Jayapura, Jubi – Wakil Perdana Menteri (PM) Fiji, Viliame Gavoka mengatakan bahwa kawasan Pasifik memiliki kesamaan pandangan dengan Israel melalui cara yang mungkin tidak dipahami oleh banyak orang.
Viliame Gavoka, yang juga menjabat sebagai Menteri Pariwisata dalam pemerintahan koalisi Perdana Menteri Sitiveni Rabuka, menanggapi sebuah unggahan di Facebook tentang diterimanya Israel ke dalam Forum Kepulauan Pasifik (PIF) sebagai mitra pembangunan, sebagaimana dilansir Jubi dari laman RNZ Pasifik, Sabtu (24/10/2026).
PIF, yang didukung oleh Australia dan Selandia Baru sebagai anggota pendirinya, adalah lembaga pengambilan keputusan politik utama di kawasan ini.
“Seluruh Kepulauan Pasifik mengidentifikasi diri dengan Israel dengan cara yang mungkin tidak dipahami oleh banyak orang,” tulis Gavoka dalam sebuah komentar.
“Ini berdasarkan Alkitab, abadi, dan nyata. Apakah kita akan membuat sebagian orang marah? Mungkin… tetapi kita tahu bahwa hubungan dengan Israel bersifat abadi, sedangkan dengan negara lain, sebagian besar bersifat geopolitik dan bergantung pada apa yang sedang menjadi tren saat ini.”
Fiji adalah salah satu pendukung Israel yang paling setia dan membuka kedutaan besarnya di Yerusalem pada bulan September tahun lalu, sementara Israel mendirikan kehadiran permanennya di Suva pada bulan Juni tahun ini.
Baik Gavoka maupun Rabuka termasuk di antara politisi yang paling pro-Israel di Fiji dan Pasifik.
Status PIF Israel, yang diputuskan pada pertemuan para pemimpin di Palau pada bulan September, membutuhkan konsensus dari seluruh 18 anggota Forum, termasuk Selandia Baru.
Keputusan tersebut telah menarik berbagai komentar di seluruh wilayah.
Di Aotearoa, pemimpin ACT David Seymour menyampaikan “sambutan hangat Pasifik” kepada Israel, sementara Partai Buruh mempertanyakan penerimaan Israel ke Forum tersebut.
Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, mengatakan bahwa mengkritik dimasukkannya Israel dalam PIF merupakan penghinaan terhadap negara-negara Kepulauan Pasifik, dan menambahkan bahwa keputusan para pemimpin Pasifik harus dihormati.
Mantan penasihat PIF, Sione Tekiteki, mengatakan bahwa Israel mendapatkan pengakuan resmi melalui PIF adalah cara untuk melegitimasi diri di wilayah tempat mereka mendapatkan banyak simpati.
Faktor yang menyebabkan pengaruh kuat gereja-gereja Evangelis di sebagian besar masyarakat Pasifik, yang meyakini nubuat Alkitab mengenai Tanah Suci dan bangsa Yahudi.
Selain itu, Israel aktif menjalin diplomasi ekonomi, proyek pembangunan, pertanian, pengelolaan air (desalinasi), dan bantuan teknis melalui lembaga seperti MASHAV sejak dekade 1970-an.
Bahkan para pemuda dari Fiji dan Kepulauan Solomon ikut dalam pelatihan pertanian di Israel selama beberapa tahun.
Hingga saat ini, terdapat tiga negara Kepulauan Pasifik yang secara resmi telah membuka Kedutaan Besar (Kedubes) mereka di Yerusalem, antara lain, Papua Nugini (PNG) telah menjadi negara Pasifik pertama (dan kelima di dunia) yang membuka kedutaannya di Yerusalem pada September 2023.
Peresmiannya dihadiri langsung oleh Perdana Menteri PNG, James Marape. Selanjutnya, Fiji, negara Pasifik kedua yang mengambil langkah ini.
Perdana Menteri Fiji, Sitiveni Rabuka, meresmikan kantor diplomatik tetap mereka di Yerusalem pada September 2025.
Sedangkan negara Pasifik ketiga adalah Nauru (Naoero) yang telah meresmikan kantor kedutaan besarnya di Yerusalem pada 7 September 2026.
Selain itu, negara-negara Pasifik yang selalu mendukung Israel di sidang PBB adalah Kepulauan Marshall, Federasi Mikronesia, Palau, dan Tonga, serta tiga negara yang telah membuka kedubesnya di Yerusalem.
Negara Pasifik lainnya seperti Samoa, Vanuatu, Kiribati, atau Tuvalu terkadang mengambil sikap abstain atau memiliki dinamika kebijakan luar negeri yang lebih beragam. (*)




















Discussion about this post