Sentani, Jubi – Danau Sentani yang membentang di antara empat distrik di Kabupaten Jayapura dipercayai oleh masyarakat adat Phuyakha sebagai sumber kehidupan sejak ratusan tahun silam. Masyarakat adat yang berdiam di 24 kampung di sekitar perairan Danau Sentani hidup bersamanya, dan dihidupi danau itu.
Seluruh aktivitas masyarakat adat, khususnya masyarakat adat Phuyakha (Sentani) memanfaatkan potensi Danau Sentani untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam rumah tangganya. Mereka juga memanfaatkan berbagai potensi danau itu untuk mendapatkan uang, atau membarter ikan hasil tangkapan ikan dari Danau Sentani dengan berbagai barang kebutuhan pokok.
Berbagai manfaat danau itu mengharuskan masyarakat adatnya untuk terus menjaga dan merawatnya kelestarian Danau Sentani dengan cara mereka sendiri. Masyarakat adat Phuyakha memiliki tradisi “kafela” atau molo, tradisi menyelam untuk berburu ikan di perairan danau. Tradisi itu masih dijalankan di Sentani hingga kini, dan bertahan sebagai salah satu warisan budaya.
Tradisi itu bukan sekadar aktivitas menangkap ikan, tetapi juga seni bertahan hidup masyarakat di tepian Danau Sentani. Molo ikan adalah teknik menangkap ikan dengan cara menyelam dan menggunakan alat tradisional seperti anak panah. Ujung anak panah adalah besi lancip yang tajam, dalam bahasa lokal disebut “khoning”.
Ada juga teknik menangkap ikan yang lain, yaitu menangkap ikan di dasar danau dengan tangan kosong (tanpa bantuan alat) yang biasa disebut “andui“. Teknik penangkapan ikan itu melibatkan lebih dari satu orang penyelam. Dalam praktiknya, para laki-laki Sentani akan menyelam, meraba batu-batu atau celah di dasar danau yang menjadi tempat persembunyian ikan.

Hasil tangkapan para penyelam kemudian dikonsumsi bersama keluarga, atau disimpan dalam tempat pembibitan yang dibuat seperti bhukere. Tempat pembibitan itu ditaruh di perairan danau yang dangkal. Jika ikan dalam bhukere melimpah, ikan-ikan itu akan dijual di pasar lokal.
Salah satu masyarakat di Kampung Adat Yoboi, Distrik Sentani, Albert Tokoro menjelaskan bahwa bahwa mencari dan memelihara ikan di Danau Sentani bukan perkara mudah. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di kampung di sekeliling danau melakukannya untuk tetap bertahan dan mencukupi kebutuhan hidup mereka masing-masing.
BERITATERKAIT
“Jaman modern seperti saat ini, baru kita kenal yang namanya keramba apung, ada juga program pemerintah soal pembibitan dan lain sebagainya,” ujar Albert di Sentani, Sabtu (18/10/2025).
Seiring perkembangan daerah di Kabupaten Jayapura, termasuk peningkatan jumlah penduduk yang diikuti dengan pembukaan lahan baru di 14 sungai yang bermuara di Danau Sentani, membawa dampak negatif. Air Danau Sentani mulai tercemari banyaknya sampah yang dibuang ke sungai, termasuk sampah rumah tangga dari permukiman warga di wilayah perkotaan Sentani, Ibu Kota Jayapura.
Menurut Albert Tokoro, kendati kondisi air Danau Sentani tak sebagus dahulu, budi daya ikan di sana masih terus berjalan. Hampir di setiap Kampung yang berada di pinggiran Danau Sentani memiliki belasan hingga puluhan keramba ikan. Ada yang dikelola secara kelompok, individu, maupun rumpun keluarga.
Tokoro bercerita bahwa para nelayan membeli bibit ikan dari tempat lain di luar Danau Sentani, seperti dari Koya dan Keerom. Ada juga yang mencari benih ikan secara manual, misalnya dengan mencari tempat pemijahan atau tempat bertelur ikan danau terbesar kedua di Provinsi Papua itu.
Banyaknya sampah yang terbawa ke Danau Sentani membuat kehidupan para nelayan keramba di sana kian sulit. “Tidak banyak yang bisa dilakukan ketika kondisi air tercemar. Di setiap keramba ikan yang ditampung ada juga yang mati, ada juga yang tetap hidup dan bertumbuh hingga masa panen,” ujar Tokoro.
Hendrik Ohee, pemilik belasan keramba di Bhubay, Distrik Sentani Timur, mengaku kewalahan juga untuk membudidaya ikan di kerambanya yang rata-rata per unitnya berukuran 9 x 7 meter persegi. Jarak keramba dengan muara sungai yang tercemar oleh limbah tambang lokal dari Sungai Thombulu di Jembatan Dua tidak begitu jauh. Di sana, air tampak keruh, dan kondisi itu menyusutkan hasil panenan ikan dari keramba.
Menurut Ohee, satu unit keramba itu bisa menampung 10 -15 ribu ekor bibit ikan nila. Akan tetapi, ketika dipanen, ikan yang terpanen hanya tersisa 5-7 ribu ekor. Sebagian ikan dalam keramba mati karena kondisi air Danau Sentani yang buruk.

Hasil panen di jual ke pasar sebagian, kebutuhan makan di dalam keluarga, dan dibagi-bagi juga kepada tetangga dan kerabat. Sebagian hasil panenan itu juga dipilah untuk bibit dan pengembangbiakan selanjutnya. Hasil terbanyak yang pernah dipanen Ohee mencapai 30 ribu ekor, dipanen dari 12 unit keramba. Panenan itu di jual ke pasaran di Kota dan Kabupaten Jayapura.
“Sebenarnya, budidaya ikan dengan metode keramba apung seperti ini juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan air, karena sisa pakan ikan justru mengendap di bawah jaring atau keramba, menyebabkan pencemaran air,” katanya.
Ohee menuturkan ia menjalankan budidaya ikan memakai keramba karena mendapat bantuan bibit ikan gratis dari pemerintah. Ia juga mendapatkan bibit ikan dari hasil menangkap ikan di Danau Sentani.
Selain cemaran berupa sisa pakan ikan, Hendrik Ohee juga bilang kalau air Danau Sentani juga tercemar sedimen/lumpur sisa tambang emas di hulu sejumlah sungai yang bermuara di danau itu. Sedimen sisa tambang itu membuat air danau menjadi kabur dan keruh.
Berbagai sampah perkotaan menjadi cemaran lain Danau Sentani. Begitu pula dengan sisa sabun detergen atau yang terbawa air sungai yang bermuara di sana. Cemaran sabun juga ditimbulkan pemakaian sabun oleh masyarakat adat yang bermukim di rumah panggung Danau Sentani.
Edy, sapaan akrab Hendrik Ohee, berharap pemerintah serius menertibkan atau mengawasi aktivitas tambang lokal. Edy juga meminta pemerintah menertibkan warga yang tinggal di pemukiman dan kompleks perumahan, agar sampah rumah tangga mereka tidak dibuang ke sungai yang bermuara di Danau Sentani.
“Untuk kebutuhan sehari-hari, masih bisa molo-molo, pancing, atau juga hasil dari jaring. Untuk makan, sebagian dijual ke pasar. Karena untuk memaksimalkan kembali keramba apung, tentunya membutuhkan modal yang tidak sedikit. Perawatan jaring, memperbaiki dan membersihkan dasar keramba dari sampah sisa-sisa pakan ikan, serta pengadaan pelampung busa yang baru,” jelas Ohee.

Data Dinas Perikanan dan Kelautan Papua pada 2023 menyebutkan Danau Sentani memiliki beragam potensi. Di danau yang membentang antara Distrik Sentani Timur, Sentani, Ebungfau, serta Waibhu terdapat 542 keramba, dengan total luas keramba mencapai 8,71 hektare.
Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua menyebutkan bahwa alat tangkap yang digunakan adalah jaring insang, pancing tombak, sumpit (harpun), serta perahu sayap (perahu bolotu).
Sementara itu, jenis ikan yang ada di perairan tersebut sebanyak 16 jenis, dan dari jumlah itu sebanyak 9 jenis ikan di antaranya ikan asli daerah ini (spesies endemik). Ikan yang paling banyak ditangkap nelayan adalah jenis ikan rainbow atau Hew (Chilaterina Sentaniencis), Gete-gete besar (Apogon wichmani), Sembilang (Hemipimelodus Venutinus), Gabus Putih (Ophiocira aporas) dan Gabus hitam (Glossogobius giuris).
Jumlah hasil tangkapan per tahun diperkirakan sebesar 1.823,52 ton. Tangkapan nelayan berkisar 4,2 – 5,6 kilogram per hari, atau rata-rata sekitar 4,7 kilogram per hari. Sedangkan potensi yang ada diperkirakan mencapai 8.922,8 ton per tahun, sehingga pemanfaatannya baru sebesar 18 persen.
Para nelayan dalam kegiatan perikanan ini merupakan masyarakat asli Papua. Jumlah pembudidaya perikanan di Danau Sentani ada 674 orang, dengan skala usaha yang kecil. Hasil budi daya keramba Danau Sentani diperkirakan mencapai 90,105 ton per tahun. Jenis ikan yang dominan dibudidayakan adalah ikan introduksi (bukan ikan spesies lokal) seperti nila, mujair, mas, dan gurame.
Dinas Perikanan dan Kelautan Papua menargetkan luasan keramba di Danau Sentani akan ditambah hingga 149,76 hektare atau 1,6 persen dari luas total danau. Saat ini, luasan keramba di Danau Sentani baru mencapai 6 persen dari total potensi perikanan budidaya Danau Sentani.
Dengan potensi yang cukup besar itu, kelompok nelayan binaan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Jayapura, Papua, sejak 2017 telah mengekspor ikan secara rutin ke Hongkong dan Jepang melalui Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Wakil Ketua I DPRK Jayapura, Hariyanto Piet Soyan turut prihatin dengan kondisi air di Danau Sentani yang kian mengalami penurunan kualitasnya. Danau Sentani semakin terimpit oleh dampak pembangunan, dengan pendangkalan sebagian wilayah pinggiran karena aktivitas pembangunan infrastruktur jalan, sampah, maupun tambang lokal.
Piet Soyan juga mengapresiasi keberadaan masyarakat adat yang hidup dan tinggal di pinggiran danau, dari timur hingga ke barat. Meski kondisi air danau memprihatinkan, tetapi aktivitas sosial kemasyarakatan di setiap kampung tetap berjalan dengan normal. “Hampir seluruh masyarakat dipinggir danau dengan aktivitas mencari dan budidaya ikan masih berjalan, walaupun ada pesaing – pesaing dari luar yang memanfaatkan potensi danau ini,” ujarnya.
Menurutnya, Danau Sentani mesti dijadikan pusat atau lumbung ikan air tawar segar terbesar. Hasilnya dapat dipergunakan memenuhi kebutuhan masyarakat secara umum.
Ia meminta semua pihak bergandengan tangan untuk mengatur dan mengawasi kebiasaan buruk seperti membuang sampah dengan sembarangan. Pemerintah seharusnya membuat tim lintas koordinasi, agar bisa bersama masyarakat adat pemilik hak ulayat mencari solusi terbaik atas penurunan kualitas air Danau Sentani.

Jika usaha tambang lokal oleh masyarakat adat pemilik hak ulayat dikelola secara ramah lingkungan, dan aturan kawasan Cagar Alam Cycloop ditegakkan, kelestarian Danau Sentani dapat terjaga, dan kesejahteraan masyarakat adat juga meningkat. “Sekarang ini apa yang mau diupayakan dari kondisi danau yang kalau diibaratkan manusia, sedang sakit,” kata Piet Soyan.
Soyan juga mengakui adanya kondisi alam yang berjalan dengan sendirinya, bahwa fungsi alam pada masa tertentu bisa mengembalikan, menetralisir segala sesuatu secara alami dengan caranya sendiri. Ada juga melalui ritual oleh masyarakat adat yang dilakukan agar kondisi air danau bisa pulih kembali.
“Kita tetap menerima segala bentuk konsekuensinya, perubahan yang terjadi setiap waktu. Tetapi keberpihakan dan kepentingan masyarakat adat di atas tanahnya sendiri harus diprioritaskan,” tegasnya.
Soyan berharap agar Pemerintah Kabupaten Jayapura dengan segala bentuk perencanaan dan program pembangunan daerah serius memperbaiki kualitas air Danau Sentani. Daerah ini sudah punya regulasi yang mengatur dan memproteksi terhadap hak-hak masyarakat adat, antara lain Peraturan Daerah tentang Perlindungan Hukum Masyarakat Adat, Peraturan Daerah tentang Masyarakat Adat, dan Peraturan Daerah tentang Perlindungan terhadap Potensi Sumber Daya Alam, Danau, Sungai, Rawa, dan Hutan.
“Padahal, Danau Sentani ini sudah terkenal. Berbagai iven seperti festival budaya dan seni, tur wisata, perlombaan olahraga air seperti renang, dayung, jet ski, dayung tradisional, biasa diselenggarakan di atas danau ini. Itu menarik banyak pengunjung yang datang ke daerah,” jelasnya.
Kembali kepada tradisi dan kebiasaan yang turun temurun, Ondofolo Nendali, Yan Piet Wally, mengatakan bahwa masyarakat adat Phuyaka tidak bisa terlepas dari tradisi kafela juga andui, karena seluruh aktivitas kehidupan mereka berada di atas danau. Tidak mengherankan jika tradisi itu dirawat hingga kini, sebagai satu mata pencaharian yang masih terus di lakukan.
“Sudah tradisi yang melekat dan turun temurun, karena sebagian besar kita hidup di atas danau, jadi mau tidak mau tradisi dilakukan untuk bertahan hidup,“ ujarnya.
Edwin Epaa, masyarakat adat Phuyaka lainnya yang mengatakan tradisi leluhur yang dilaksanakan ini bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga sebuah warisan leluhur yang mengajarkan ketekunan, kesabaran, serta kemampuan membaca tanda-tanda alam.
Hal yang sama juga disampaikan Yotam Wamblolo. Menurutnya, kafela dan andui bahwa bukan sekadar mencari makan, tetapi juga menjaga hubungan dengan danau yang sudah memberi kehidupan sejak dulu. “Kami bukan saja mencari ikan, tetapi bentuk penghormatan dan menjaga hubungan dengan alam dan danau sekitar,“ ujarnya. (*)



























