Jayapura, Jubi- Hampir 15 tahun lamanya, Naomi Selan menjalani hidup bersama anak-anak jalanan di Kota Jayapura. Dia membimbing dan mengajar anak jalanan supaya memiliki masa depan yang lebih baik dari saat ini.
“Saya percaya mereka [anak jalanan] punya mimpi dan harapan tentang masa depan yang baik. Suatu hari nanti, mereka menjadi tuan di tanah sendiri,” ujar Naomi, Jumat pekan lalu.
Naomi saat ini mengampu sekitar 80 anak jalanan. Mama Naomi, begitu mereka biasa menyapa perempuan berusia 56 tahun tersebut.
Sebagian besar anak asuh Mama Naomi ialah Orang Asli Papua. Selain Jayapura, mereka berasal dari Serui, Nabire, Sorong, Sarmi, dan Biak. Kondisi sosial dan latar permasalahan mereka pun beragam.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Semua anak ini mengalami persoalan di keluarga. Ada yang mengalami pelecehan, broken home, dan orang tua bercerai. Ada juga yang sejak kecil telah ditinggal mati orang tua,” kata Mama Naomi.
Perempuan kelahiran Soe, Nusa Tenggara Timur itu menyiapkan sebuah rumah singgah yang merangkap dapur umum. Lokasinya di belakang Pasar Ampera, Kota Jayapura. Mereka mendirikan sebuah gubug di lahan milik Pemerintah Kota [Pemkot] Jayapura tersebut.
“Anak-anak yang bermasalah itu sembunyinya [berlindung] di sini. Jadi, ini seperti rumah, honai besar untuk semua [anak jalanan],” ujar Mama Naomi.
Naomi mendidik anak jalanan sehingga mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal untuk masa depan. Dia pun selalu memotivasi para anak jalanan supaya tetap percaya diri dan optimistis.
“Ada orang yang sayang ko di sini. Ko di sini istimewa. Trada yang memandang ko hina atau jahat.” Begitu salah satu motivasi yang ditanamkan Naomi kepada para anak jalanan.
Hasil memang tidak pernah mengkhianati usaha. Pendampingan Naomi pun mampu mengubah kehidupan sejumlah mantan anak-anak jalanan.
“Ada yang menjadi pengkhotbah, Satpol PP, dan berumah tangga. Tidak ada satu pun anak di sini ingin hidup dengan kondisi seperti ini [menggelandang] sampai mati. Mereka semua punya mimpi besar,” kata perempuan beranak dua itu.

Panggilan hidup
Naomi juga seorang pendeta. Dia memilih mendampingi anak-anak jalanan karena panggilan jiwa. bersama relawan dari jemaat Gereja Internasional Full Gospel Fellowship, Naomi melakukan pembinaan jasmaniah maupun rohaniah kepada anak-anak jalanan di Kota Jayapura.
“Kami tidak membeda-bedakan kamu [anak jalanan] dari mana dan agamanya apa. Saya juga berurusan [melibatkan] pihak masjid dalam pembinaan iman [bagi anak jalanan],” kata Naomi.
Perjalanan Naomi dalam mendampingi anak-anak jalanan memang tidak selalu mulus. Perjuangannya masih sering diremehkan, termasuk dari kalangan pemerintah. Ada pula warga yang mencibir dan meminta Naomi sebaiknya fokus mengurus jemaat Gerejanya.
“Saya tidak peduli dengan pandangan orang. Saya melakukan ini karena panggilan dari Tuhan. Saya tetap taat dengan mengabdikan diri untuk anak-anak jalanan,” kata Mama Naomi.
Menurutnya, keberadaan anak jalanan masih akan terus ada di Kota Jayapura. Dia mengilustrasikan setiap kali kapal laut bersandar di Pelabuhan Kota Jayapura, setidaknya ada lima anak jalanan di antara para penumpang.
“Konflik sosial makin banyak [di Tanah Papua]. Banyak anak menjadi korbannya sehingga mereka mengamankan diri [ke Jayapura],” ujar Naomi.
Naomi juga kecewa terhadap pemerintah. Mereka seharusnya membangun rumah aman dan berjibaku dalam mengurusi anak-anak jalanan di Kota Jayapura. Itu sesuai amanat konstitusi Indonesia, fakir miskin, dan anak terlantar dipelihara oleh negara.
Namun, menurutnya, pemerintah setempat justru terkesan tidak peduli. Mereka menganggap masalah anak jalanan sudah diurus oleh para pekerja sosial.
“Keberadaan rumah singgah kami ini juga bisa kapan saja tergusur [karena lahannya milik Pemkot Jayapura]. Itu juga menjadi hambatan terbesar kami,” ujar Naomi.
Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Emanuel Gobay menilai pemerintah setempat telah abai dalam menangani permasalahan anak jalanan. Karena itu, mereka sudah sepatutnya menghargai dan mendukung perjuangan Mama Naomi.
“Komunitas anak jalanan memiliki dapur umum. Pemkot Jayapura seharusnya juga menyiapkan makanan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka,” kata Gobay, yang juga kuasa hukum komunitas anak jalan Kota Jayapura, Minggu (14/7/2024).
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


























Discussion about this post