Jayapura, Jubi – Cahaya kunang-kunang pada malam hari semakin jarang, bahkan di Kota Jayapura, Provinsi Papua pun mulai tak kelihatan lagi. Cahaya kunang-kunang sebagai pertanda bahwa ekosistem dan habitatnya masih baik-baik saja.
Akan tetapi fakta hari ini, cahaya kedipan serangga ini di malam hari mulai tak terlihat lagi.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Papua (Walhi) Papua, Maikel Primus Peuki pun menyatakan ia juga selalu dengar cerita orang tua tentang mitos dan cahaya kelap-kelip kunang-kunang pada malam hari.
“Bahkan di Kota Jayapura sudah tidak ada lagi. Mungkin karena perubahan lingkungan akibat terlalu banyak lampu, kitorang tidak tahu, tetapi yang jelas kunang-kunang sudah hilang lenyap,” kata Maikel Primus Peuki dalam podcast Jubi TV di Kantor Redaksi Jubi belum lama ini.
Menurut Peuki, dulu masih kelihatan kedap-kedip kunang-kunang di malam hari. Tampak memberikan tanda bahwa alam masih tetap terjaga dan baik-baik saja. Namun kini, cahaya itu sudah jarang terlihat.
Katanya, menurunnya populasi kunang-kunang di suatu wilayah merupakan tanda bahwa kualitas kesehatan ekosistem dan lingkungan tersebut sedang menurun.
“Kunang-kunang adalah bioindikator (indikator alami) yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan,” ucapnya.
Pendapat ini dibenarkan oleh dosen STFT Fajar Timur, kini Universitas Katolik Fajar Timur di Papua, Dr. Ignasius Ngari, OFM.
Ia mengatakan bahwa memang benar sudah tidak kelihatan di malam hari. Bahkan apabila kita berjalan ke kali-kali di Kota Jayapura, sudah tidak ada lagi serangga kecil yang beterbangan di atas permukaan kali.
“Termasuk jika hujan, di selokan sudah tidak ada lagi berudu atau kecebong lagi. Serangga termasuk binatang yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan,” kata Ignasius Ngari.
Katanya, tubuh serangga tidak memiliki rangka atau tulang sejati di dalamnya, sehingga mereka termasuk sangat rentan. Misalnya di Yunani, penghasil madu pernah mengalami krisis karena lebah-lebah pekerja hilang.
Menurutnya, akibat kekeringan ekstrem dan gelombang panas yang datang lebih awal, produksi madu di Yunani merosot tajam.
Ignasius mengutip pendapat rekannya, almarhum Bruder Henk van Mastrigt, seorang biarawan Katolik asal Belanda dan ahli entomologi mandiri, ahli kupu-kupu, mengatakan kupu-kupu termasuk serangga yang juga rentan terhadap perubahan alam termasuk kunang-kunang.
Tercatat sekarang, di wilayah seperti Pulau Kreta dan pulau-pulau lainnya, produksi bahkan dilaporkan anjlok hingga 80 persen sampai 90 persen.
Jenis madu musim panas seperti madu thyme (salah satu varietas andalan Yunani) terancam hilang dari pasar, semua ini terjadi akibat perubahan cuaca dan musim panas yang panjang.
Sebenarnya hilangnya kunang-kunang bukan saja di Kota Jayapura, salah seorang guru Bahasa Inggris SMP di Bogor melalui aplikasi pesan singkatnya kepada Jubi mengatakan, kota hujan termasuk Kebun Raya Bogor juga sudah tidak kelihatan adanya kedap-kedip kunang-kunang itu.
“Saya lihat sudah jarang ada, bahkan mungkin tidak lagi kelihatan. Terakhir aku lihat kunang-kunang itu di Bandung sore menjelang malam di sebuah pedesaan di Bandung pada 1992,” kata Rosana, guru Bahasa Inggris itu.
Berbeda dengan di Bogor dan Kota Jayapura, warga dari Nimboran, Kabupaten Jayapura, Maurits mengatakan di hutan Nimboran masih kelihatan kunang-kunang di malam hari.
Belakangan, banyak warganet mengeluhkan semakin sulitnya menemukan kunang-kunang di alam. Fenomena ini ternyata bukan sekadar nostalgia, melainkan memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Menurut Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi, dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, kelangkaan kunang-kunang menjadi salah satu indikator menurunnya kualitas lingkungan.
“Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang,” katanya sebagaimana dilansir Jubi dari laman www.ipb.ac.id.
Menurut pakar Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, penurunan populasi kunang-kunang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global.
Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan sekitar 11–20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi berada dalam kondisi terancam.
Bahkan beberapa spesies khas Asia Tenggara yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah masuk kategori rentan.
“Di Indonesia sendiri, berbagai kajian entomologi menunjukkan populasi kunang-kunang mengalami penurunan drastis, terutama di wilayah perkotaan. Serangga bercahaya ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari perubahan kelembapan tanah hingga pencemaran,” kata Prof. Upik.
Menurutnya, kerusakan habitat menjadi faktor utama penyebab menurunnya populasi kunang-kunang.
Alih fungsi lahan hijau, rawa, dan persawahan menjadi kawasan permukiman maupun industri menghilangkan tempat hidup larva yang membutuhkan tanah lembap untuk berkembang.
Selain itu, polusi cahaya akibat lampu LED yang terlalu terang juga mengganggu proses perkawinan kunang-kunang. Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan mendeteksi sinyal cahaya dari betina sehingga gagal bereproduksi.
Faktor lain yang turut berperan adalah penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, serta urbanisasi yang semakin masif.
Meski demikian, kunang-kunang masih dapat ditemukan di habitat yang lembap, minim polusi cahaya, dan bebas pencemaran.
Beberapa di antaranya adalah kawasan mangrove, tepi sungai yang masih alami, rawa, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap.
Prof. Upik mengingatkan, jika kerusakan habitat dan polusi cahaya terus berlanjut, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal kunang-kunang melalui buku, museum, atau tayangan digital.
Karenanya, ia mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga habitat kunang-kunang.
Langkah sederhana seperti tidak menutup seluruh halaman dengan semen, mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, memanfaatkan pupuk organik, serta menjaga kebersihan sungai dan saluran air dapat membantu mempertahankan populasi serangga unik tersebut.
Katanya, kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang.
Menurutnya, kunang-kunang merupakan jenis kumbang yang termasuk ke dalam famili Lampyridae, ordo Coleoptera, kelas Insecta.
Terdapat lebih dari 2000 spesies kunang-kunang yang dapat ditemukan di daerah empat musim dan tropis di seluruh dunia. Banyak spesies ini ditemukan di rawa atau hutan yang basah di mana tersedia banyak persediaan makanan untuk larvanya.
Meskipun sering disangka sebagai lalat atau jenis serangga lain, kunang-kunang sebenarnya adalah kumbang bertubuh lunak yang terkenal berkat kemampuannya menghasilkan cahaya sendiri melalui proses bioluminesensi (*)























Discussion about this post