Sentani, Jubi – Setelah vakum beberapa tahun, akhirnya Festival Bahari Tanah Mera (FBTTM) ke-5 kembali digelar di pelataran Pelabuhan Konteiner, Kampung Wanya, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua. Festival berlangsung 20-25 Agustus 2024.
Festival milik masyarakat yang mendiami pesisir Teluk Tanah Mera itu menampilkan sejumlah atraksi ragam budaya tradisional masyarakat pesisir dan pameran produk lokal hasil karya masyarakat lokal.
Sekretaris Panitia Festival Othis Suwae mengatakan jumlah peserta yang terdaftar dan terlibat terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu kelompok UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), kelompok pengisi acara atraksi tarian tradisional, kelompok suling tambur, serta sejumlah komunitas dan organisasi kemasyarakatan. Selain itu juga ada pihak sponsor dan kelompok UMKM binaan distrik di sepanjang wilayah pesisir.
“Tenda-tenda UMKM ada ratusan tenda permanen yang dibantu oleh pemerintah, ada sekitar 50-an tenda digunakan secara gratis, sementara pondok-pondok jualan yang dibangun oleh masyarakat ada ratusan lebih, baik di dalam lokasi kegiatan maupun jalan masuk,” ujar Othis di lokasi festival, Rabu (21/8/2024).

Othis mengatakan acara pembukaan terpaksa ditunda satu hari, dari rencana Selasa (20/8/2024) menjadi Rabu (21/8/2024). Pembukaan ditunda karena minimnya persiapan. Sebagian fasilitas pendukung, seperti panggung utama dan ‘sound system’ belum disiapkan, sementara tenda-tenda UMKM baru saja diisi oleh para peserta.
Selain itu, penundaan pembukaan juga berkaitan dengan program pemerintah pusat, seperti stunting yang penjelasannya akan disampaikan Penjabat Bupati Jayapura dan ada bantuan yang akan diserahkan kepada masyarakat.
“Sementara pimpinan Pemkab Jayapura masih di luar daerah dan direncanakan pada siang hari ini akan datang sekaligus membuka kegiatan festival,” kata Othis, Rabu (21/8/2024).
Menurut Othis kegiatan Festival Bahari Tanah Mera dengan tema “Menjaga laut, merawat budaya” tersebut masih jauh dari sempurna dalam pelaksanaan yang ke lima kali.
Meski banyak kekurangan yang dihadapi, ia berharap festival tersebut tetap bisa berdampak kepada pendapatan dan peningkatan ekonomi masyarakat lokal di pesisir laut Tanah Mera.
“Antusias warga dengan membangun pondok-pondok jualan di kegiatan ini sangat tinggi, hal ini membuktikan bahwa keinginan atau usaha dari masyarakat lokal untuk berdagang guna memenuhi keperluan keluarga mereka serta peningkatan ekonomi sangat tinggi,” katanya.
Sipora Sorontouw, pengusaha UMKM yang ikut mengisi satu tenda di festival mengatakan pendataan terhadap pengusaha lokal yang tergabung dalam kelompok UMKM juga perlu dipersiapkan dan semua kegiatan yang dilaksanakan dalam festival kali ini seharusnya mengacu kepada tema sentral yang diusung.

“Festival selama ini yang kami ikuti semuanya dilakukan dengan minim persiapan, tidak sesuai dengan tema yang diusung. Lalu, kami sebagai pengusaha lokal hanya dimanfaatkan dengan undangan untuk terlibat memenuhi kuota dalam kegiatan,” ujarnya.
Sipora yang sudah terbiasa mengikuti kegiatan festival dan pameran yang dilaksanakan pemerintah daerah maupun swasta mengharapkan adanya perubahan yang mendasar bagi pengelola usaha secara lokal.
“Festival seperti ini bukan sebagai tempat utama bagi kami dalam memasarkan produk lokal yang sedang kami olah dan berusaha. Tetapi, dari kegiatan seperti ini ada informasi penting sebagai pengetahuan dalam pengembangan usaha di kemudian hari,” ujarnya.
Penjabat Bupati Jayapura Semuel Siriwa mengatakan potensi sumber daya alam di wilayah Tanah Mera sangat luar biasa dan hal ini bisa dimanfaatkan dengan baik, salah satunya melalui Festival Bahari yang sedang berlangsung.
“Tempat-tempat wisata yang ada di wilayah ini bisa menjadi agenda kegiatan secara bersama, baik pemerintah provinsi maupun kabupaten, dan pemerintah di tingkat bawah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Kabupaten Jayapura sudah memiliki agenda festival yang sangat banyak. Karena itu, ia berharap seluruh kegiatan festival bisa saling berkoordinasi dan agendanya saling mendukung. Setiap tempat, katanya, wajib memiliki potensi unggulan yang menjadi daya tarik sehingga kegiatan festival seperti ini tidak hanya berlangsung di Depapre, tetapi bisa berlanjut ke tempat lain.

“Ada banyak potensi wisata di wilayah Depapre, selain potensi pantai-pantai yang istimewa, ada benda-benda peninggalan sisa Perang Dunia II, ikan laut, anggrek, dan masih banyak yang lainnya,” katanya.
Siriwa berharap pegiat ekonomi seperti mama-mama yang ada di pondok-pondok jualan pada kegiatan Festival Bahari tidak hanya mengisi seremoni kegiatan saja.Tapi ada hasil yang terus dikembangkan ketika kembali ke rumah masing-masing.
“Festival seperti ini hanya pemantik saja, usaha sesungguhnya ada di tempat masing-masing. Potensi kita yang luar biasa ini bisa dimanfaatkan dengan baik sehingga terjadi peningkatan ekonomi keluarga yang diharapkan,” katanya. (*)




















Discussion about this post