Sentani, Jubi – Welmins Tukayo, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dan dosen meraup jutaan rupiah dalam sehari, dengan berjualan es krim berbahan dasar sagu selama pelaksanaan Festival Danau Sentani (FDS) ke-15, di kawasan wisata Pantai Kalkote, Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.
Pra Festival Danau Sentani berlangsung pada 25–29 Agustus 2026, dan puncak festival pada 3–5 September 2026.
Welmins Tukayo merupakan ASN di Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Ia juga mengajar sebagai dosen di Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura dan Politeknik Kesehatan atau Poltekkes Kemenkes Jayapura.
Namun, status sebagai ASN dan dosen tidak membuat Welmins gengsi mendorong gerobak, untuk menjual es krim sagu di tengah keramaian Festival Danau Sentani.
Welmins Tukayo mengatakan, ia berjualan es krim berbahan dasar sagu di FDS untuk memotivasi anak-anak muda Papua, agar tidak malu bekerja dan berusaha.
“Hidup itu harus diusahakan dan diperjuangkan,” kata Welmins Tukayo saat ditemui di lokasi FDS XV, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, sikap malu atau gengsi melakukan pekerjaan sederhana menjadi salah satu persoalan yang perlu diubah oleh generasi muda Papua.
Katanya, perkembangan teknologi dan penggunaan telepon seluler membuat sebagian anak muda lebih banyak menghabiskan waktu dengan internet dibandingkan melakukan pekerjaan produktif.
“Untuk bekerja seperti orang-orang tua kita dulu, mereka bilang sudah bukan zamannya. Padahal itu salah,” ujarnya.
Karenanya, Tukayo mendorong gerobak es krim sagu agar anak-anak muda dapat melihat bahwa mencari penghasilan melalui usaha sendiri bukan sesuatu yang memalukan.
“Saya dorong gerobak supaya semua lihat, oh begini cara mencari uang. Asal kita tidak mencuri, itu prinsip,” ucapnya.
Welmins Tukayo menjelaskan, ada beberapa cara untuk mengolah sagu menjadi bahan dasar es krim. Salah satunya, sagu terlebih dahulu diolah menjadi papeda, kemudian dicampur dengan bahan-bahan lain sesuai selera.
Akan tetapi, ia memilih menggunakan sagu mentah yang telah dikeringkan. Sagu tersebut kemudian disangrai menggunakan wajan hingga berubah warna menjadi kemerahan.
Setelah sagu disangrai, kemudian dicampur dengan bahan-bahan lainnya sebelum dimasukkan ke dalam freezer hingga menjadi es krim.
“Dari sagu yang mentah dan kering, saya jemur sampai kering. Setelah itu saya sangrai di wajan yang panas sampai kemerah-merahan. Kemudian dimix dengan bahan-bahan lain dan tidak perlu dimasak sampai mendidih lagi. Setelah itu ditaruh di freezer,” jelasnya.
Welmins Tukayo mengatakan, FDS memberikan dampak ekonomi bagi dirinya. Ia mengaku sudah tiga kali mengikuti FDS dengan menjual es krim sagu.
Saat suasana festival ramai, satu gerobak es krim yang dibawanya dapat terjual sekira 700–800 mangkuk dalam sehari. Harga per mangkuk Rp10.000. Omzet kotor yang diperoleh dapat mencapai Rp7 juta hingga Rp8 juta sehari, apabila seluruh dagangannya habis terjual.
“Kalau satu gerobak habis, biasa 700 mangkuk lebih. Satu mangkuk Rp10.000. Kalau 800 porsi, sekitar Rp8 juta. Paling kasar Rp7 juta per hari,” katanya.
Menurut Tukayo, dalam kondisi tertentu, ia bahkan bisa menghabiskan hingga dua gerobak es krim sehari. Sementara pada hari-hari biasa di luar festival, penjualannya jauh lebih rendah. Satu gerobak belum tentu habis dan terkadang pendapatannya hanya sekitar Rp200 ribu.
Selama pelaksanaan FDS XV, Welmins Tukayo mengaku sudah menjual sekitar lima gerobak es krim sagu.
Ia berharap pun, pelaksanaan FDS tidak hanya menjadi ajang hiburan dan promosi budaya, juga terus memberikan ruang bagi masyarakat Papua untuk mendapatkan manfaat ekonomi.
“Terima kasih untuk pemerintah karena FDS ini banyak memberikan kami penghasilan,” ujarnya.
Welmins Tukayo menegaskan, sagu bukan hanya bagian dari pangan lokal dan budaya Papua, juga memiliki potensi ekonomi apabila diolah secara kreatif menjadi produk yang diminati masyarakat.
Ia berharap anak-anak muda Papua berani memulai usaha, memanfaatkan potensi lokal, dan tidak menganggap pekerjaan sebagai sesuatu yang memalukan.
Es krim sagu buatan Welmins Tukayo pun menarik minat pengunjung FDS. Salah satunya Anita Fitowin, remaja yang mengaku sudah beberapa kali mengunjungi lokasi FDS XV, saat pra-festival maupun puncak festival.
Anita Fitowin mengaku, hampir lima kali mengunjungi lokasi festival selama rangkaian FDS XV berlangsung. Saat berkunjung, ia tertarik membeli es krim sagu buatan Welmins Tukayo bersama suaminya.
Menurut Fitowin, es krim tersebut memiliki rasa yang enak dan cocok dinikmati saat cuaca panas pada siang hari. “Enak sekali es krimnya. Apalagi kalau siang panas, enak minum es krim,” kata Anita Fitowin.
Ia berharap, es krim berbahan dasar sagu tersebut tidak hanya dijual selama FDS, juga tersedia di tempat-tempat lain sehingga masyarakat lebih mudah membelinya. (*)























Discussion about this post