Jayapura, Jubi – Salah satu tokoh politik di Tanah Papua, Laurenzus Kadepa menyatakan Bumi Cenderawasih tidak hanya memiliki kekayaan alam seperti emas dan gas alam. Namun ada manusia asli Papua yang mesti dijaga eksistensinya.
Anggota komisi bidang polituk, hukum, Hak Asasi Manusia (HAM), dan keamanan Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR Papua, periode 2014-2019 dan 2019-2024 itu mengatakan, orang asli Papua punya sejarah panjang dan eksistensi sebagai sebuah bangsa. Hanya karena politik, mereka disatukan dengan masyarakat Indonesia lainnya.
Pernyataan ini disampaikan Laurenzus Kadepa berkaitan dengan penembakan yang diduga dilalukan aparat keamanan, dan menewaskan beberapa warga sipil di sejumlah wilayah di Tanah Papua dalam beberapa waktu terakhir.
Misalnya di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah sejak 31 Maret 2026 hingga 2 April 2026. Enam warga termasuk anak kecil dan lansia dilaporkan tewas tertembak di sana saat polisi melakukan penyisiran.
Penyisiran itu berkaitan dengan tewasnya seorang personel polisi, Brigadir Dua (Bripda) Jufentus Edowai dengan luka bacokan di leher usai dianiaya orang tak dikenal atau OTK di Kampung Kimupugi, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Selasa (31/4/2026) pagi.
Kasus lainnya terjadi di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Sedikitnya sembilan warga Kampung Tenoti dan Kampung Kumikomo Distrik Kembru dilaporkan tewas tertembak, dan lima lainnya terluka setelah TNI disebut melakukan operasi militer di sana pada 14 April 2026.
“Tanah Papua bukan hanya ada kekayaan seperti emas dan gas. Bukan hanya ada Freeport dan LNG. Tapi ada manusianya dan manusia Papua punya sejarah dan eksistensi sebagai sebuah bangsa,” kata Laurenzus Kadepa melalui rekaman suara yang diterima Jubi, Minggu (27/4/2026).
Menurutnya, situasi seperti ini bukan hal baru yang dialami orang Papua. Namun telah terjadi sejak 1960an. Akan tetapi negara seakan tidak peduli terhadap kondisi itu.
“Kita mesti akui dan bagaimana sikap negara atau pemerintah pusat sejak dulu. Kalau korbannya di Tanah Papua atau situasi itu terjadi di Tanah Papua, itu dianggap hal biasa saja. Ah itu Papua. Biasa saja. Jadi untuk apa diurus,” ujarnya.
Kadepa berpendapat, ini satu pola yang sampai hari ini masih terjadi. Namun apabila peristiwa serupa terjadi di daerah lain di Indonsia, presiden dan semua lembaga negara bicara, meski korban tak sebanyak di Tanah Papua.
Katanya, begitu pula media-media nasional, akan memberitakan atau menayangkan persitiwa itu berulang kali, dan tidak seperti itu sikap para pihak tersebut terhadap situasi di Tanah Papua.
“Ini memang situasi yang kami alami selama ini. Karenanya untuk kejadian di Dogiyai dan Punca saya minta presiden harus bijaksana melihat Papua,” ucapnya.
“Sejak dulu saya selalu bicara pemerintah pusat mesti mengevaluasi kebijakan keamanan di Tanah Papua dan pendekataan keamanan selama ini justru merugikan orang Papua. Orang Papua tidak butuh keamanan tapi layanan kesehatan dan pendidikan yang memadai,” kata Kadepa lagi.
Ia mengatakan, Komnas HAM RI mesti membentuk tim pencari fakta dengan melibatkan lembaga lain yang netral dan kredibel untuk mengusut pelaku penembakan di Dogiyai dan Puncak, agar pelaku dapat diadili sesuai mekanisme yang berlaku.
Menurutnya, mengungkap mengenai siapa pelaku tidaklah rumit. Sebab ada korban luka yang masih hidup dan melihat melihat langsung pelaku. Akan tetapi, untuk lebih jelas Komnas HAM mesti melakukan investigasi.
“Jadi presiden harus bicara, karena orang Papua juga manusia seperti orang melayu dan punya eksistensi sebagai sebuah bangsa. Jadi hargai martabat dan keberadaan orang Papua,” kata Laurenzus Kadepa.
Ia pun mengapresiasi Bupati Puncak, Elvis Tabuni yang menemui para pihak Jakarta dan membawa langsung masalah kemanusiaan di wilayahnya ke pemerintah pusat beberapa hari lalu.
Salah satu pihak yang Elvis Tabuni, bersama Ketua DPRK Puncak, Thomas Tabuni adalah Menteri HAM, Natalius Pigai, dan menyerahkan langsung poin-poin aspirasi mengenai masalahan kemanusiaan di wilayahnya dan nama-nama korban.
“Sikap Bupati Puncak yang menyampaikan rasa sedih di depan masyarakatnya, patut diapresiasi. Beliau bukan sekadar bupati, akan tetapi orang tua, kepala suku dan tokoh di Puncak. Wajar beliau terluka dengan situasi ini dan semoga beliau bisa menghadirkan keadilan untuk warganya,” ucap Kadepa. (*)


























Discussion about this post