Setop impunitas terhadap penjahat HAM

Penulis: Larius Kogoya
Editor: Aries Munandar

Jayapura, Jubi – Pemerintah Indonesia masih menyisakan tunggakan penyelesaian berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia atau HAM, termasuk di Tanah Papua. Praktik impunitas atau kekebalan hukum terhadap pelaku membuat penyelesaiannya makin terseok.

Direktur Lembaga Studi dan Advokasi Hak Asasi Manusia (Elsham) Papua Matheus Adadikam menyatakan kekerasan bersenjata dan pelanggaran HAM terus terjadi hingga kini di Tanah Papua. Janji pemerintah untuk menuntaskan serentetan kasus serupa pada masa lalu juga tidak junjung terealisasi.

“Pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2022 juga masih menyisakan pertanyaan dari para korban pelanggaran berat HAM. Misalnya, [dalam] kasus Wasior Berdarah, dan Wamena Berdarah, belum ada tanda-tanda penyelesaiannya,” kata Adadikam, saat Diskusi Mimbar Refleksi Penegakkan HAM di Indonesia dalam Lensa 100 Hari Kepemimpinan Baru, yang digelar Amnesty International Indonesia secara daring, Sabtu (1/2/2025).

Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2022 mengamanatkan pembentukkan Tim Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran Berat HAM Masa Lalu. Tim tersebut mengakhiri masa tugasnya pada 31 Desember 2022.

“[Penyelesaian] kasus Abepura Berdarah 2006 dan Paniai Berdarah 2014 yang melalui proses pengadilan HAM juga tidak memberi rasa keadilan bagi para korban. Jelas sekali, praktik impunitas oleh negara terus terjadi [terhadap para pelaku],” kata Adadikam.

Menurutnya, pemerintah selalu mengedepankan kebijakan politik ketimbang penegakkan hukum dalam menuntaskan perkara HAM. Karena itu, masyarakat masih menyangsikan komitmen Pemerintah Indonesia di era kepemimpinan Prabowo Subianto.

“Pemerintah selalu menjadikan politik sebagai panglima atau rujukan dalam mengambil keputusan. Itu mengakibatkan ketidakadilan di masyarakat. Rakyat sudah kenyang dengan janji-janji. Yang mereka butuhkan saat ini, ialah pelaksanaannya, bukan janji-janji lagi,” kata Adadikam.

BERITATERKAIT

Adetya Pramandira dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah menyatakan Undang Undang Penanaman Modal Asing telah menjadi ancaman laten bagi penegakkan HAM di Indonesia. Sejumlah aktivis mengalami kriminalisasi dan intimidasi dengan dalih undang undang tersebut.

“Pelanggaran HAM menjelma menjadi kriminalisasi, intimidasi, dan perenggutan ruang hidup [masyarakat sipil]. Gerakan neolib dan geng kapitalis masuk ke jalur-jalur perekonomian Indonesia,” kata Adetya.

Aktivis HAM Diva Suukyi Larasati menyatakan kepercayaan rakyat terhadap negara makin terkikis. Itu akibat penguasa melindungi para penjahat HAM.

“Sejarah kelam terus berulang. Betapa kecewanya kami karena hidup di era kepemimpinan baru yang memilik rekam jejak pelanggaran HAM,” kata Diva, yang juga putri mendiang Munir Said Thalib, pejuang HAM Indonesia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Festival Kopi Papua Tengah

English Story

Gobai warns military presence could perpetuate violence in Paniai

Jayapura, Jubi – Deputy Speaker IV of the Central Papua Legislative Council (DPR Papua Tengah, John NR Gobai, has alleged [...]

Kamuyend clan’s black cross burned amid customary land dispute in Merauke

Jayapura, Jubi – Unidentified individuals have damaged and burned a black cross erected by the Kamuyend clan as a traditional [...]

WVI launches public campaign to support more than 5,000 children in Papua

Jayapura, Jubi – World Vision Indonesia (Wahana Visi Indonesia – WVI) has relaunched its Baca Tanpa Batas (Read Without Limits) [...]

Nduga shooting victims’ families ask Papua Legal Aid Institute to oversee investigation

Jayapura, Jubi – The families of three residents shot in Nduga Regency, Highland Papua Province, on October 23, 2026, have [...]

Challenges and hopes for the new AJI Jayapura City chair for 2026-2029

Jayapura, Jubi – Theo Kelen and Maurits Yansip have been elected chair and secretary of the Alliance of Independent Journalists [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist