Sentani, Jubi – Mama-mama penjual noken tidak dapat tempat atau stan di lokasi Festival Danau Sentani (FDS) XIV/2024 di Pantai Wisata Khalkote, Sentani Timur untuk menaruh barang jualan mereka.
Belasan mama-mama penjual noken ini berasal dari beberapa daerah di Provinsi Papua, Provinsi Papua Tengah, dan Provinsi Papua Pegunungan.
Ketua Panitia FDS XIV Ted Yones Mokay saat acara pembukaan pada Rabu (19/6/2024) melaporkan sumber dana penyelenggaraan FDS selama lima hari sebesar Rp2 miliar bersumber dari Dana Otonomi Khusus (Otsus) Kabupaten Jayapura.

“Yang terlibat langsung dalam FDS ini ada ratusan stan tenda UMKM, ada 17 bangunan permanen yang setiap bangunannya dibagi sekat menjadi 6 stan sehingga ada 87 stan yang siap di lokasi kegiatan,” ujar Mokay.
Menuju tempat kegiatan FDS dari perempatan Kampung Harapan dan Kampung Telaga Ria, kurang lebih 200 meter mengarah ke lokasi Festival Danau Sentani di Pantai Wisata Khalkote terlihat pemandangan yang tak biasa.
Di sepanjang jalan masuk yang terbagi dua jalur itu, trotoarnya ditempati mama-mama pedagang, baik berjualan kuliner khas Papua, pondok kopi, dan makanan ringan, maupun penjual noken. Mereka menaruh barang jualan beralaskan karung. Bahkan ada yang menggantungkan nokennya bagaikan jemuran kain dengan dua bilah bambu yang diberi tali.
Mama Yohana, salah seorang pedagang noken yang berjualan di jalan masuk Festival Danau Sentani itu menjelaskan tempat jualan yang ia gunakan selama FDS berlangsung itu, meski di trotoar, ternyata tidak gratis.

“Setiap hari harus bayar Rp50 ribu kepada pemilik tempat,” ujar Mama Yohana saat ditemui di tempat ia berjualan, Sabtu (22/6/2014).
Menurutnya, harga tenda atau stan di dalam lokasi FDS sangat mahal. Dengan kondisinya yang berjualan dengan modal yang sangat terbatas, tidak mungkin bagi Mama Yohana menyewa satu stan dar tenda itu agar bisa menjual ratusan hasil rajutannya.
“Saya setiap hari bawa 100 hingga 150 noken berbagai ukuran ke tempat jualan di jalan masuk menuju FDS ini,” kata Mama Yohana, sapaan akrabnya.
Bagi ibu tiga anak ini, ia tidak mendapat stan atau berjualan di arena FDS tidak masalah baginya. Namun ia menyayangkan kegiatan budaya seperti Festival Danau Sentani di Kabupaten Jayapura ini tidak menempatkan penjual noken di tempat terbaik.
“[Noken] bukan hanya untuk pajangan, tetapi juga sebagai bahan peningkatan ekonomi para perajutnya,” ujarnya.
Lebih lanjut Yohana merinci harga stan UMKM yang dibanderol oleh panitia Rp1,5 juta untuk satu stan sama sekali tidak terjangkau bagi pengusaha kecil sepertinya.
“Harga stan Rp1,5 juta itu berarti selama lima hari noken seharga 150 ribu harus laku sebanyak 10 buah. Dengan minat pengunjung yang datang saat ini, tidak bisa dipastikan modal yang keluar akan kembali,” katanya.
Senada dengan Mama Yohana, Rida Pekey, 40 tahun, penjual noken lainnya mengatakan bahwa selama pelaksanaan FDS dan pada hari keempat pendapatannya belum sampai seperti harga satu stan di tempat kegiatan FDS.

“Hari pertama Rp300 ribu, hari kedua Rp400 ribu, dan hari ketiga Rp250 ribu, pendapatan jadi menurun,” ujarnya.
Rida menjual noken berbagai ukuran yang harganya Rp100 hingga Rp150, dan Rp250 ribu. Harga tersebut bisa menjadi rujukan bagi para pengunjung untuk dapat membelinya.
“Kitong (kita) sudah terbiasa berjualan seperti ini, berada di tempat-tempat yang tidak biasanya ditempati oleh pedagang. Tetapi, kitong tetap bersyukur bisa berjualan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” katanya.
Pengunjung Festival Danau Sentani, Maxi Yaas, 38 tahun, mengaku sangat iba melihat kondisi para pedagang lokal yang berjualan di sepanjang jalan masuk kawasan Pantai Wisata Khalkote Sentani itu.
“Seharusnya ada tempat yang disediakan bagi para pedagang atau UMKM lokal kita untuk menjual hasil karya mereka. Kita bicara Otsus setiap hari, tetapi implementasinya bagi kita sendiri tidak terlaksana,” ujarnya.
Penjual noken di trotoar jalan masuk kawasan Festival Danau Sentani terdiri dari perajut noken dengan bahan asli kulit pohon berjumlah 9 pedagang, yang menjual noken berbahan benang 11 pedagang, noken dengan bahan kulit kayu yang sudah diukir 17 pedagang.
Sementara di dalam kawasan FDS, di beberapa stan ada pajangan noken dengan berbagai jenis, baik rajutan benang maupun kulit kayu. (*)





















Discussion about this post