Sentani, Jubi – Pesan segelas kopi dengan menggunakan bahasa isyarat, seperti yang biasa digunakan seseorang Tuli, merupakan satu dari beberapa keunikan yang bisa ditemukan di arena Festival Danau Sentani (FDS) 2024.
Keunikan itu dihadirkan Komunitas Tuli Jayapura (KTJ) dengan membuka kafe kopi bernama ‘Kopi Tuli’ di stan FDS XIV yang digelar di kawasan Pantai Wisata Khalkote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua selama lima hari, 19-23 Juni 2024.
KTJ baru membuka stan pada hari kedua. Hari pertama pembukaan FDS belum buka, karena lagi mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke stan.
David Rumbewas, 23 tahun, anggota KTJ mengaku sangat senang bisa hadir dan menyaksikan rangkaian acara di FDS, terutama bisa berjumpa dengan banyak orang dan saling berbagi pengalaman.

David menjaga stan ‘Kopi Tuli’ bersama beberapa anggota KTJ lain. Mereka melayani pengunjung yang datang untuk memesan segelas kopi atau membeli hasil kerajinan tangan, seperti noken dan aksesori lainnya.
“Kemarin (hari kedua), David dan teman-teman buka stan di FDS dan langsung mendapatkan tamu yang cukup banyak untuk belajar bahasa isyarat,” ujar Merlin Marweri, translator komunitas Tuli di lokasi pada hari ketiga FDS 2024 pada Jumat (21/6/2024).
Dari 500 stan yang tersebar di arena FDS 2024, stan Komunitas Tuli Jayapura berada tepat pada barisan kedua yang berjejer di halaman depan panggung utama.
David mengatakan mereka yang datang ke ‘Kopi Tuli’ umumnya untuk belajar bahasa isyarat yang diawali dengan pengenalan huruf ‘A hingga Z’ dengan menggunakan sepuluh jari pada kedua tangan mereka. Selanjutnya, penggabungan huruf menjadi kata dan kalimat yang dibantu dengan pengucapan secara perlahan.
Pada hari kedua di arena FDS di Khalkote, menurut David cuaca agak panas, tetapi semangat para pengunjung yang datang terus meningkat. Ia mengatakan sudah ada lima hingga enam orang sejak pagi hingga siang yang memesan kopi.

“David dan lima temannya, meski dalam kondisi seperti ini (Tuli) mereka yang dianggap terbaik dan aktif terlibat dalam berbagai aktivitas manusia normal. Mereka juga menjadi instruktur atau guru bagi adik-adik mereka yang lagi sekolah di SLB di Abepura,” ujar Merlin.
David mengaku dari hasil penjualan kopi pada hari pertama meraka mendapatkan pemasukan Rp200 hingga Rp400 ribu. Kopi Tuli menawarkan tiga rasa kopi, yaitu kopi late, americano, dan kopi tuli. Di stan mereka tersedia alat penggiling kopi, kompor gas, dan alat pendukung lain, seperti lazim digunakan barista kopi.
“Untuk FDS, ini kali pertama mereka (KTJ) bergabung dan membuka stan, harapannya nanti di setiap kesempatan pada ajang seperti ini komunitas tuli bisa dilibatkan kembali,” kata Merlin.
Makanan khas Bali
Stan lain yang unik adalah ‘Paon Sida Karya’. Ini stan yang menyediakan aneka makanan khas Bali. Pemilik stan, Fransiskus France, mengatakan ia sudah berkali-kali terlibat di berbagai acara sejak setahun lalu tinggal bersama keluarganya di Papua. Tetapi membuka stan di Festival Danau Sentani baru pertama kali.
“Nasi ayam khas Bali yang kami sajikan ini baru pertama kali dikenalkan kepada masyarakat di Papua, khususnya di Jayapura, baru awal Januari lalu,” ujarnya kepada Jubi.
Di FDS 2024, ‘Paon Sida Karya’ menyajikan makanan yang semuanya berbahan dasar olahan daging ayam.
Hasil olahan makanan dibungkus dengan daun pisang, karena lebih aman.
Menurutnya daun pisang yang biasa digunakan masyarakat sesungguhnya anti bakteri, karena itu semua makanan khas Bali selalu dibungkus dengan daun pisang.

“Yang biasa orang kenal namanya ayam betutu, tetapi yang ini disediakan di sini nasi campur ayam betutu yang diasap,” ujarnya.
Satu porsi nasi campur ayam betutu dijual Rp35 ribu. Sedangkan sate lilit Rp25 ribu, lawar kacang panjang Rp25 ribu, dan daging ayam dengan kelapa parut Rp35 ribu.
Fransiskus France mengatakan hadir pada kegiatan seperti FDS sebagai jembatan budaya. Ia menceritakan pada hari pertama dan kedua ada beberapa pengunjung yang datang ke arena FDS, pada pagi hari makan di stannya. Kemudian siang juga datang untuk makan.
“Sangat menarik di Papua dan khususnya pada iven FDS saat ini. Seni, budaya, dan juga kulinernya sangat bervariasi dan aneka rasa. Berwisata itu soal alamnya dan itu sangat banyak, tetapi budaya, tentu tidak sama. Budaya Papua tetap budaya Papua, ini yang buat saya tertarik ke sini,” ujarnya.
Ia mengaku sangat kagum dengan antusias pengunjung yang dengan cepat menyukai apa yang sedang ia sajikan dan menjadi menu makanan.
“Bukan soal pendapatan, tetapi saya sangat bangga bisa ada di sini dan mempelajari semua keunikan yang ada di daerah ini. Budaya dan kuliner secara khusus,” ujarnya.
Mungkin, tambahnya, yang perlu menjadi masukan bagi pemerintah daerah adalah literasi kulinernya. “Sehingga diharapkan kuliner dari Papua ini bisa go nasional maupun go internasional,” katanya.
Stan tata rias wajah
Setiap pengunjung yang datang ke arena Festival Danau Sentani 2024, terutama anak muda, merasa ada yang kurang jika tanpa merias wajah. Ada lusinan stan yang menyediakan jasa rias wajah.

Salah satu stan rias wajah adalah milik Mevis Felle. Pada hari pertama, ia berhasil mengantongi Rp800 ribu. Felle merias wajah dengan motif garis ornamen atau ukiran papua berwarna merah, putih, hitam, dan kuning.
“Hitungan rias wajah berdasarkan jumlah warna yang digambar atau dibuatkan pada wajah pengunjung. Satu warna Rp5.000 dan rata-rata yang rias wajah menggunakan empat warna,” ujarnya Felle yang bekerja dibantu dua rekannya.
Bahan dasarnya adalah cat asturo yang dikhususkan untuk ‘body panting’, sehingga cat yang menempel tidak merusak wajah. Jika ingin menghilangkan gambar cukup menghapus dengan air.
“Hari ketiga ini agak berkurang pengunjung yang datang dibandingkan hari pertama dan hari kedua. Total pendapatan hari pertama dan kedua mendekati Rp2 juta,” katanya.
Memborong asesori Bob Marley
Stan di FDS 2024 lainnya yang tak kalah menarik adalah yang menjual aksesori legenda musik reggae, Bob Marley. Meri Fainsenem, 23 tahun, pemilik stan mengatakan dua hari sebelumnya produk dan aksesori yang berwarna merah, hijau, kuning atau lazim disebut Rasta Mania itu banyak diborong pengunjung.
“Paling banyak diminati adalah gelang tangan dan baju kaos. Gelang tangan Rp25 ribu hingga Rp50 ribu. Baju kaos tergantung ukuran, dijual Rp250 ribu hingga Rp350 ribu, termasuk kemeja. Dalam dua hari pendapatan kami mencapai Rp2,5 juta,” ujarnya.

Fainsenem mengatakan rata-rata pembeli adalah anak muda yang sekali belanja bisa membeli dua baju dengan gelang tangan. Selain itu juga ada orang tua yang menurutnya mungkin fans Bob Marley sehingga menyempatkan diri untuk membeli kemeja dan baju kaos.
“Ada outlet kami di Kotaraja, Kota Jayapura, tetapi jumlah pengunjung tidak sebanyak saat ini, ini hari ketiga stok di outlet kami juga mulai berkurang dan harus dipesan lagi dari luar Papua,” katanya.
Festival Danau Sentani 2024 setiap hari dibuka pukul 8 pagi dan ditutup pukul 11 malam. Selain stan ada kegiatan berbagai lomba dan atraksi seni. Lomba yang diadakan adalah Lomba Tari Kreasi Modern Balada Cenderawasih, Lomba Suling Tambur, Lomba Fotografi, Lomba Cipta Menu (Memasak Kuliner Khas Papua), dan Pemilihan Putra-Putri FDS 2024
Sedangkan atraksi seni di antaranya Pertunjukan Isosolo Darat, Pertunjukan Utama Isosolo 16 kampung, Hiburan Talent, Tarian Tradisional, Tarian Kreasi Daerah, Pentas Budaya Nusantara, Volksong, Yosim Pancar, Cerita Rakyat, Suling Tambur, dan Musik Akustik Papua.
Sebanyak 500 stan UMKM menampilkan berbagai macam produk serta layanan kafe dan jasa lainnya. Selain itu ada stan bangunan permanen yang diisi 19 pemerintah distrik, 139 kampung, dan 42 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Jayapura. (*)





















Discussion about this post