Sentani, Jubi – Wajah Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM yang ada Kabupaten Jayapura akan terlihat lebih jelas ketika ada kegiatan yang diselenggarakan pemerintah daerah atau pihak swasta. Terlebih ketika kegiatan festival, seperti Festival Danau Sentani (FDS) dan Festival Bahari Tanah Merah.
Festival Bahari Tanah Merah ke-5 berlangsung di pelataran Pelabuhan Konteiner, Kampung Wanya, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua pada 20-25 Agustus 2024. Lebih seratus UMKM dari berbagai penjuru Kabupaten Jayapura dan berbagai jenis usaha muncul dan terlihat sangat jelas di tempat atau lokasi kegiatan.
Penjabat Bupati Jayapura Semuel Siriwa mengatakan kondisi seperti ini sudah seperti tradisi dan kebiasaan yang terjadi di setiap daerah di Papua, khususnya di Kabupaten Jayapura.
Menurutnya, peningkatan ekonomi keluarga melalui jalur usaha kecil dan menengah dilakukan dengan berbagai cara dan bentuk, selama tidak berdampak negatif bagi orang lain.
“Kita bisa lihat sendiri pada setiap kegiatan festival maupun acara besar lainnya. Tetapi, inilah kondisi kita saat ini, semua ingin bertahan hidup dan mendapat keuntungan dari apa yang diusahakan,” ujar Semuel di Sentani, Kamis (22/8/2024).
Ia mengatakan potensi alam yang diberikan Tuhan untuk diolah menjadi kebutuhan sandang dan pangan yang sangat melimpah, namun hingga saat ini belum ada satu produk lokal yang menjadi ciri khas bagi Kabupaten Jayapura.

Sagu, ikan, sayur mayur, kata Semuel, produksinya juga masih terbatas dan sangat sulit untuk berkesinambungan oleh pengusaha lokal.
“Kita bisa lihat di pasaran, semua barang dijual dengan cara dibeli dan menjualnya kembali. Di setiap festival dan pameran pasti ada ratusan UMKM yang muncul, pertanyaannya adalah ketika selesai kegiatan apakah dilanjutkan di tempat mereka masing-masing atau tidak,” ujarnya.
Secara stimulan, kata Semuel, pasti ada yang dalam kelompok pembinaan oleh pemerintah daerah maupun pihak swasta. Ada juga yang menjadi kelompok di dalam koperasi di setiap kampung.
“Sebagai pejabat di tingkat provinsi yang pernah menangani bidang ini (perkebunan, pertanian, dan ketahanan pangan), saya sangat paham dan Kabupaten Jayapura punya potensi sumber daya alam yang cukup,” katanya.
Seperti pada pembukaan festival (Festival Bahari Tanah Merah) kemarin, lanjut Semuel, sampai ada ratusan UMKM dengan berbagai bahan dasar yang diolah untuk dijual. Ada kue sagu, es krim sagu, sate ulat sagu, martabak sagu, sosis ikan laut, dan masih banyak lagi yang lainnya.
“Laporan ketua panitia khusus dari wilayah Depapre dan Sentani Barat ada 126 UMKM yang terlibat, ini jumlah yang sangat banyak dan luar biasa. Harusnya dikembangkan dan rutin berproduksi,” ujarnya.

Ketua Ikatan Perempuan Adat Kampung Tablasupa, Mince Wally Demena mengatakan usaha kecil dan menengah yang dilakukan oleh kelompoknya sudah sering terlibat dan mengikuti sejumlah kegiatan yang dilaksanakan pemerintah daerah maupun pihak swasta dan perbankan.
“Festival Danau Sentani setiap tahun kami ikut, baru-baru ini ada acara Bakutimba Festival juga kami ikut, dan sejumlah kegiatan lainnya di tingkat kabupaten maupun provinsi,” ujarnya.
Usaha yang dilakukan, kata Mince yang pernah menjadi Guru Teladan Nasional mewakili SD YPK Tablasupa, adalah usaha secara mandiri oleh setiap anggota kelompok. Ada yang menganyam tikar, membuat topi, tas tangan dari bahan daun tikar, ees krim dari bahan dasar sagu, stik ikan laut, keripik ikan, dan aneka makanan ringan lainnya.
“Ada dukungan dana dari pemerintah melalui Dinas Koperasi dan UKM sebesar Rp5 juta, beberapa tahun ini kami dibantu. Tetapi kendala yang diperoleh adalah tempat atau pasar yang bisa menampung dan menjual hasilproduksi dari anggota kelompok,” katanya.
Kegiatan seperti festival, menurutnya adalah momen yang tidak luput dari anggotanya untuk membawa semua hasil produksi agar bisa laku terbeli dengan cepat pada kegiatan tersebut.
“Misalnya, pada FDS kemarin di Pantai Wisata Khalkote, setiap anggota yang membawa hasil produksinya bisa dapat Rp2 juta setiap hari, sementara anggota kami ada ratusan yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, pemudi atau remaja yang sedang di bangku sekolah dan kuliah,” katanya.

Mince mengatakan akses jalan sudah mulai baik sehingga lebih lancar menjual hasil produksi ke tempat wisata seperti Pantai Amay, Harlend, dan Tablanusu.
“Untuk Festival Bahari saat ini kita berharap ada banyak pengunjung yang datang agar barang-barang jualan ini bisa laris terbeli,” katanya.
Warga Kampung Amai, Sopia Sorontouw mengatakan kegiatan lokal seperti festival dan juga pameran adalah momen penting bagi pengusaha UMKM yang berada di kampung-kampung.
“Kebanyakan tidak memiliki tempat yang permanen seperti pondok atau kios yang bisa menampung hasil produksi mereka. Sebagian besar promosinya dari mulut ke mulut sehingga ada transaksi pembelian di sana. Sangat miris, tetapi kondisi ini terus berjalan hingga saat ini,” ujarnya. (*)























Discussion about this post