Jayapura, Jubi – United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menyampaikan selamat kepada pimpinan oposisi, Matthew Wale yang terpilih sebagai Perdana Menteri (PM) Kepulauan Solomon, Jumat (15/5/2026).
ULMWP berharap, Matthew Wale dapat membela dapat bekerja sama dengan pemimpin Melanesia dan Pasifik lainnya untuk mengambil langkah nyata dalam membela hak politik Rakyat Papua Barat, terutama dari ancaman genosida, ekosida, dan etnosida yang sedang mereka hadapi.
Presiden Eksekutif ULMWP, Menase Tabuni mengatakan, rakyat Papua Barat melalui ULMWP, menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Yang Terhormat Matthew Wale sebagai Perdana Menteri Kepulauan Solomon.
“Rakyat Papua Barat menyampaikan ucapan selamat atas pemilihan Anda sebagai Perdana Menteri Kepulauan Solomon. Kami berharap, sebagai pemimpin Kepulauan Solomon, [Matthew Wele] dapat menjadi salah satu pemimpin Melanesia dan Pasifik yang bersuara lantang memperjuangkan perjuangan penentuan nasib sendiri Papua Barat,” ,” kata Presiden Eksekutif ULMWP, Menase Tabuni dalam siaran pers tertulis, Jumat (15/5/2026).
Sementara itu Wakil Presiden Eksekutif ULMWP, Octovianus Mote mengatakan, Matthew Wale telah lama menjabat sebagai pemimpin oposisi dan itusan Khusus Pemerintah Kepulauan Solomon untuk Papua Barat pada 2015–2016.
“Ia secara konsisten menyuarakan dan mengadvokasi isu Papua Barat. Kami berharap, dengan terpilihnya beliau sebagai Perdana Menteri, ia dapat bekerja sama dengan pemimpin Melanesia dan Pasifik lainnya mengambil langkah nyata membela hak politik rakyat Papua Barat, terutama dari ancaman genosida, ekosida, dan etnosida yang sedang mereka hadapi,” kata Octavianus Mote.
Katanya, ILMWP menyerukan kepada para pemimpin Melanesia, Pasifik, Afrika, Karibia, dan seluruh dunia untuk bersatu membantu menghentikan ancaman nyata yang terjadi di Papua Barat.
Sebab menurut Mote, rakyat Papua Barat tidak memiliki masa depan di dalam Indonesia. Berada di bawah kekuasaan Indonesia berarti terus mengalami penjajahan serta ancaman genosida, ekosida, dan etnosida yang berkelanjutan.
Octavianus Mote mengayakan, kini terdapat 83.177 personel TNI/POLRI yang ditempatkan di Papua Barat. Salain itu, 34 juta hektar hutan tropis di Papua Barat, 15 juta hektar telah diambil alih untuk kepentingan Indonesia, guna proyek investasi dan keuntungan elit politik serta ekonomi.
“Hingga saat ini, 107.500 orang Papua masih mengungsi. Antara Maret dan Mei 2026, pasukan TNI/POLRI dilaporkan telah membunuh 26 warga sipil di Dogiyai, Puncak Papua, Tolikara, Mimika, dan Nabire,” ujarnya.
Karenanya lanjut Mote, ULMWP menyerukan solidaritas dari para pemimpin dunia, pemimpin gereja, pemimpin adat, LSM, jurnalis, akademisi, mahasiswa, dan pemimpin politik di seluruh Melanesia, Pasifik, dan komunitas internasional yang lebih luas untuk membantu menyuarakan penderitaan Rakyat Papua Barat dan perjuangan mereka menentukan nasib sendiri. (*)
























Discussion about this post