• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Polhukam

Peneliti: Konflik bersenjata di Tanah Papua non internasional

June 7, 2026
in Polhukam
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: Larius Kogoya - Editor: Arjuna Pademme
Peneliti Konflik Papua

Para peneliti memaparkan hasil penelitian dalam diskusi Publik: Konflik bersenjata di Tanah Papua, yang digelar di Jakarta dan ditayangkan secara daring, Sabtu (6/6/2026).- Jubi/tangkanap layar kanal YouTube.

0
SHARES
366
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Para peneliti menyatakan konflik bersenjata antara aparat keamanan dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat/Organisasi Papua Merdeka (TPNPB/OPM) merupakan kategori konflik bersenjata non internasional.

Ini berdasarkan hasil penelitian kolaborasi tentang situasi konflik bersenjata di Tanah Papua oleh Lembaga Pendidikan Sekolah Tinggi Filsafat atau STF Driyarkara, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) serta Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau KontraS.

Hal itu dipapakan dalam Peluncuran Laporan dan Diskusi publik: Konflik bersenjata di Tanah Papua, yang digelar di Jakarta dan ditayangkan secara daring, Sabtu (6/6/2026).

Dosen STF Driyarkara, Dr. Budi Hernawan mengatakan, riset ini bertujuan mendudukkan persoalan di Tanah Papua dalam perspektif baru yang jarang dibicarakan, Hukum Humaniter Internasional (HHI).

“Mungkin banyak hal baru dan terminologi yang belum biasa didengar, karena [kita] lebih terbiasa dengan paradigma hak asasi manusia atau HAM. Laporan yang tersaji ini bukan hasil perpustakaan. Akan tetapi hasil laporan pantauan, dan pendampingan teman-teman di Tanah Papua sebagai wilayah konflik bersenjata,” kata Dr. Budi Hernawan.

Ia menjalaskan, HHI berbeda dengan HAM, yang selalu melihat peran negara. Akan tetapi HHI berdiri sebagai ‘wasit’ untuk melihat para pihak yang terlibat konflik. Apakah berjalan sesuai dengan aturan main atau tidak.

Katanya, secara ringkas HHI dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan atas dasar kemanusiaan membatasi dampak konflik bersenjata. Tidak melarang, dan tidak menyarankan.

BERITATERKAIT

Masyarakat sipil Papua Barat menyerukan akses untuk PBB dan Pasifik

Koalisi tagih janji Prabowo selesaikan masalah politik Papua secara damai

Wagub Papua apresiasi Papuan Leaders Bootcamp II

Kunjungan Sekjen PBB mesti menjadi momentum membuka masalah dekolonisasi Papua Barat

HHI melindungi mereka yang tidak terlibat dalam tindak permusuhan. HHI membatasi tata cara tindak permusuhan, dan tidak berada pada ranah politik serta ranah ideal, tetapi ranah realis.

“Perang, permusuhan diterima sebagai sebuah kenyataan, bukan sebuah hal yang dihindari sebagai paradigma HAM,” ujarnya.

Menurutnya, HHI sudah menjadi hukum universal karena telah diratifikasi oleh seluruh dunia, termasuk Indonesia pada 1958 dengan Undang-Undang 1959.

Dr. Budi Hernawan mengatakan, tindak permusuhan antara TNI dan kelompok bersenjata di Tanah Papua dimulai pada 1960-an, dan konflik memasuki fase baru pada Desember 2018.

Ketika itu, pasukan TPNPB menyerang belasan pekerja PT Istaka Karya di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan. Setelahnya, konflik bersenjata meningkat dan cakupan geografis meluas ke Pegunungan Tengah dan wilayah Kepala Burung pulau Papua.

“Korban jiwa dari semua pihak bertambah [baik TPNPB, TNI/Polri dan masyarakat]. Konsekuensi kemanusiaan, khususnya pengungsian massal menjadi sangat serius,” ucapnya.

Berdasarkan data dari proyek Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) kata Budi Hernawan, tercatat 80 persen bentrokan bersenjata di Indonesia dalam beberapa periode terkait terjadi di Tanah Papua. Begitu pula mayoritas serangan terhadap warga sipil oleh angkatan bersenjata.

Ia mengatakan, para peneliti berkesimpulan bahwa situasi di Tanah Papua terutama empat kabupaten yang menjadi objek penelitian maupun secara luas, merupakan konflik bersenjata non-internasional yang tunduk pada HHI sebagai fakta hukum objektif.

“Operasi militer yang dilakukan oleh TNI dan Polri di [Tanah] Papua berlangsung tanpa dasar hukum domestik yang jelas, di luar kerangka yang ditetapkan hukum Indonesia mengenai operasi militer, serta tanpa pengawasan atau akuntabilitas parlemen,” kata Budi Hernawan.

Selain itu lanjut Budi Hernawan, perilaku TNI/Polri dan TPNPB/OPM mengindikasikan potensi pelanggaran termasuk pembunuhan kilat terhadap warga sipil, jika dinilai berdasarkan standar HHI dan hukum kebiasaan internasional,

Misalnya pola serangan terhadap orang dan objek yang dilindungi, penahanan sewenang-wenang, penyanderaan, serta perlakuan tidak manusiawi. Akibatnya, krisis kemanusiaan besar sedang berlangsung, termasuk lebih dari 100 ribu pengungsi internal, tanpa perlindungan hukum atau akses kemanusiaan yang memadai.

“Ketergantungan pada pendekatan keamanan dan pembangunan, tanpa penyelesaian politik dan tanpa pengakuan terhadap karakter hukum konflik, justru mempertahankan dan memperburuk situasi,” kata Budi Hernawan.

Tommy Albert Morulam Tobing dari YLBHI mengatakan, menurut rumusan Tadić, ada dua kriteria harus dipenuhi sebagai konflik bersenjata non-internasioanal.

Pertama, pihak non-negara harus cukup terorganisasi. Kedua, kekerasan harus mencapai tingkat intensitas yang cukup, untuk membedakannya dari gangguan dan ketegangan internal, kerusuhan, tindakan kekerasan sporadis, atau kriminalitas biasa.

Katanya, berdasarkan yurisprudensi International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY) dan Komentar International Committee of the Red Cross (ICRC) terhadap Pasal Bersama 3 Kembar, pertanyaan yang perlu dijawab guna menentukan pihak non-negara yang terorganisasi adalah, apakah kelompok tersebut memiliki organisasi kolektif yang cukup untuk melakukan operasi
militer berkelanjutan dan melaksanakan kewajiban HHI.

Katanya, berdasarkan bukti yang ada, TPNPB memenuhi ambang organisasi. Organisasi ini beroperasi melalui struktur komando nasional yang terdesentralisasi namun dapat diidentifikasi, kepemimpinan militer senior yang dipilih pada Konferensi Tingkat Tinggi pada 2012, dan adanya 36 Komando Daerah Pertahanan atau Kodap yang tersebar di seluruh Tanah Papua.

Menurut Tommy Tobing, TPNPB memiliki komandan regional yang mengklaim tanggung jawab atas operasi di wilayah masing-masing. Juru bicara yang diakui adalah Sebby Sambom, mengeluarkan komunikasi publik terkoordinasi serta aturan disiplin internal dan prosedur komando.

Untuk Kriteria kedua bahwa kekerasan harus mencapai tingkat intensitas yang cukup untuk membedakannya dari gangguan dan ketegangan internal, kerusuhan, tindakan kekerasan sporadis, atau kriminalitas biasa, studi kasus di Nduga, Maybrat, Intan Jaya, dan Pegunungan Bintang menunjukkan bahwa ambang tersebut terpenuhi.

“Keempat kabupaten mengalami bentrokan bersenjata berkelanjutan antara TNI/Polri dan TPNPB selama periode yang diteliti, dengan keterlibatan berulang. Melibatkan senjata kelas militer, pos-pos pertahanan yang didirikan, penyergapan, penyanderaan, dan operasi kontra-pemberontakan,” kata Tommy Tobing.

Tommy Tobing menjelaskan, pemantauan independen mencatat ada peningkatan dari 24 insiden pada 2017 menjadi 72 pada 2022, dan tren tersebut terus berlanjut hingga 2025. Karenanya, situasi di empat kabupaten yang diteliti, dan di Tanah Papua secara lebih luas, memenuhi ambang Konflik bersenjata non internasional.

“Dalam hal ini HHI berlaku bagi semua pihak dalam konflik tersebut baik TNI/Polri maupun TPNPB di seluruh wilayah yang berada di bawah kendali mereka. Berlaku hingga tercapai penyelesaian damai atau permusuhan berhenti tanpa risiko nyata untuk berlanjut kembali,” ucapanya.

Sementara itu peneliti KontraS, Hans Geovany Yosua mengatakan dokumentasi menunjukkan adanya pembunuhan kilat terhadap warga sipil. Termasuk pemimpin agama, tenaga medis, pegawai negeri sipil, dan anak-anak-oleh TNI/Polri maupun
TPNPB.

Ada penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, sering kali tanpa dasar hukum atau proses hukum yang layak. Bahkan dalam beberapa kasus berujung pada kematian dalam tahanan.

“Misalnya penyanderaan, terutama penahanan pilot Philip Mark Mehrtens selama dua puluh bulan oleh TPNPB,” kata Hans Geovany Yosua.

Katanya, prinsip pembedaan berulang kali diabaikan kedua pihak yang terlibat konflik. TNI/Polri dan TPNPB pada waktu tertentu memperlakukan lokasi sipil sebagai sasaran militer yang sah atau sebagai posisi pertahanan.

“Akibatnya 100 ribu orang lebih masyarakat sipil di berbagai kabupaten mengungsi secara internal. Komunitas pengungsi menghadapi kekurangan pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan, dengan kerentanan khusus di kalangan perempuan, anak-anak, dan lansia,” ujarnya.

Katanya, padahal ada 56 hukum kebiasaan HHI mewajibkan para pihak untuk mengizinkan dan memfasilitasi lewatnya bantuan kemanusiaan secara cepat, tanpa hambatan dan memastikan kebebasan bergerak bagi personel kemanusiaan yang berwenang. Namun kedua kewajiban ini belum dipatuhi secara memadai. (*)

Tags: BersenjatakonflikPapuaPeneliti
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Masyarakat sipil Papua Barat

Masyarakat sipil Papua Barat menyerukan akses untuk PBB dan Pasifik

October 22, 2026
Janji Prabowo selesaikan masalah Papua

Koalisi tagih janji Prabowo selesaikan masalah politik Papua secara damai

October 20, 2026

Wagub Papua apresiasi Papuan Leaders Bootcamp II

October 20, 2026

Kunjungan Sekjen PBB mesti menjadi momentum membuka masalah dekolonisasi Papua Barat

October 19, 2026

Gubernur Nawipa: Gereja berperan penting dalam pembangunan masyarakat Papua

October 17, 2026

Parlemen PNG serukan pemberlakuan UU lebih keras terhadap kekerasan bersenjata

October 16, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Fire destroys sago groves, threatening Indigenous food security in Kimaam
27 October 2026
Fire destroys sago groves, threatening Indigenous food security in Kimaam

Jayapura, Jubi – A fire that swept through sago groves and peatland in Turiram village, Kimaam district, Merauke regency, South [...]

Southwest Papua bottled water project faces Indigenous opposition over customary land rights
27 October 2026
Southwest Papua bottled water project faces Indigenous opposition over customary land rights

Teminabuan, Jubi – Southwest Papua Governor Elisa Kambu says a proposed investment to use the Sembra River as a source [...]

Nduga lawmaker calls for review of security force deployment after fatal shooting
26 October 2026
Nduga lawmaker calls for review of security force deployment after fatal shooting

Sentani, Jubi – A member of the Nduga Regency Legislative Council has called on Indonesia’s central government to review the [...]

Thobias Bagubau warns against sidelining Indigenous landowners in illegal mining crackdown
26 October 2026
Thobias Bagubau warns against sidelining Indigenous landowners in illegal mining crackdown

Jayapura, Jubi – A member of the Central Papua Legislative Council has warned that efforts to crack down on illegal [...]

Amnesty urges Indonesia to stop suppressing forest fire protest and declare national disaster
24 October 2026
Amnesty urges Indonesia to stop suppressing forest fire protest and declare national disaster

Jayapura, Jubi – Amnesty International has called on the government to stop suppressing protest over forest and land fires and [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
KPPG Papua Raya dan BGN tak pungut biaya

BGN dan KPPG Papua Raya tidak pernah memungut biaya pendaftaran kegiatan

October 27, 2026
DBH Migas Otsus

Anggota DPR Papua Barat desak gubernur kembalikan DBH Migas Otsus

October 27, 2026
Dinkes Papua Tengah siapkan ILP

Pembangunan RS Provinsi Papua Tengah ditargetkan dimulai pada 2027

October 27, 2026
Dinkes Papua Tengah siapkan ILP

Dinkes Papua Tengah siapkan penguatan ILP di delapan kabupaten

October 27, 2026
Anggaran daerah untuk kesejahteraan masyarakat

Gubernur Nawipa: Anggaran daerah mesti berorientasi untuk kesejahteraan masyarakat

October 27, 2026
Penyusunan RDTR Depapre dan Genyem

Penyusunan RDTR Depapre dan Genyem tidak mengabaikan hak masyarakat adat

October 27, 2026
Pelaku perkelahian dengan WNA

Polisi tangkap pelaku perkelahian dengan WNA di Manokwari

October 27, 2026
Keluarga mengadu ke Panglima TNI dan DPR RI

Keluarga Pratu Andi Bugis mengadu ke Panglima TNI dan DPR RI

October 26, 2026
Pimpinan pro-kemerdekaan Kaledonia Baru

Pemimpin pro-kemerdekaan Kaledonia Baru boikot Kesepakatan mineral Uni Eropa

October 26, 2026
Pemerintah Distrik menata Pasar Lama Sentani

Pemerintah Distrik Sentani mulai menata kawasan Pasar Lama

October 26, 2026
Masyarakat PNG menghadapi kekeringan

Masyarakat PNG berjuang menghadapi kekeringan akibat El Nino

October 26, 2026
Kebakaran dusun sagu Kimaam

Kebakaran dusun sagu di Kimaam ancam pangan masyarakat adat

October 26, 2026
Kehadiran investor untuk kepentingan masyarakat

Gubernur Papua Barat sebut kehadiran investor air kemasan untuk kepentingan masyarakat

October 27, 2026
DBH Migas Otsus

Anggota DPR Papua Barat desak gubernur kembalikan DBH Migas Otsus

October 27, 2026
KPPG Papua Raya dan BGN tak pungut biaya

BGN dan KPPG Papua Raya tidak pernah memungut biaya pendaftaran kegiatan

0
DBH Migas Otsus

Anggota DPR Papua Barat desak gubernur kembalikan DBH Migas Otsus

0
Dinkes Papua Tengah siapkan ILP

Pembangunan RS Provinsi Papua Tengah ditargetkan dimulai pada 2027

0
Dinkes Papua Tengah siapkan ILP

Dinkes Papua Tengah siapkan penguatan ILP di delapan kabupaten

0
Anggaran daerah untuk kesejahteraan masyarakat

Gubernur Nawipa: Anggaran daerah mesti berorientasi untuk kesejahteraan masyarakat

0
Penyusunan RDTR Depapre dan Genyem

Penyusunan RDTR Depapre dan Genyem tidak mengabaikan hak masyarakat adat

0
Pelaku perkelahian dengan WNA

Polisi tangkap pelaku perkelahian dengan WNA di Manokwari

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : [email protected]

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara