Jayapura, Jubi – Peneliti muda itu merupakan wajah baru dalam penelitian kelautan dari Universitas Papua Nugini (UPNG) di Port Moresby, Papua Nugini.
Ia duduk tenang di belakang ruangan, awalnya diabaikan dan menjadi pusat perhatian.
Ia seorang pemuda dari Ialibu sebuah kota kecil di Provinsi Dataran Tinggi Selatan Papua Nugini , yang belum pernah melihat laut sampai kuliah Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Papua Nugini, sebagaimana dilansir jubi.id dari laman internet, tvwan.com.pg Sabtu (16/5/2026).
Kini ia hadir mendengarkan dengan saksama saat para ilmuwan membahas masa depan penelitian kelautan Papua Nugini dalam Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Samudera Melanesia di Port Moresby, yang berlangsung dari 11-14 Mei di Port Moresby.
Peneliti muda itu bernama Debes Tawia, seorang sarjana dan peneliti muda ilmu kelautan di Universitas Papua Nugini.
Ia bukan pembicara. Ia tidak ada dalam program acara. Tetapi sebelum sesi berakhir, kisahnya akan muncul ke permukaan.
Selama acara KTT Samudera Melanesia berlangsung, Dekan Eksekutif UPNG Profesor Simon Saulei berbicara tentang tantangan yang dihadapi sektor ilmu kelautan PNG, lambatnya perizinan, infrastruktur yang terbatas, kesalahpahaman masyarakat, dan kebutuhan mendesak akan lebih banyak peneliti terlatih.
Kepada para pembuat kebijakan dan delegasi, Prof Saulei mengingatkan mereka bahwa “kita harus berbicara dengan masyarakat setempat sebelum memasuki perairan mereka. Terumbu karang dan sumber daya laut adalah milik mereka.”
Kemudian Prof Saulei menunjuk ke sarjana perikanan laut dan peneliti muda Debes Tawia, mengakui sebagai salah satu peneliti muda yang telah berkontribusi pada ekspedisi kelautan UPNG.
Itu adalah isyarat singkat, tetapi di ruangan yang penuh dengan para pembuat keputusan nasional, hal itu memiliki makna yang mendalam.
Seorang ilmuwan senior telah mengakui seorang mahasiswa yang akhirnya menjadi sarjana melakukan perjalanannya dimulai jauh dari gunung ke laut.
Debes Tawia dibesarkan di Ialibu, di gunung dari Dataran Tinggi Selatan, di mana laut hanyalah sebuah gagasan yang jauh dari bayangannya dan bukan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tidak seorang pun di keluarganya pernah mempelajari ilmu kelautan atau belajar menyelam. Namun, saat ia menemukan program ilmu kelautan di UPNG, dan sesuatu telah berubah.
“Saya adalah orang pertama dalam garis keturunan saya yang bernapas di bawah air,” katanya. “Ketika saya melihat kursus itu, sesuatu terlintas di benak saya. Saya tahu ini adalah diri saya,”tambahnya.
Sejak itu, Debes Tawia bergabung dengan tim peneliti UPNG dalam ekspedisi di seluruh Provinsi Tengah dan Teluk Milne, mengumpulkan spons, tunikata, dan karang lunak — organisme kecil yang mungkin mengandung senyawa yang mampu membunuh sel kanker dan tumor.
“Kami mencoba menemukan senyawa yang dapat membunuh sel kanker,” jelasnya. “Ini adalah sesuatu yang belum pernah dilakukan PNG sebelumnya,” ucapnya.
Pekerjaan ini merupakan bagian dari kemitraan baru antara UPNG dan PharmaMar, sebuah perusahaan farmasi global yang berbasis di Spanyol.
Perusahaan farmasi dari Spanyol ini mengkhususkan diri dalam menemukan senyawa penangkal kanker dari laut.
Debes Tawia adalah warga Papua Nugini pertama yang terpilih dalam kolaborasi ini, dan ia akan segera berangkat ke Spanyol untuk mengikuti program magister selama dua hingga tiga tahun di bidang biologi molekuler dan analisis kimia.
PNG belum memiliki laboratorium molekuler canggih yang dibutuhkan untuk menganalisis organisme laut. “Kami tidak memiliki mekanisme atau infrastruktur untuk melakukan eksperimen tingkat tinggi,” kata Debes.
“Pergi ke luar negeri memberi kami kesempatan untuk menemukan sesuatu dari pantai kami sendiri, dan itu akan menjadi kemenangan bagi kami dan ekonomi kami.”tambahnya.
Terlepas dari tantangan yang ada, ia tetap optimis. “Kita memiliki lautan yang luas,” katanya. “Generasi muda harus menjelajahinya. Ada begitu banyak potensi di laut.”tambahnya.
Saat bersiap berangkat ke Spanyol, Debes membawa serta harapan keluarganya, universitasnya, dan sebuah negara yang baru mulai memahami nilai keanekaragaman hayati lautnya.
Bagi seorang pemuda dari Ialibu yang dulunya tidak tahu apa-apa tentang laut, samudra telah menjadi kompasnya yang membawanya lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya. (*)























Discussion about this post