Jayapura, Jubi – Australian National University (ANU) Indonesia Project dan KONEKSI menggelar Forum Kajian Pembangunan (FKP) di Papua.
Kegiatan bertajuk “Prospek Transisi Energi: Perspektif Nasional dan Regional di Indonesia” diselenggarakan pada 13–16 Januari 2025 di tiga lokasi berbeda, yaitu, Manokwari, Jayapura, dan Merauke.
Forum diskusi tersebut diselenggarakan untuk menghadirkan pemahaman dan diskusi, mengenai prospek transisi energi nasional.
Forum Kajian Pembangunan (FKP) 2025 menjadi wadah bagi para akademisi, pembuat kebijakan, peneliti, dan praktisi pembangunan untuk bertukar gagasan, mempresentasikan hasil penelitian. Dan membahas topik-topik relevan dengan kebijakan, terutama terkait perubahan iklim di Papua dan Indonesia.
Acara ini menghadirkan tiga mitra penelitian KONEKSI yang turut mempresentasikan hasil riset mereka, yaitu Universitas Papua (UNIPA), the World Resources Institute (WRI), dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI).
Pasalnya bahwa transisi energi berkaitan erat dengan pelestarian mangrove. Mangrove memainkan peran penting dalam menyerap dan menyimpan karbon dari atmosfer, membantu mengurangi dampak perubahan iklim.
Ekosistem mangrove yang sehat dapat mengurangi dampak kenaikan permukaan air laut dan cuaca ekstrem, yang dapat mengancam infrastruktur energi, terutama di wilayah pesisir.
Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Untuk mencapai target ini, transisi energi menjadi agenda penting yang harus dijalankan.
Salah satu fokus utama dalam transisi energi Indonesia adalah mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga batubara, dan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan.
Aplena Elen Siane Bless dari UNIPA pada forum FKP 2025 mengatakan, mangrove adalah ekosistem pesisir paling produktif di planet ini. Mangrove menyediakan jasa ekosistem berharga dan terkait dengan aktivitas sehari-hari masyarakat lokal.
Menurut dia, keterlibatan perempuan penting dalam pelestarian mangrove.
Aplena menyebutkan, ekosistem mangrove sangat dihargai oleh perempuan asli Papua sebagai sumber mata pencaharian, pendapatan, kebutuhan sehari-hari, habitat fauna, pengobatan tradisional, dan memiliki makna budaya.
Senada dikatakan Ahmad Dhiaulhaq dari WRI. Ahmad menyampaikan pentingnya menjaga keseluruhan ekosistem, dari hulu hingga hilir, termasuk ekosistem mangrove.
Beliau memperkenalkan konsep “Ridge to Reef”, yaitu, dari pegunungan hingga terumbu karang.
“Transisi energi berkaitan erat dengan pelestarian lingkungan secara menyeluruh,” kata Ahmad.
Disebutkan bahwa transisi energi merupakan harapan bersama, dan tidak terlepas dari upaya pelestarian lingkungan secara holistik. Dengan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, transisi energi yang dilakukan dengan baik dapat membantu menjaga kesehatan dan keberlanjutan ekosistem, dari pegunungan hingga terumbu karang.
Namun, di sisi lain, transisi energi juga menyisakan persoalan lain yang harus didiskusikan.
Peneliti dari LPEM UI, Milda Irhamni meneliti bahwa transisi energi yang cepat dapat menyebabkan kenaikan harga, yang pada gilirannya memperlambat penurunan tingkat kemiskinan dan memperlebar ketimpangan.
Kelompok rentan, terutama rumah tangga dengan anggota disabilitas dan rumah tangga yang dikepalai perempuan, akan lebih terdampak.
Selaras dengan tujuan utamanya, FKP menjadi wadah yang diharapkan dapat mendorong kolaborasi dan dialog antara akademisi dan pembuat kebijakan regional. Hal ini sejalan dengan fokus kerja KONEKSI dalam mendiseminasikan pengetahuan dan membangun jejaring.
KONEKSI mendukung platform kolaborasi dan berbagi pengetahuan seperti FKP. Diskusi yang saling melengkapi akan memperkaya khazanah pengetahuan yang mendukung kolaborasi.
“Seorang peneliti tidak dapat berkembang sendiri. Penting untuk membangun relasi dengan peneliti lain, baik di tingkat nasional, maupun internasional “ kata Budy P. Resosudarmo dari ANU Indonesia Project. (*)


























Discussion about this post