang benar-benar menggambarkan kenyataan di Papua, ataukah hanya menulis apa yang ingin didengar orang.
Karena menurut Mambor, selama ini media sering hanya mewawancarai pejabat dan menyampaikan sudut pandang tertentu. Akan tetapi ketika orang menonton film ini, mereka kaget karena kenyataan yang dilihat berbeda dari yang selama ini didengar.
“Bagi saya, ini menjadi introspeksi bersama bagi dunia jurnalistik. Tujuan utama dari film ini, kami ingin orang benar-benar mengetahui Papua. Mengetahui apa yang dialami masyarakat Papua dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya, tujuan itu sudah tercapai,” kata Mambor.
Katanya, banyak orang merasa baru memahami Papua setelah menonton film ini, meskipun sebelumnya ada orang yang pernah datang ke Papua atau melihat mengetahui tentang Papua melalui media.
Pihaknya pun ingin, orang memahami bahwa Papua bukan tanah kosong. Papua memiliki masyarakat, kehidupan, dan sejarahnya sendiri.
“Kami juga ingin, masyarakat memahami bahwa masih ada perlakuan diskriminatif terhadap orang Papua. Harapannya ke depan, orang Papua dapat memperjuangkan hak-hak mereka dengan data dan fakta yang ada,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini ketika orang Papua datang ke Jakarta untuk menyampaikan aspirasi, sering muncul tanggapan bukankah Papua sudah diberi Otonomi Khusus, sudah diberi pembangunan. Akan tetapi pertanyaannya, apakah semua itu benar-benar dijalankan dengan sepenuh hati untuk masyarakat Papua.
“Kalau melihat kenyataan di lapangan, ternyata belum tentu demikian. Masyarakat Papua sebenarnya tidak meminta terlalu banyak. Mereka hanya ingin dihargai sebagai manusia dan sebagai pemilik tanah mereka sendiri. Kalau tanah dan ruang hidup mereka diambil, mereka ingin dihargai dan dilibatkan,” katanya Mambor. (*)

























Discussion about this post