• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Polhukam

Kadepa: Di Tanah Papua bukan hanya emas, ada manusia yang mesti dijaga

April 27, 2026
in Polhukam
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Admin Jubi - Editor: Arjuna Pademme
Tanah Papua

Salah satu tokoh politik di Tanah Papua, Laurenzus Kadepa (kiri) bersama Bupati Puncak, Papua Tengah, Elvis Tabuni- Dok. Untuk Jubi

0
SHARES
16
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Salah satu tokoh politik di Tanah Papua, Laurenzus Kadepa menyatakan Bumi Cenderawasih tidak hanya memiliki kekayaan alam seperti emas dan gas alam. Namun ada manusia asli Papua yang mesti dijaga eksistensinya.

Anggota komisi bidang polituk, hukum, Hak Asasi Manusia (HAM), dan keamanan Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR Papua, periode 2014-2019 dan 2019-2024 itu mengatakan, orang asli Papua punya sejarah panjang dan eksistensi sebagai sebuah bangsa. Hanya karena politik, mereka disatukan dengan masyarakat Indonesia lainnya.

Pernyataan ini disampaikan Laurenzus Kadepa berkaitan dengan penembakan yang diduga dilalukan aparat keamanan, dan menewaskan beberapa warga sipil di sejumlah wilayah di Tanah Papua dalam beberapa waktu terakhir.

Misalnya di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah sejak 31 Maret 2026 hingga 2 April 2026. Enam warga termasuk anak kecil dan lansia dilaporkan tewas tertembak di sana saat polisi melakukan penyisiran.

Penyisiran itu berkaitan dengan tewasnya seorang personel polisi, Brigadir Dua (Bripda) Jufentus Edowai dengan luka bacokan di leher usai dianiaya orang tak dikenal atau OTK di Kampung Kimupugi, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Selasa (31/4/2026) pagi.

Kasus lainnya terjadi di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Sedikitnya sembilan warga Kampung Tenoti dan Kampung Kumikomo  Distrik Kembru dilaporkan tewas tertembak, dan lima lainnya terluka setelah TNI disebut melakukan operasi militer di sana pada 14 April 2026.

“Tanah Papua bukan hanya ada kekayaan seperti emas dan gas. Bukan hanya ada Freeport dan LNG. Tapi ada manusianya dan manusia Papua punya sejarah dan eksistensi sebagai sebuah bangsa,” kata Laurenzus Kadepa melalui rekaman suara yang diterima Jubi, Minggu (27/4/2026).

BERITATERKAIT

Ada perubahan cara pandang terhadap perempuan di Tanah Papua

Dewan Gereja Papua: Penting mencari solusi damai situasi di Tanah Papua

KNPB nyatakan sikap terhadap situasi Tanah Papua

Perlu regulasi daerah untuk melindungi hak masyarakat adat Papua

Menurutnya, situasi seperti ini bukan hal baru yang dialami orang Papua. Namun telah terjadi sejak 1960an. Akan tetapi negara seakan tidak peduli terhadap kondisi itu.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

“Kita mesti akui dan bagaimana sikap negara atau pemerintah pusat sejak dulu. Kalau korbannya di Tanah Papua atau situasi itu terjadi di Tanah Papua, itu dianggap hal biasa saja. Ah itu Papua. Biasa saja. Jadi untuk apa diurus,” ujarnya.

Kadepa berpendapat, ini satu pola yang sampai hari ini masih terjadi. Namun apabila peristiwa serupa terjadi di daerah lain di Indonsia, presiden dan semua lembaga negara bicara, meski korban tak sebanyak di Tanah Papua.

Katanya, begitu pula media-media nasional, akan memberitakan atau menayangkan persitiwa itu berulang kali, dan tidak seperti itu sikap para pihak tersebut terhadap situasi di Tanah Papua.

“Ini memang situasi yang kami alami selama ini. Karenanya untuk kejadian di Dogiyai dan Punca saya minta presiden harus bijaksana melihat Papua,” ucapnya.

“Sejak dulu saya selalu bicara pemerintah pusat mesti mengevaluasi kebijakan keamanan di Tanah Papua dan pendekataan keamanan selama ini justru merugikan orang Papua. Orang Papua tidak butuh keamanan tapi layanan kesehatan dan pendidikan yang memadai,” kata Kadepa lagi.

Ia mengatakan, Komnas HAM RI mesti membentuk tim pencari fakta dengan melibatkan lembaga lain yang netral dan kredibel untuk mengusut pelaku penembakan di Dogiyai dan Puncak, agar pelaku dapat diadili sesuai mekanisme yang berlaku.

Menurutnya, mengungkap mengenai siapa pelaku tidaklah rumit. Sebab ada korban luka yang masih hidup dan melihat melihat langsung pelaku. Akan tetapi, untuk lebih jelas Komnas HAM mesti melakukan investigasi.

“Jadi presiden harus bicara, karena orang Papua juga manusia seperti orang melayu dan punya eksistensi sebagai sebuah bangsa. Jadi hargai martabat dan keberadaan orang Papua,” kata Laurenzus Kadepa.

Ia pun mengapresiasi Bupati Puncak, Elvis Tabuni yang menemui para pihak Jakarta dan membawa langsung masalah kemanusiaan di wilayahnya ke pemerintah pusat beberapa hari lalu.

Salah satu pihak yang Elvis Tabuni, bersama Ketua DPRK Puncak, Thomas Tabuni adalah Menteri HAM, Natalius Pigai, dan menyerahkan langsung poin-poin aspirasi mengenai masalahan kemanusiaan di wilayahnya dan nama-nama korban.

“Sikap Bupati Puncak yang menyampaikan rasa sedih di depan masyarakatnya, patut diapresiasi. Beliau bukan sekadar bupati, akan tetapi orang tua, kepala suku dan tokoh di Puncak. Wajar beliau terluka dengan situasi ini dan semoga beliau bisa menghadirkan keadilan untuk warganya,” ucap Kadepa. (*)

Tags: Bumi CenderawasihKekayaan AlamLaurenzus Kadepaorang asli papuaTanah Papua
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Hak Perempuan dan Anak

Hak perempuan dan anak korban kekerasan dibahas dalam seminar KUHP

April 25, 2026
perempuan Papua yang terdampak konflik bersenjata

Negara didesak penuhi keadilan bagi perempuan terdampak konflik bersenjata

April 23, 2026

Perempuan KINGMI: Negara mesti bertanggungjawab dalam peristiwa Puncak

April 22, 2026

Mahasiswa desak penegakan hukum kasus penembakan di Tolikara

April 22, 2026

Dewan Gereja Papua: Penting mencari solusi damai situasi di Tanah Papua

April 22, 2026

Dewan Gereja Papua: Ada 107.000 pengungsi internal di Tanah Papua

April 21, 2026

Discussion about this post

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Papua Tengah

Gubernur Papua Tengah jelaskan terkait pendidikan gratis

April 27, 2026
Papua Tengah

Program RPL bagian dari komitmen Pemprov Papua Tengah membangun pendidikan

April 27, 2026
Papua Tengah

Gubernur Nawipa: Program RPL untuk penguatan SDM Papua Tengah

April 27, 2026
Tanah Papua

Kadepa: Di Tanah Papua bukan hanya emas, ada manusia yang mesti dijaga

April 27, 2026
Bougainville

Theonila Roka Matbob: Membawa Bougainville ke perhatian dunia

April 27, 2026
Listrik

Meningkatkan daya listrik di area proyek kapur dan semen Papua Nugini

April 27, 2026
Sampah

PM Fiji dukung pemerintah untuk proyek pengolahan sampah menjadi energi

April 27, 2026
Pesta Babi

‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

April 21, 2026
Poster film dokumenter Pesta Babi - Dok. Jubi

Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

April 19, 2026
MRP menjaring aspirasi

MRP menemui masyarakat Sentani Barat Moi

April 18, 2026
Korban Luka Tembak Kabupaten Puncak

Salah satu korban luka di Puncak mengaku ditembak TNI

April 18, 2026
Pasar Lama Sentani

Pasar Lama Sentani, tetap hidup dan menghidupi

April 18, 2026
Lingkungan Perumahan

Perumahan tak ramah lingkungan, bupati Jayapura panggil ratusan pengembang

April 25, 2026
Keluarga ap

Wawancara : Carolina “Corry” Ap-Bukorpioper, perempuan tangguh di balik sosok Arnold Ap

January 27, 2026
Papua Tengah

Gubernur Papua Tengah jelaskan terkait pendidikan gratis

0
Papua Tengah

Program RPL bagian dari komitmen Pemprov Papua Tengah membangun pendidikan

0
Papua Tengah

Gubernur Nawipa: Program RPL untuk penguatan SDM Papua Tengah

0
Tanah Papua

Kadepa: Di Tanah Papua bukan hanya emas, ada manusia yang mesti dijaga

0
Bougainville

Theonila Roka Matbob: Membawa Bougainville ke perhatian dunia

0
Listrik

Meningkatkan daya listrik di area proyek kapur dan semen Papua Nugini

0
Sampah

PM Fiji dukung pemerintah untuk proyek pengolahan sampah menjadi energi

0

English Stories

One of the housing areas in Jayapura Regency inundated during rainfall — Photo courtesy of the Jayapura Regency Disaster Management Agency (BPBD)
Pacnews

Jayapura Regent to summon hundreds of developers over environmentally unsound housing

April 27, 2026
WWF Indonesia campaign staff Adelia Tania delivers training materials at the WWF hall in Sentani, Jayapura Regency, Papua, Friday (April 24, 2026) — Jubi/Larius Kogoya
Pacnews

Food waste a major driver of Global Warming, WWF says

April 27, 2026
Forest
Pacnews

Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura

April 25, 2026
Atmosphere of the seminar “The New Criminal Code: Does It Fulfill the Rights of Women Victims of Violence?” organized by Rifka Annisa in Sentani, Jayapura Regency, Papua, Friday (April 24, 2026). — Jubi/Silpester Kasipka
Pacnews

Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

April 25, 2026
Group photo following the public discussion “Rising Against National Strategic Projects (PSN) and Militarism,” organized by Suara Perempuan Papua Bersatu in Perumnas 3 Waena, Jayapura City, Papua — Jubi/Aida Ulim
Pacnews

Shifting views on women highlight cultural change in Papua

April 25, 2026

Trending

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • MRP menemui masyarakat Sentani Barat Moi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Salah satu korban luka di Puncak mengaku ditembak TNI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasar Lama Sentani, tetap hidup dan menghidupi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara