Jayapura, Jubi – Masyarakat Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua mengadakan Festival Ulat Sagu pada 21-23 November 2024. Festival ini dilaksanakan setiap tahun oleh Masyarakat Kampung Yoboi, sebagai daya tarik wisata, sekaligus melestarikan kuliner khas Papua dan budaya.
Festival tersebut bertujuan untuk mendorong ekonomi masyarakat.
Ketua Panitia Festival Ulat Sagu, Billy Tokoro mengatakan, festival ini dilakukan masyarakat di Kampung Yoboi setiap tahun. Tujuannya untuk melestarikan tradisi masyarakat, dalam memanfaatkan ulat sagu sebagai bahan pangan.
Selain itu, festival menjadikannya sebagai daya tarik wisata dan memperkenalkan kuliner Papua ulat sagu, kepada para pengunjung untuk mendorong ekonomi masyarakat.
“Juga memberikan kesempatan bagi para UMKM untuk memperjualbelikan makanan khas papua dan,” katanya saat diwawancarai Jubi, di Kampung Yoboi, Kabupaten Jayapura, Papua pada Kamis (21/11/2024).
Billy juga mengatakan festival tersebut dipersiapkan selama tiga bulan. Diantaranya, masyarakat menebang sagu, kemudian sagu itu dibiarkan membusuk. Hingga pada pembukaan kegiatan baru diambil masyarakat untuk dijual.
Menurut Tokoro, sagu yang ditebang sebanyak 500 pohon. Sagu sejumlah 500 itu merupakan sagu-sagu yang mati, yang sudah lewat dari umur produksinya, bukan sagu yang unggul.
“Jadi, sagu-sagu itu kita tebang sekaligus, misalnya, yang berdekatan itu di tebang dan ditanam kembali dengan sedikit jarak, agar tumbuhnya subur. Masyarakat percaya bahwa sagu-sagu yang berdekatan itu ditebang supaya sagu di sebelahnya tumbuh lebih baik,” katanya.
Ia juga mengatakan festival ini sebenarnya mau mengangkat kearifan lokal di Kampung Yoboi. Dan sagu yang ditebang itu akan ditanam kembali.
Jadi, katanya, kalau 500 pohon ditebang masyarakat sudah punya 1.500 pohon sagu yang ditanam. Sagu yang ditanam itu merupakan sagu-sagu unggul.
“Jadi, di situ ada konsep pelestarian, keberlanjutan, kearifan lokal dan budaya. Itu yang kita mau pertahankan lewat kegiatan begini tapi. Kita kemas agak menarik (dalam bentuk festival),” katanya.
Tokoro mengatakan, festival ulat sagu menjadi menarik karena tidak merusak nilai-nilai budaya yang sudah ada sejak dahulu mungkin hanya modifikasi sedikit saja. Ia juga mengatakan ulat sagu diambil dari pagi karena persiapan festival, tapi juga dibilang sebagai ritual sehingga diambil pagi.

“Jadi, sebelum ulat sagu diambil, masyarakat kumpul dulu. Setelah itu kepala suku menyampaikan beberapa hal baru ambil,” katanya.
“Itu sebenarnya dari penebangan sagu juga begitu ritual itu hanya untuk ucapkan syukur kepada Tuhan, karena sudah memberikan hutan sagu yang luas, tapi juga suku ini,” lanjutnya.
Pada hari pertama festival pengunjung sudah datang sejak pagi. Tapi ulat sagu belum disajikan. Oleh karena itu, pengunjung langsung masuk ke dalam hutan sagu, untuk melihat langsung dan mengambil ulat sagunya.
Ia juga berharap agar pengunjung pada festival tidak hanya membeli ulat sagu, tetapi juga membeli hasil rajutan masyarakat, sambil menikmati keindahan Kampung Yoboi.
Melianus Wally, Abuafa Kampung Yoboi mewakili Ondoafi Kampung Yoboi, yang membuka festival mengatakan, Festival Ulat Sagu di Kampung Yoboi diangkat dari kearifan lokal khas di kampung ini, yaitu ulat sagu. Kampung ini mempunya ciri khas ulat sagu, karena di sini juga terkenal dengan hutan sagunya yang luas.
“Makanya itu mereka, angkat melalui festival ini, supaya kampung ini bisa menunjukkan kekayaan yang ada,” katanya.
Selain itu, katanya, kearifan lokal dan makanan itu dijual saat festival, sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat.
Wally mengharapkan agar masyarakat perkotaan dapat mendatangi Kampung Yoboi, untuk menikmati kuliner ulat sagu yang disajikan dalam festival selama tiga hari itu.
Selain menikmati sajian makanan khas ulat sagu, pengunjung juga bisa menikmati keindahan Kampung Yoboi selama festival.
Menurut Wally, tanaman sagu dinilai memberikan hidup kepada masyarakat Papua, khususnya di Kampung Yoboi. Sagu menjadi makanan bernutrisi tinggi dan banyak memberi manfaat lain.
Daun sagu dapat dijadikan sebagai atap rumah, ampas sagu yang dapat dijadikan pakan ternak, dan bisa dijadikan tepung sagu.
“Lewat Festival Ulat Sagu ini memberi kesempatan bagi para UMKM untuk memperjualbelikan makanan khas Papua, yakni papeda, ulat dan kopi. Tapi juga noken, dan batik Papua,” katanya. (*)


























Discussion about this post