Merauke, Jubi – Anggota Komite II Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari daerah pemilihan Papua Selatan, Sularso mengkitik kinerja petugas penyuluh lapangan (PPL) di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Ia menyoroti lemahnya pendampingan petugas penyuluh lapangan, dalam membantu petani menghadapi serangan hama yang menyebabkan tanaman padi menguning hingga gagal panen.
“Petani sampai mencoba sendiri mencampur obat dengan tembakau, karena bingung harus bertanya ke mana. Ini menjadi evaluasi agar pemerintah memberikan pembekalan yang lebih baik kepada petugas di lapangan,” kata Sularso saat melakukan monitoring ke gudang Perum Bulog Merauke, Kamis (7/5/2026).
Sularso menilai, semangat petani di Merauke untuk tetap menanam masih cukup tinggi. Namun perlu kehadiran pemerintah mengatasi persoalan di lapangan, khususnya terkait hama, pendampingan teknis, serta kesiapan varietas tanaman yang sesuai kondisi cuaca ekstrem.
Selain persoalan hama, Sularso juga menyoroti tingginya biaya obat-obatan pertanian dan kendala infrastruktur jalan usaha tani, yang berdampak terhadap biaya produksi petani.
Menurutnya, biaya angkut gabah di beberapa wilayah seperti Kurik mengalami kenaikan hingga 100 persen akibat buruknya akses jalan tani.
“Kalau jalan usaha tani belum baik, biaya angkut pasti naik dan itu mengurangi pendapatan petani,” ujarnya.
Ia meminta pemerintah pusat maupun daerah memberi perhatian serius terhadap pembangunan infrastruktur pertanian, guna mendukung target ketahanan pangan nasional, mengingat Papua Selatan telah ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional sektor pangan.
Terkait monitoring ke gudang Perum Bulog, Sularso mengatakan, Sularso ingin memastikan ketersediaan stok pangan, serta penyerapan beras petani di tengah ancaman gagal panen akibat cuaca ekstrem dan serangan hama.
Katanya, mengatakan bahwa kondisi cuaca dengan intensitas hujan tinggi telah mempengaruhi produksi padi petani di sejumlah wilayah di Merauke dan Papua Selatan. Banyak petani mengalami gagal panen akibat banjir dan serangan hama kuning.
Namun menurutnya, cadangan pangan Papua Selatan untuk 2026 masih aman, karena ketersediaan beras di gudang Bulog Merauke berkisar 4.000 ton.
“Pada intinya, setelah kami berdiskusi dengan Bulog, cadangan pangan tahun 2026 insyaallah aman, walaupun penyerapan beras belum sesuai target karena kondisi cuaca di lapangan,” kata Sularso.
Sementara itu, Pimpinan Cabang Perum Bulog Merauke, Karennu mengatakan hingga kini Bulog telah menyerap sekitar 2.000 ton beras dari petani, dengan total stok mencapai 4.200 ton.
Menurutnya, kapasitas gudang Bulog Merauke masih tersedia sekitar 10.000 ton dan diharapkan dapat dimaksimalkan apabila kondisi cuaca membaik.
“Target penyerapan tahun ini sebesar 27.500 ton. Kami berharap target itu bisa tercapai walaupun kondisi di lapangan cukup berat karena banyak petani gagal panen,” kata Karennu.
Karennu menjelaskan Bulog juga terus menyalurkan bantuan pangan ke sejumlah wilayah di Papua Selatan seperti Merauke, Mappi dan Boven Digoel, sementara penyaluran untuk Asmat dan Yahukimo masih dalam proses.
Katanya, tingginya curah hujan selama triwulan pertama pada 2026, menjadi tantangan serius dalam penanganan pascapanen.
Karena itu, peran penyuluh pertanian dinilai penting untuk mengedukasi petani mengenai teknik penanganan gabah saat musim hujan agar kualitas beras tetap terjaga.
“Kami berharap koordinasi antara Bulog, pemerintah daerah, Babinsa, kelompok tani dan seluruh stakeholder terus diperkuat agar produktivitas pertanian meningkat dan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi,” ujarnya. (*)

























Discussion about this post