Jayapura, Jubi – Perjalanan klub Persipura Jayapura tak terpisahkan dari lembaran sejarah panjang seragam atau kostum yang dikenakan para pemainnya dari masa ke masa.
Sama seperti kebanyakan klub sepak bola di seluruh dunia, bagi Persipura, jersei (jersey) bukan sekadar perlengkapan untuk bertanding, tapi tentang identitas, simbol kebanggaan, dan roh yang melekat selama bertahun-tahun.
Manajemen Persipura baru saja meluncurkan jersei anyar sebagai perlengkapan ‘perang’ bagi para penggawanya untuk mengarungi medan tempur Liga 2 musim 2025/2026.
Jersey baru itu didesain dengan empat warna berbeda. Seperti tahun-tahun sebelumnya, seragam kandang tetap didominasi warna kebesaran mereka, merah hitam, yang mencerminkan semangat juang tim berjuluk Mutiara Hitam.
Sedangkan seragam tandang hadir dengan pilihan warna putih dengan simbol salib di tengah dan lengan berwarna hitam. Lalu dua jersei kiper didesain dengan dua warna berbeda, hijau hitam dan merah muda.
Ada satu perubahan penting pada jersei terbaru Persipura musim ini. Jersei anyar Persipura itu kini tak lagi disokong oleh merek lokal ternama. Manajemen Persipura menggantinya dengan apparel Nusantara Cenderawasih Karsa (NCK) yang merupakan anak perusahaan sang manajer, Owen Rahadian. Ini menjadi momen pertama kali bagi Persipura memproduksi sendiri perlengkapan kostum skuadnya.

Meski tetap mengusung kombinasi warna merah hitam, desain jersei baru Persipura ini terasa lebih segar dan modern. Menggunakan teknologi khusus yang ringan dan mampu menyerap keringat.
Jersey ini dirancang untuk mendukung performa terbaik para pemain. Guratan ornamen khas Papua juga menambah menarik jersei baru Persipura, memberikan sentuhan budaya lokal yang kental.
Pada bagian dada sebelah kiri terpampang logo berbentuk burung cenderawasih berwarna putih, yang merupakan logo dari Cendrawasih Karsa.
Sedangkan pada dada sebelah kanan menjadi bagian paling sakral dengan menempatkan logo klub Persipura berbintang empat, menandakan koleksi gelar juara yang pernah diraih oleh Persipura di Liga Indonesia.
Ketua Umum Persipura Benhur Tomi Mano menaruh harapan yang sama dengan para penggemar dan manajemen klub, agar Persipura kembali mengukir prestasi dalam balutan seragam baru.
“Kita semua punya harapan yang sama semoga dengan jersei yang baru ini Pak Owen dan tim bisa ukir sejarah baru untuk Tanah Papua oleh hasil dan prestasi yang positif. Jersei kali ini kita gunakan memakai brand kita sendiri yaitu Nusantara Cenderawasih Karsa dengan logo NCK,” kata Tomi Mano.
Juru taktik Persipura Ricardo Salampessy juga terkesan dengan jersei baru timnya.
Ia menilai tak jauh berbeda dengan jersei mereka sebelumnya, yang mengusung kombinasi merah hitam. Namun, menurutnya yang menarik adanya ornamen khas budaya dan menggunakan bahan yang lebih ringan.

“Secara corak tidak ada perubahan, tetap merah hitam. Desainnya yang ada beberapa perubahan, corak culture tetap ada dan bahannya lebih ringan. Jersei yang bagus akan menambah kepercayaan diri, tapi yang menentukan hasil di lapangan adalah kinerja tim secara keseluruhan,” kata Ricardo.
Keistimewaan jersei terbaru Persipura itu juga turut ditanggapi salah satu pemain senior di tim Mutiara Hitam, Tinus Pae. Pemain yang sudah 18 tahun mengabdi untuk Persipura itu berharap kostum baru di Liga 2 musim ini bisa menghadirkan semangat baru untuk timnya.
“Saya sudah coba jerseinya, bahannya halus dan lembut. Semoga bisa membawa semangat baru bagi kami tim persipura di musim 2025/2026 ini. Kami harus bekerja lebih keras lagi agar cita-cita untuk juara dan naik ke Liga 1 bisa tercapai,” katanya.
Bagi Tipa, semua jersei Persipura yang ia kenakan selalu berkesan setiap musimnya, karena menjadi bagian dari perjuangan mereka. Jersei baru Persipura di musim ini menurutnya tetap istimewa karena masih mengusung warna kebesaran klub, merah hitam.
“Saya pikir setiap musim jersei yang kita pakai selalu berkesan, meskipun ganti sponsor. Tetapi inti dan ciri khas baju Persipura itu yang terpenting jangan dihilangkan, warna merah dan hitam,” ujarnya.
Representasi identitas dan semangat juang
Manajer Persipura Owen Rahadian melibatkan seniman batik dan desainer asal Tanah Tabi, Jimmy Affar menyiapkan kostum baru itu.
Affar benar-benar mendesainnya dengan detail. Pada dua jersey yang akan dikenakan para pemain Persipura jelang Liga 2 musim 2025/2026 itu, terdapat guratan khas yang menonjolkan identitas budaya.

“Jersei baru kita ini desainnya bukan sembarang desain,” kata Owen saat peluncuran jersei baru Persipura yang disiarkan langsung lewat streaming YouTube, Jumat (1/8/2025).
Ia melanjutkan, untuk jersei kandang Persipura dirancang dengan dua elemen utama yang menonjol.
“Lalu yang jersei awal bermakna ikan terbang, tentang menemukan jati diri dan semangat juang,” ujarnya.
Pada ‘jersey home’ atau kandang, jelas Owen, menyematkan motif khas sapuan kuas, sebuah simbol yang telah menjadi identitas tak terpisahkan dari tim Persipura.
“Pada bagian lengan yang merupakan kreasi dari seniman batik Papua, Jimmy Affar, menggoreskan motif ikan terbang, siluet burung camar, kapak batu dan untaian manik-manik yang melambangkan sebuah doa restu dari leluhur untuk menjaga kebersamaan, keharmonisan, dan kelestarian tradisi,” katanya.
Yang juga tampak berbeda dari jersei terbaru Persipura itu, lanjut Owen, terlihat pada garis-garis vertikal kombinasi merah hitam yang tidak lagi kaku dan lurus. Garis-garisnya dibuat lebih kasar mengibaratkan goresan kuas yang liar, dinamis dan penuh karakter, yang mencerminkan DNA sejati para pemain Persipura dengan bakat alami dan potensi yang luar biasa.
“Mereka bukan bermain hanya dengan teknik semata, tetapi dengan hati dan jiwa. Setiap goresan kuas melambangkan pemain-pemain Papua yang kaya akan talenta, semangat, dan rasa bangga. Kita mungkin tampil beda, dan di situlah letak keindahan serta kekuatan kita,” ujar Owen.
Untuk jersey tandang berwarna putih, Owen mengusung metafora ikan terbang. Ia mengibaratkan Persipura sebagai ikan terbang yang tumbuh besar di kancah sepak bola nasional dan dihormati pada kompetisi sepak bola tertinggi.
“Namun, saat ini mereka tengah berada di air yang lebih tenang di kompetisi kasta kedua,” katanya.
Menurut Owen, seperti ikan terbang, Persipura tidak akan pernah puas berada di air yang tenang.

“Kita tidak akan tinggal diam, ikan terbang akan menembus permukaan air, melompat ke udara, bukan untuk lari dari kenyataan, melainkan karena berani bermimpi, berani berubah, dan berani terbang. Kita memang berada di bawah saat ini, namun itu bukan berarti kita kalah,” katanya.
Menurut Owen, filosofi ikan terbang memaknai perjalanan Persipura yang bukan hanya
tentang perjuangan untuk kembali ke kasta tertinggi. Tetapi tentang perjalanan untuk menemukan jati diri mereka kembali.
“Ketika kita nanti kembali terbang tinggi, itu bukan karena keberuntungan, melainkan karena kerja keras, kesetiaan para penggemar dan suporter, serta semangat yang tak pernah padam. Kitorang bangkit! Perjalanan ini baru dimulai. Satu cintaku, satu sayangku, satu semangatku, ini Persipura,” tuturnya.
Benhur Tomi Mano juga mengakui jersei baru Persipura mengusung filosofi budaya yang kental, menghadirkan nuansa dan semangat baru bagi perjalanan Persipura pada kompetisi mendatang.
“Jersei baru ini punya filosofi yang kental dengan Papua. Ini menjadi nuansa dan semangat baru untuk kita mengarungi kompetisi ini dangan harapan yang baru dan ada sejarah baru. Itulah yang harus terpatri dalam diri para pemain,” ujar Mano.
Berawal dari menghadapi klub Jepang
Meski sudah melekat dengan klub Persipura sejak dahulu, namun merah hitam tidak digunakan oleh Persipura sebagai warna jersei mereka sejak pertama kali berdiri. Ini disampaikan salah satu legenda tim Mutiara Hitam, Benny Jensenem.
“Kostum Persipura awalnya berwarna kuning cokelat, warna identik dari hewan endemik Papua, burung cenderawasih,” katanya.
Persipura baru mengenakan jersei berwarna merah hitam sejak awal 1970-an. Dimulai pada laga menghadapi klub asal Jepang, Hitachi, pada 1971 di Stadion Senayan, Jakarta.

Persipura ketika itu tampil dengan nama Irian Jaya Selection yang ditunjuk sebagai wakil Indonesia untuk meladeni klub Hitachi.
“Gubernur Irian Jaya Acub Zainal yang dikenal sebagai tokoh di balik kebangkitan Persipura ketika itu memaknai jersei merah hitam dengan arti keberanian dan kekuatan untuk menghancurkan lawan,” katanya.
Semula, lanjut Jensenem, sejak 1967 warna kostum Persipura berwarna kuning cokelat dengan bis hijau emas di bagian leher.
Pada 1971 Persipura mengubah warna kostumnya menjadi merah hitam bergaris tegak.
“Warna tersebut pertama kali digunakan ketika Presiden Soeharto menunjuk Persipura sebagai perwakilan Indonesia menjamu tim sepak bola Hitachi dari Jepang, bermain di Stadion Senayan GBK tahun 1971,” kata Jensenem.
Menurutnya pemilihan warna merah hitam bukanlah sekadar mengikuti tren, apalagi menjiplak warna klub elit Italia, AC Milan, yang saat itu sedang berada pada masa keemasan.
“Sebaliknya, inspirasi tersebut datang dari kekayaan budaya Papua sendiri,” ujarnya.
Warna merah hitam, jelas Jensenem, adalah warna dasar yang dominan pada ukiran-ukiran khas Papua, seperti yang sering dijumpai pada perahu-perahu tradisional.
Dengan mengenakan warna ini, Persipura tidak hanya bertanding di lapangan, tetapi juga membawa serta simbol kebudayaan Papua. Sejak saat itulah, merah hitam menjadi warna kebesaran yang tak terpisahkan dari Persipura.
“Filosofi warna merah hitam mengikuti warna dasar ukiran-ukiran perahu yang dominan. Jadi Persipura tidak menjiplak warna klub AC Milan dari Italia. Sejak saat itu dan seterusnya warna merah hitam menjadi warna kostum resmi Persipura,” ujar Jensenem.

Bagi para pemain, mengenakan jersei merah hitam ini adalah sebuah kehormatan. Hal ini disampaikan Fernando Fairyo, mantan kapten Persipura pada akhir 1980-an dan awal 1990-an.
“Saat saya jadi pemain dulu, Persipura sudah identik dengan warna merah hitam,” kenangnya.
Bagi Nando dan rekan-rekan setimnya, jersei tersebut bukan hanya sekadar seragam. Ada sebuah kebanggaan yang terpatri dalam jiwa mereka.
“Pada era kami, ada rasa kebanggaan dapat mengenakan jersei merah hitam sebagai identitas Persipura dan Papua,” ujarnya.
Prestasi dan dominasi specs
Sejak awal perjalanan mereka di kancah sepak bola profesional Indonesia, tim Mutiara Hitam Persipura telah melalui berbagai evolusi dalam desain kostum.
Meskipun selalu setia pada kombinasi merah hitam untuk laga kandang dan putih untuk laga tandang, setiap musim membawa corak dan cerita yang berbeda. Mulai dari garis-garis vertikal yang ikonik hingga desain yang didominasi warna solid.
Pada kompetisi Liga Indonesia I hingga Liga Indonesia IV (1994-1998), seluruh klub kontestan, termasuk Persipura, mengenakan jersei dari apparel yang sama, Adidas, yang disediakan langsung oleh penyelenggara kompetisi. Keseragaman ini berlanjut pada Liga Indonesia V dan VI (1998-2000), di mana semua tim beralih menggunakan jersei berlogo Reebok.
Ketika format kompetisi berubah menjadi Liga Bank Mandiri (2000-2004), Persipura sempat terlihat mengenakan kostum dengan logo Nike dan Umbro. Namun, hingga kini tidak ada informasi resmi yang mengonfirmasi keaslian jersei tersebut.
Titik balik kerja sama dengan apparel terjadi pada 2005, saat Persipura menggandeng produsen lokal bernama Specs. Jersey perdana dari Specs ini didominasi warna merah dengan sentuhan hitam yang hanya terlihat pada bagian lengan.

Musim itu menjadi momen bersejarah, di mana Persipura sukses meraih gelar juara Liga Indonesia untuk pertama kalinya setelah mengalahkan Persija Jakarta di final.
Pada musim 2007-2008, skuad Mutiara Hitam berganti kostum. Ketika itu, kostum yang dikenakan oleh Eduard Ivakdalam dan kolega bukan berasal dari apparel ternama, alias tanpa logo merek. Di musim itu mereka gagal menjadi juara dan hanya finis sebagai semifinalis.

Berlanjut ke musim 2008-2009, kostum Persipura disuplai oleh apparel lokal Multi Sport yang sebelumnya dikenal sebagai produsen jersei-jersei KW atau replika klub sepak bola luar negeri. Namun jersey tersebut berbuah keberuntungan. Persipura kembali meraih trofi juara untuk kedua kalinya.
Semusim berikutnya, atau pada 2009-2010, Persipura menjalin kerja sama dengan apparel ternama asal Italia, Lotto. Desain jersey Persipura yang didukung Lotto itu tampak elegan dengan kombinasi merah hitam dan ada sentuhan garis berwarna emas. Sayangnya, di musim itu Persipura hanya bisa mengakhiri kompetisi sebagai runner up.
Setelah petualangan singkat dengan Lotto, Persipura akhirnya kembali bereuni dengan Specs pada 2010. Kerja sama ini menjadi yang terpanjang, bertahan hingga awal 2025. Bersama Specs, Persipura mengukir sejumlah prestasi, termasuk dua gelar juara Liga Indonesia pada tahun 2011 dan 2013, lolos ke babak semifinal Piala AFC 2014, dan menjuarai Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016.
Di era Specs ini pula, kostum Persipura mulai menyematkan motif ukiran khas Papua pada bagian lengan sejak 2014, sebuah sentuhan yang memperkuat identitas lokal. Tren desain garis-garis vertikal merah hitam yang cerah berlanjut hingga 2017.
Pada musim Liga 1 2018-2019, desain tersebut mengalami sedikit perubahan, dengan warna yang lebih gelap namun tetap mempertahankan motif khas Papua.
Pada 2020, Specs kembali mengeluarkan jersei dengan warna yang lebih cerah setelah menuai kritik dari para penggemar. Namun, jersei ini menjadi saksi bisu tragedi degradasi Persipura pada 2022 dan masih tetap dikenakan hingga kompetisi Liga 2 musim lalu.
Dan kini, manajemen Persipura memunculkan wajah baru tim Mutiara Hitam dengan desain kostum anyar yang tampak lebih segar dan modern. Kostum baru tersebut diharapkan bisa menyuntikkan semangat baru bagi Persipura dalam misi mereka kembali ke kasta tertinggi.
“Semoga dengan jersei baru ini Persipura bisa kembali ke Liga 1 dan berjaya lagi seperti dulu. Bagi kami para penggemar, jersei Persipura yang paling berkesan yaitu di tahun 2011-2014. Tapi dengan kehadiran jersei baru Persipura ini, ada semangat baru yang bisa memberikan motivasi bagi para pemain untuk meraih kejayaan lagi,” kata Nelson, salah satu penggemar Persipura. (*)



Discussion about this post