• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Lingkungan

Kunang-kunang dan hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan

October 24, 2026
in Lingkungan
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: Dominggus A Mampioper - Editor: Arjuna Pademme
Kunang-kunang dan hilangnya habitat

Kunang-kunang adalah kumbang yang menghasilkan cahaya sendiri melalui proses bioluminesensi. - Jubi/rumahpengetahuan.web.id

0
SHARES
0
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Cahaya kunang-kunang pada malam hari semakin jarang, bahkan di Kota Jayapura, Provinsi Papua pun mulai tak kelihatan lagi. Cahaya kunang-kunang sebagai pertanda bahwa ekosistem dan habitatnya masih baik-baik saja.

Akan tetapi fakta hari ini, cahaya kedipan serangga ini di malam hari mulai tak terlihat lagi.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Papua (Walhi) Papua, Maikel Primus Peuki pun menyatakan ia juga selalu dengar cerita orang tua tentang mitos dan cahaya kelap-kelip kunang-kunang pada malam hari.

“Bahkan di Kota Jayapura sudah tidak ada lagi. Mungkin karena perubahan lingkungan akibat terlalu banyak lampu, kitorang tidak tahu, tetapi yang jelas kunang-kunang sudah hilang lenyap,” kata Maikel Primus Peuki dalam podcast Jubi TV di Kantor Redaksi Jubi belum lama ini.

Menurut Peuki, dulu masih kelihatan kedap-kedip kunang-kunang di malam hari. Tampak memberikan tanda bahwa alam masih tetap terjaga dan baik-baik saja. Namun kini, cahaya itu sudah jarang terlihat.

Katanya, menurunnya populasi kunang-kunang di suatu wilayah merupakan tanda bahwa kualitas kesehatan ekosistem dan lingkungan tersebut sedang menurun.

“Kunang-kunang adalah bioindikator (indikator alami) yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan,” ucapnya.

BERITATERKAIT

Ketua PPDI Yahukimo: Hilangnya dua warga mesti diusut

Orang tua murid desak penyelesaian sengketa lahan SD Lentera Harapan

Masa depan pengelolaan lahan di Vanuatu

Kabupaten Mimika siapkan lahan perkebunan teh 150 hektare

Pendapat ini dibenarkan oleh dosen STFT Fajar Timur, kini Universitas Katolik Fajar Timur di Papua, Dr. Ignasius Ngari, OFM.

Ia mengatakan bahwa memang benar sudah tidak kelihatan di malam hari. Bahkan apabila kita berjalan ke kali-kali di Kota Jayapura, sudah tidak ada lagi serangga kecil yang beterbangan di atas permukaan kali.

“Termasuk jika hujan, di selokan sudah tidak ada lagi berudu atau kecebong lagi. Serangga termasuk binatang yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan,” kata Ignasius Ngari.

Katanya, tubuh serangga tidak memiliki rangka atau tulang sejati di dalamnya, sehingga mereka termasuk sangat rentan. Misalnya di Yunani, penghasil madu pernah mengalami krisis karena lebah-lebah pekerja hilang.

Menurutnya, akibat kekeringan ekstrem dan gelombang panas yang datang lebih awal, produksi madu di Yunani merosot tajam.

Ignasius mengutip pendapat rekannya, almarhum Bruder Henk van Mastrigt, seorang biarawan Katolik asal Belanda dan ahli entomologi mandiri, ahli kupu-kupu, mengatakan kupu-kupu termasuk serangga yang juga rentan terhadap perubahan alam termasuk kunang-kunang.

Tercatat sekarang, di wilayah seperti Pulau Kreta dan pulau-pulau lainnya, produksi bahkan dilaporkan anjlok hingga 80 persen sampai 90 persen.

Jenis madu musim panas seperti madu thyme (salah satu varietas andalan Yunani) terancam hilang dari pasar, semua ini terjadi akibat perubahan cuaca dan musim panas yang panjang.

Sebenarnya hilangnya kunang-kunang bukan saja di Kota Jayapura, salah seorang guru Bahasa Inggris SMP di Bogor melalui aplikasi pesan singkatnya kepada Jubi mengatakan, kota hujan termasuk Kebun Raya Bogor juga sudah tidak kelihatan adanya kedap-kedip kunang-kunang itu.

“Saya lihat sudah jarang ada, bahkan mungkin tidak lagi kelihatan. Terakhir aku lihat kunang-kunang itu di Bandung sore menjelang malam di sebuah pedesaan di Bandung pada 1992,” kata Rosana, guru Bahasa Inggris itu.

Berbeda dengan di Bogor dan Kota Jayapura, warga dari Nimboran, Kabupaten Jayapura, Maurits mengatakan di hutan Nimboran masih kelihatan kunang-kunang di malam hari.

Belakangan, banyak warganet mengeluhkan semakin sulitnya menemukan kunang-kunang di alam. Fenomena ini ternyata bukan sekadar nostalgia, melainkan memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Menurut Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi, dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, kelangkaan kunang-kunang menjadi salah satu indikator menurunnya kualitas lingkungan.

“Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang,” katanya sebagaimana dilansir Jubi dari laman www.ipb.ac.id.

Menurut pakar Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, penurunan populasi kunang-kunang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global.

Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan sekitar 11–20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi berada dalam kondisi terancam.

Bahkan beberapa spesies khas Asia Tenggara yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah masuk kategori rentan.

“Di Indonesia sendiri, berbagai kajian entomologi menunjukkan populasi kunang-kunang mengalami penurunan drastis, terutama di wilayah perkotaan. Serangga bercahaya ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari perubahan kelembapan tanah hingga pencemaran,” kata Prof. Upik.

Menurutnya, kerusakan habitat menjadi faktor utama penyebab menurunnya populasi kunang-kunang.

Alih fungsi lahan hijau, rawa, dan persawahan menjadi kawasan permukiman maupun industri menghilangkan tempat hidup larva yang membutuhkan tanah lembap untuk berkembang.

Selain itu, polusi cahaya akibat lampu LED yang terlalu terang juga mengganggu proses perkawinan kunang-kunang. Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan mendeteksi sinyal cahaya dari betina sehingga gagal bereproduksi.

Faktor lain yang turut berperan adalah penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, serta urbanisasi yang semakin masif.

Meski demikian, kunang-kunang masih dapat ditemukan di habitat yang lembap, minim polusi cahaya, dan bebas pencemaran.

Beberapa di antaranya adalah kawasan mangrove, tepi sungai yang masih alami, rawa, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap.

Prof. Upik mengingatkan, jika kerusakan habitat dan polusi cahaya terus berlanjut, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal kunang-kunang melalui buku, museum, atau tayangan digital.

Karenanya, ia mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga habitat kunang-kunang.

Langkah sederhana seperti tidak menutup seluruh halaman dengan semen, mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, memanfaatkan pupuk organik, serta menjaga kebersihan sungai dan saluran air dapat membantu mempertahankan populasi serangga unik tersebut.

Katanya, kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang.

Menurutnya, kunang-kunang merupakan jenis kumbang yang termasuk ke dalam famili Lampyridae, ordo Coleoptera, kelas Insecta.

Terdapat lebih dari 2000 spesies kunang-kunang yang dapat ditemukan di daerah empat musim dan tropis di seluruh dunia. Banyak spesies ini ditemukan di rawa atau hutan yang basah di mana tersedia banyak persediaan makanan untuk larvanya.

Meskipun sering disangka sebagai lalat atau jenis serangga lain, kunang-kunang sebenarnya adalah kumbang bertubuh lunak yang terkenal berkat kemampuannya menghasilkan cahaya sendiri melalui proses bioluminesensi (*)

Tags: Alih fungsiHabitatHilangnyaKunang-kunangLahan
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Hilangnya dua warga Yahukimo

Ketua PPDI Yahukimo: Hilangnya dua warga mesti diusut

October 16, 2026
Orang tua murid SD Lentera Harapan

Orang tua murid desak penyelesaian sengketa lahan SD Lentera Harapan

August 4, 2026

Masa depan pengelolaan lahan di Vanuatu

October 22, 2024

Kabupaten Mimika siapkan lahan perkebunan teh 150 hektare

February 1, 2024

Pemprov Papua Barat Daya siapkan lahan pembangunan markas Polda

January 30, 2024

Pengembangan Pasar Youtefa terkendala lahan

September 6, 2023

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Papua rights group reports alleged military abuses in Tolikara
23 October 2026
Papua rights group reports alleged military abuses in Tolikara

Jayapura, Jubi – The Papua Justice and Human Integrity Foundation (YKKMP) has reported alleged military sweeps, intimidation, interrogations and physical [...]

Ateta clan boycotts Genting Oil activities on customary land
23 October 2026
Ateta clan boycotts Genting Oil activities on customary land

Jayapura, Jubi – The Ateta clan, an Indigenous customary law community of the Sumuri people in Teluk Bintuni Regency, West [...]

Klagilit clan demands accountability from coal mining companies
22 October 2026
Klagilit clan demands accountability from coal mining companies

Sorong, Jubi – The Indigenous Moi community’s Klagilit clan has called on PT Megapura Prima Industri (MPI) and PT Gelora [...]

Papua children’s film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua wins Global Peace and Friendship award  
22 October 2026
Papua children’s film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua wins Global Peace and Friendship award  

Jayapura, Jubi – Indonesian children’s film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua has won the Global Peace and Friendship [...]

Documentary Pesta Babi screened 17 times across Europe
21 October 2026
Documentary Pesta Babi screened 17 times across Europe

Jayapura, Jubi – The documentary Pesta Babi (Pig Feast) – Colonialism in Our Time was screened 17 times across several [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Kunang-kunang dan hilangnya habitat

Kunang-kunang dan hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan

October 24, 2026
Timika dan Nabire potensi pengembangan berbagai sektor

Gubernur Nawipa: Timika dan Nabire berpotensi untuk pengembangan berbagi sektor

October 24, 2026
Kemasan kopi Papua Tengah

Gubernur Nawipa: Kemasan kopi Papua Tengah mesti dibuat menarik

October 24, 2026
Petani Kopi Mimika

Pemprov Papua Tengah serahkan bantuan alat pascapanen kopi kepada petani Mimika

October 24, 2026
Solomon berkomitmen dengan Indonesia

PM Kepulauan Solomon berkomitmen memperkuat hubungan dengan Indonesia

October 24, 2026
Hubungan Israel dengan Pasifik

Wakil PM Fiji: Hubungan Israel dan Pasifik alami, abadi, nyata

October 24, 2026
Kelompok gereja Pasifik

Kelompok gereja Pasifik menyerukan peninjauan peran Israel di PIF

October 24, 2026
El Nino terkuat

El Nino terkuat yang pernah tercatat

October 23, 2026
Ikan mati di Kepulauan Solomon

Puluhan ikan mati di sepanjang garis pantai Munda Kepulauan Solomon

October 23, 2026
Protes Karhutla dan bencana nasional

Hentikan pembungkaman protes Karhutla dan tetapkan status bencana nasional

October 24, 2026
Berkas perzinaan komisioner KPU

Berkas dugaan perzinaan komisioner KPU Papua Barat telah P21

October 24, 2026
Pengembangan pertanian dan perikanan di Mamberamo Raya

Pemkab Mamberamo Raya jajaki kerja sama pengembangan pertanian dan perikanan

October 23, 2026
Pemkab siapkan lokasi bagi siswa SD Inpres Doyo

Pemkab siapkan lokasi belajar sementara bagi siswa SD Inpres Doyo Baru

October 22, 2026
Tambang emas Makimi

Berebut emas di Makimi, masyarakat adat dapat apa?

October 23, 2026
Kunang-kunang dan hilangnya habitat

Kunang-kunang dan hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan

0
Timika dan Nabire potensi pengembangan berbagai sektor

Gubernur Nawipa: Timika dan Nabire berpotensi untuk pengembangan berbagi sektor

0
Kemasan kopi Papua Tengah

Gubernur Nawipa: Kemasan kopi Papua Tengah mesti dibuat menarik

0
Petani Kopi Mimika

Pemprov Papua Tengah serahkan bantuan alat pascapanen kopi kepada petani Mimika

0
Solomon berkomitmen dengan Indonesia

PM Kepulauan Solomon berkomitmen memperkuat hubungan dengan Indonesia

0
Hubungan Israel dengan Pasifik

Wakil PM Fiji: Hubungan Israel dan Pasifik alami, abadi, nyata

0
Kelompok gereja Pasifik

Kelompok gereja Pasifik menyerukan peninjauan peran Israel di PIF

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : [email protected]

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara